Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Lantai Tiba-tiba Berkeringat di Cuaca Kering? Bukan Mistis, Ini Penjelasannya

Lantai Tiba-tiba Berkeringat di Cuaca Kering? Bukan Mistis, Ini Penjelasannya
ilustrasi lantai basah (freepik.com/jannoon028)
Intinya Sih
  • Fenomena lantai rumah berkeringat disebabkan oleh kondensasi, ketika udara hangat dan lembap menyentuh permukaan ubin dingin sehingga uap air berubah menjadi titik-titik air.
  • Kelembaban udara tinggi di Indonesia membuat proses pengembunan lebih cepat terjadi, terutama saat udara dalam ruangan terperangkap tanpa sirkulasi yang baik.
  • Material seperti keramik, marmer, dan granit mudah menahan suhu dingin serta memiliki porositas rendah, menyebabkan air hasil kondensasi menggenang di permukaan lantai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernahkah kalian mendapati lantai keramik atau marmer di dalam rumah tiba-tiba basah dan berminyak seperti "berkeringat", padahal kondisi cuaca di luar sedang kemarau kering? Bagi sebagian orang yang masih percaya mitos, fenomena rembesan air misterius ini sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis, mulai dari tanda keberadaan makhluk halus hingga pusaka gaib yang tertanam di bawah pondasi rumah.

Eits, jangan panik dulu lalu buru-buru panggil dukun ya, Lur! Fenomena lantai rumah berkeringat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia gaib. Di dalam dunia sains, kondisi ini adalah hal yang sangat wajar terjadi dan memiliki penjelasan ilmiah yang sangat logis.

Biar gak gagal paham dan parno sendirian, yuk simak penjelasan ilmiah di balik fenomena lantai rumah tiba-tiba berkeringat berikut ini!

1. Terjadinya Fenomena Kondensasi (Efek Gelas Es)

ilustrasi peringatan lantai basah (unsplash.com/@teckhonc)
ilustrasi peringatan lantai basah (unsplash.com/@teckhonc)

Penyebab utama lantai rumah berkeringat adalah fenomena fisika dasar yang disebut kondensasi atau pengembunan. Prinsip kerjanya persis sama seperti saat Sedulur menuangkan air es ke dalam gelas kaca.

Perbedaan Suhu Ekstrem: Saat musim kemarau atau musim bediding, suhu tanah di bawah pondasi rumah cenderung menjadi sangat dingin pada malam hari. Suhu dingin ini merambat naik dan membuat permukaan ubin atau keramik rumah ikut mendingin.

Udara Hangat Menyentuh Lantai: Ketika memasuki siang atau sore hari, udara di dalam ruangan berubah menjadi lebih hangat. Saat udara hangat dan lembap tersebut bersentuhan langsung dengan permukaan lantai yang bersuhu dingin, uap air di udara otomatis akan mencair dan berubah menjadi titik-titik air. Itulah yang membuat lantai terlihat basah kuyup.

2. Tingginya Kelembaban Udara Relatif (Relative Humidity)

Lantai keramik
ilustrasi nat lantai keramik (freepik.com/rawpixel.com)

Meskipun cuaca di luar tampak gersang tanpa hujan, Indonesia sebagai negara tropis sebenarnya memiliki tingkat kelembaban udara relatif yang tetap tinggi sepanjang tahun, sering kali berada di atas 70% hingga 80%.

Uap Air yang Terperangkap: Udara di dalam rumah menampung banyak uap air tak kasat mata dari aktivitas harian seperti memasak, menjemur pakaian di dalam ruangan, hingga embusan napas penghuni rumah.

Titik Embun (Dew Point): Ketika kelembaban udara tinggi ini bertemu dengan ubin yang dingin, udara mencapai "titik embun"-nya lebih cepat. Akibatnya, pelepasan uap air menjadi cairan terjadi secara masif di atas lantai rumahmu, Lur.

3. Karakteristik Material Ubin (Keramik, Marmer, dan Granit)

Lantai keramik
ilustrasi lantai keramik (freepik.com/freepik)

Jenis material penutup lantai yang Sedulur gunakan di rumah juga memegang peranan penting mengapa fenomena "berkeringat" ini bisa terjadi.

Konduktor Suhu yang Baik: Material seperti keramik, marmer, dan granit adalah bahan yang sangat baik dalam menyerap dan mempertahankan suhu dingin dari dalam tanah.

Porositas Rendah: Keramik modern umumnya memiliki pori-pori yang sangat rapat (porositas rendah). Karena air tidak bisa terserap ke dalam ubin, titik-titik air hasil pengembunan tersebut akhirnya menggenang dan tertahan di permukaan atas lantai.

4. Efek Kurangnya Sirkulasi Udara dan Isolasi Lantai yang Buruk

ilustrasi lantai keramik motif geometris (pexels.con/Magda Ehlers)
ilustrasi lantai keramik motif geometris (pexels.con/Magda Ehlers)

Kondisi konstruksi rumah yang kurang ideal bisa memperparah genangan air di atas lantai ini, Lur.

Rumah Terlalu Tertutup: Ruangan yang jarang dibuka atau tidak memiliki ventilasi silang yang baik membuat udara lembap terjebak di dalam rumah dalam waktu lama, memperpanjang proses kondensasi.

Tanpa Lapisan Waterproofing: Jika saat membangun rumah kontraktor tidak memasang lapisan plastik/karpet plastik kedap air di bawah adukan semen ubin, kelembaban alami dari tanah akan terus-menerus merembes naik ke atas permukaan keramik.

Nah, sekarang sudah tahu kan penjelasan ilmiahnya, Sedulur? Jadi, kalau lantai rumah tiba-tiba basah saat cuaca kering, jangan lagi dikaitkan dengan mistis ya. Yuk, bagikan info taktis ini ke keluarga dan tetangga biar gak ada lagi yang parno sendirian, Lur!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More