Kemendikdasmen: 75 Persen Remaja Indonesia Lemah Membaca

- Kemendikdasmen mencatat 75 persen remaja usia 15 tahun memiliki kemampuan membaca di bawah standar dan kesulitan memahami gagasan utama teks panjang, dengan disparitas pendidikan Barat-Timur.
- Sebanyak 82 persen anak usia 15 tahun kesulitan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kemendikdasmen menggiatkan gerakan numerasi nasional, termasuk penggunaan coding dan deep learning.
- Pengaruh gadget, media sosial, serta fokus guru pada target kurikulum memicu schooling without learning. Pemerintah mengevaluasi bahan bacaan dan mengembangkan buku menarik bermuatan STEM.
Semarang, IDN Times -Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebagian besar anak remaja di Indonesia tidak memiliki kemampuan membaca yang mumpuni.
1. Indonesia mengalami disparitas pendidikan yang kentara

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen Moch Abduh. (IDN Times/Fariz Fardianto) Dalam paparan yang disampaikan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen Moch Abduh dalam ajang Youth Summit 2026 di Hotel Santika Premiere Semarang, yang terjadi justru sekitar 75 persen anak usia 15 tahun di Indonesia memiliki kemampuan membaca di bawah standar.
Berdasarkan kajian yang disampaikan Abduh diketahui bahwa rata-rata remaja era masa kini kesulitan memahami gagasan utama dari teks panjang.
"Di Indonesia juga mengalami disparitas pendidikan yang sangat kentara antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Untuk Indonesia bagian timur perlu mendapat perhatian serius," ungkapnya.
2. Kemendikdasmen giatkan gerakan numerasi nasional

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen Moch Abduh dalam ajang Youth Summit 2026 di Hotel Santika Premiere Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto) Maka dari itu, pihaknya saat ini sedang menggiatkan program gerakan numerasi nasional sebagai upaya membangkitkan nalar kritis dan kreativitas anak-anak Indonesia dalam memahami pelajaran yang diperoleh di tiap sekolah.
Gerakan ini, katanya penting untuk dikolaborasikan bersama-sama terutama agar anak-anak lebih gampang memahami teks-teks pelajaran matematika yang diajarkan guru.
Tercatat dalam kajian Kemendikdasmen, ada 82 persen anak usia 15 tahun di Indonesia kesulitan memahami aplikasi matematika persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
"Karena matematika sampai sekarang jadi pelajaran momok. Maka kita akan lakukan gerakan numerasi supaya matematika jadi pelajaran yang menyenangkan. Sehingga penggunaan coding dan deep learning akan diutamakan," terangnya.
3. Muncul fenomena schooling without learning di sekolah

Sekelompok siswa SD juga antusias mengikuti lomba gobak sodor yang jadi salah satu permainan tradisional yang ditampilkan dalam Festival Dolanan Bocah Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (Unnes). (IDN Times/Fariz Fardianto) Ia menuturkan dengan masifnya pengaruh gadget dan media sosial (medsos) yang ada saat ini membuat setiap anak menjadi kesulitan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ditambah lagi dengan munculnya fenomena schooling without learning dengan posisi para guru lebih sibuk mengejar target kurikulum, katanya maka anak-anak tidak pernah lagi memperoleh pembelajaran yang bermakna.
"Anak generasi sekarang tidak sama dengan generasi dulu. Sekarang itu muncul fenomena di sekolah yang dinamakan schooling without learning. Karena guru-gurunya sibuk dengan konsentrasi target kurikulum, jadinya siswa sekarang mudah menyerah, rasa keputus asaannya lebih tinggi. Sebab anak tidak pernah diberikan konsep pembelajaran bermakna," kata Abduh.
Guna membenahi budaya membaca yang terus menurun, pemerintah turut mengevaluasi ketersediaan bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan anak zaman sekarang.
Saat ini, Kemendikdasmen sedang mengembangkan penyediaan buku-buku yang lebih menarik dan bermuatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).






















