Kader Golkar Semarang Anang Budi Utomo Ikut Penjaringan Cakada Lewat PDIP

- Anang resmi ikuti penjaringan cakada PDIP, ingin majukan Semarang sebagai wakil walikota.
- Menyerahkan surat tugas fungsionaris bakal calon wakil wali kota ke DPD Partai Golkar Kota Semarang.
- Akan mengikuti ketentuan mekanisme dan aturan yang berlaku dari Golkar dan PDIP.
Semarang, IDN Times - Wakil Ketua DPD Golkar Kota Semarang, Anang Budi Utomo telah secara resmi mengikuti proses penjaringan bakal calon kepala daerah (cakada) melalui PDIP.
Anang yang dikenal sebagai caleg Golkar yang terpilih dalam Pileg 2024 mengaku ingin meningkatkan kapasitasnya sebagai politisi untuk mencalonkan diri sebagai wakil walikota Semarang.
"Kemarin ikut kontestasi pemilihan legislatif 2024, saya juga terpilih. Kami mohon doa restu kepada masyarakat semoga ikhtiar dari saya ini mendapat petunjuk dan ridho dari Allah," kata Anang, Minggu (12/5/2024).
1. Anang ikut maju Pilwakot lewat Golkar dan PDIP

Anang menyerahkan surat tugas fungsionaris bakal calon wakil wali kota ke DPD Partai Golkar Kota Semarang, Sabtu (11/5/2024).
Anang menjelaskan, pengambilan formulir pendaftaran calon wakil wali kota melalui PDIP merupakan proses untuk memajukan Kota Semarang.
Ia berkata setidaknya dengan mencalonkan sebagai wakil wali kota Semarang, dirinya bisa meningkatkan kiprahnya lebih tinggi karena selama ini sudah menjadi anggota DPRD selama 15 tahun.
"Saya juga ada surat tugas dari DPP Golkar sebagai calon wakil wali kota," paparnya.
2. Ikuti mekanisme aturan main

Ia pun menyerahkan segala keputusan akhir dari Golkar dan PDIP untuk menentukan siapa sosok calon wakil walikota yang layak disandingkan bersama calon walikota di Pilwakot Semarang.
"Kami akan mengikuti ketentuan mekanisme dan aturan yang berlaku," akunya.
3. Golkar respons pencalonan Anang

Sedangkan, Ketua DPD II Golkar Kota Semarang, Erry Sadewo menyampaikan bahwa tak masalah jika Anang mendaftar lewat dua partai. Karena yang pasti Anang tetap merupakan kader loyal Partai Golkar.
"Secara pribadi tidak apa-apa, tidak masalah. Tidak melanggar etika berpolitik," kata Erry.



















