Penurunan Harga Pangan dan Tembakau Bikin Jateng Deflasi 0,03 Persen di April

- Provinsi Jawa Tengah mencatat deflasi 0,03 persen pada April 2026, terutama akibat turunnya harga daging ayam ras dan komoditas pangan pasca Lebaran.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi tertinggi 0,78 persen, sementara kelompok restoran serta jasa keuangan masih mencatat inflasi yang menahan penurunan harga lebih dalam.
- Daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama deflasi; inflasi tertinggi tercatat di Kota Tegal sebesar 2,30 persen dan terendah di Kabupaten Wonosobo sebesar 1,76 persen.
Semarang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen di bulan April 2026 secara bulanan. Adapun, salah satu komoditas yang menyumbang deflasi adalah daging ayam ras.
1. Penurunan harga di kelompok makanan, minuman dan tembakau

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said mengatakan, deflasi bulan April 2026 itu jauh lebih rendah dibandingkan bulan Maret 2026 dengan inflasi mencapai 0,57 persen. Sedangkan, inflasi tahun ke tahun sebesar 2,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,03.
‘’Deflasi pada bulan April 2026 didorong oleh penurunan harga di kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami deflasi sebesar 0,78 persen dengan andil deflasi 0,22 persen,’’ ungkapnya dalam siaran daring, Senin (4/5/2026).
Menurut Ali, penurunan ini sejalan dengan normalisasi harga sejumlah komoditas pangan pada pasca lebaran seperti daging dan telor ayam ras. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil deflasi 0,04 persen dengan tingkat deflasi 0,59 persen yang didorong oleh penurunan emas perhiasan.
2. Perkembangan harga di Jateng alami tekanan inflasi

Adapun di sisi lain, sejumlah kelompok pengeluaran lain masih mengalami inflasi dan menahan laju deflasi lebih dalam. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,09 persen dengan tingkat inflasi 0,80 persen. Kemudian, diikuti oleh kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,87 persen dengan andil sebesar 0,05 persen.
‘’Secara umum, perkembangan harga di Jateng mengalami tekanan inflasi yang berasal dari sisi biaya dan faktor global, tapi diredam oleh faktor musiman berupa normalisasi permintaan dan perbaikan pasokan pasca lebaran,’’ terang Ali.
3. Inflasi tertinggi di Kota Tegal

Untuk diketahui, daging ayam ras, telor ayam ras dan cabai rawit menjadi penyumbang utama deflasi bulan April 2026. Kemudian, tarif angkutan antar kota yang kembali normal pasca lebaran. Penurunan harga emas perhiasan juga memberi andil deflasi karena pengaruh pasar global.
Sementara itu, komoditas penyumbang inflasi antara lain minyak goreng, angkutan udara, telepon seluler, laptop dan nasi dengan lauk.
Adapun, inflasi tertinggi terjadi di Kota Tegal sebesar 2,30 persen dengan IHK sebesar 111,79 dan terendah terjadi di Kabupaten Wonosobo sebesar 1,76 persen dengan IHK sebesar 112,93.


















