Semarang, IDN Times – Karier seorang lulusan kedokteran seringkali diidentikkan dengan jas putih di dalam ruang praktik rumah sakit atau klinik. Namun, stereotip ini dipatahkan oleh dokter Widagdo, Ph.D.
Kisah Dokter Widagdo Pilih Riset hingga Pimpin Uji Klinis Vaksin Dunia

1. Lulusan Fakultas Kedokteran Undip
Bermodal ijazah pendidikan kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Widagdo mampu bersaing di kancah Eropa sebagai ilmuwan yang memimpin uji klinis obat dan vaksin di industri farmasi internasional.
Saat ini,Widagdo yang juga lulusan Magister Konseling Genetik FK Undip itu memegang posisi strategis sebagai Clinical Science Lead & Associate Director di GlaxoSmithKline (GSK), salah satu raksasa farmasi dunia yang berbasis di Eropa. Rekam jejaknya tidak main-main. Ia terlibat langsung dalam pengembangan vaksin COVID-19 saat pandemik melanda, dan kini sukses mengawal lisensi vaksin Respiratory Syncytial Virus (RSV) yang telah digunakan di lebih dari 30 negara untuk lansia.
Setelah menetap di Eropa selama lebih dari sepuluh tahun, Widagdo mengaku kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya FK Undip, memiliki daya saing yang sangat kuat di kancah internasional.
"Kalau ngomongin kualitas pendidikan, kita sebenarnya tidak kalah dari luar negeri. Dari level pemahaman dan pengetahuan, saya tidak pernah sekalipun merasa tertinggal," tegas dr. Widagdo.
2. Pilih jalan sunyi sebagai peneliti
Alih-alih mengambil jalur penyetaraan profesi dokter di Eropa yang memakan waktu hingga lima tahun, ia memilih jalan sunyi sebagai peneliti. Setelah menyelesaikan master di Belanda dan meraih gelar Doktor (Ph.D.) bidang Virologi di Erasmus University, ia mengambil program fellowship riset di industri farmasi global. Langkah berani inilah yang membuka jalannya memimpin tim internasional dalam menguji keamanan dan efektivitas produk medis sebelum dilempar ke pasar global.
Menurut Widagdo, alasannya memilih menjadi peneliti karena ia menyoroti satu pekerjaan rumah besar yang masih dihadapi Indonesia, yakni penguatan ekosistem riset yang berkelanjutan. Ia berpendapat riset harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek sesaat.
“Riset itu investasi. Hasilnya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi bisa memberikan dampak besar lima sampai sepuluh tahun ke depan,” terangnya.
Meski telah lama berkarier di luar negeri, keinginannya untuk berkontribusi bagi Indonesia tidak pernah surut. Ia masih aktif berbagi pengalaman dan mengajar di lingkungan FK Undip ketika memiliki kesempatan.
Bagi Widagdo, banyak talenta Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk menembus karier global serupa. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan akses terhadap informasi, jejaring, dan kesempatan.
3. Talenta lokal mampu bersaing di kancah global
“Saya pikir banyak orang Indonesia yang bisa berkarier di posisi saya. Ini hanya masalah akses, kesempatan, dan pengetahuan bahwa jalur karier seperti ini ada,” ujarnya.
Kepada mahasiswa, ia berpesan agar berani mengambil jalan yang berbeda dan tidak membatasi mimpi hanya pada pilihan karier yang umum.
“Dunia itu besar. Jangan berpikir kecil. Kalau kamu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-teman sebaya, selama kamu melakukan sesuatu yang kamu cintai dan memberi manfaat bagi orang di sekitarmu, itu tetaplah jalan yang baik,” pesannya.
Kisah dokter Widagdo menunjukkan bahwa perjalanan dari ruang kuliah di Semarang dapat berujung pada ruang-ruang pengambilan keputusan kesehatan global.
Saat kebutuhan Indonesia memperkuat kemandirian riset dan inovasi kesehatan, kiprahnya menjadi pengingat bahwa talenta lokal mampu menjadi bagian penting dalam pengembangan obat dan vaksin yang berdampak bagi jutaan orang di seluruh dunia.