Semarang, IDN Times - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan Sustainable Development Goals (SDGs) yang selama ini menjadi program unggulan negara-negara maju dan berkembang sebetulnya telah dilaksanakan bangsa Indonesia sejak bertahun-tahun lamanya.
"Ternyata Indonesia juga sudah menyadari ketika punya Kementerian Lingkungan Hidup yang waktu itu dijabat Bapak Emil Salim. Yang mana dari SDGs global, ternyata juga sejalan dengan kearifan lokal," kata Rachmat ketika memaparkan orasi ilmiahnya di sela pengukuhan anugerah upakarti di Auditorium Prof Wuryanto, kampus Unnes Gunungpati, Senin (8/7/2026).
Ia mengungkapkan nilai-nilai keberlanjutan juga bukanlah gagasan baru yang didengungkan di Indonesia. Sebab, banyak perguruan tinggi termasuk Unnes kerap menerapkan nilai keberlanjutan dalam kehidupan kesehariannya di kampus.
"Yang dilakukan Unnes juga dilakukan negara-negara maju di dunia," ungkapnya.
Selain itu, banyak kata-kata filosofi kehidupan masyarakat Jawa juga selaras dengan konsep SDGs yang kini sedang dijalankan oleh sejumlah program pemerintah.
Ia mencontohkan bahwa memayu hayuning bawono sebetulnya punya makna mendalam yang berkaitan erat dengan nilai-nilai SDGs.
Sehingga pihaknya mendorong kepada masyarakat untuk nguri-nguri filosofi Jawa tersebut. Karena bisa ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kita punya konsep memayu hayuning bawono yang selaras dengan konsep SDGs. Jadi artinya, SDGs bukan sesuatu yang asing bagi kehidupan kita. Karena hayuning bawono tidak hanya mengajarkan hubungan antar manusia tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan dan alam semesta," bebernya.
Sejalan dengan perubahan zaman yang begitu pesat, katanya bangsa Indonesia menghadapi tiga tantangan. Di antaranya tantangan ekologis global, perubahan iklim, tantangan keuangan dan sosial.
Indonesia kini hampir dihuni penduduk ratusan juta. Indonesia dslam hal ini Bappenas menjadi Seknas mencapai capaian SDGs diatas 60 persen.
"Oleh karenanya, Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Untuk menjawab tantangan perubahan iklim, pemerintah mendorong sektor perikanan pesisir, penguatan tata ruang berbasis industri harus diterapkan dengan baik," jelasnya.
Rektor Unnes Prof S Martono dalam laman resmi Unnes menegaskan bahwa kampusnya terus menunjukkan peningkatan kinerja pada berbagai indikator pendidikan tinggi, termasuk penguatan reputasi akademik di tingkat internasional.
Hal tersebut tercermin dari posisi Unnes yang terus meningkat dalam berbagai pemeringkatan perguruan tinggi dunia (World University Ranking).
"Unnes terus berkomitmen menghadirkan pendidikan berkualitas, penelitian yang relevan, serta pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak nyata. Berbagai capaian yang diraih merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dan dukungan para mitra yang senantiasa membersamai perjalanan Unnes,” ujarnya.
