Ilustrasi digital (pixabay.com/Pexels)
Pada kondisi ancaman dari hadirnya arus globalisasi, langkah konkret ditunjukkan oleh kelompok pemuda penggerak “Sanggar Langen Mudha Santosa” di Dusun Wuluh Nampu. Menyadari kekhawatiran akan tersainginya tradisi khas mereka, para pemuda ini melakukan pendekatan inovatif dengan memanfaatkan produk dari globalisasi itu sendiri, yakni teknologi dan digitalisasi budaya.
Tidak hanya sebatas pada menggelar latihan tari, mereka secara proaktif mendokumentasikan, mengarsipkan sejarah, serta mengemas pementasan seni ke dalam bentuk konten audio-visual kreatif untuk didistribusikan secara masif melalui berbagai platform media sosial dan ruang digital.
Tari Soreng menjadi salah satu potensi kebudayaan yang dilestarikan oleh Masyarakat Dusun Wuluh Nampu hingga saat ini. Tarian khas yang lahir dari kreativitas para seniman tari di kawasan Kabupaten Magelang, lereng Gunung Merbabu, dan Gunung Andong, kesenian ini mulai merambah masuk ke Dusun Wuluh Nampu sekitar tahun 1980-an. Berasal dari namanya, yaitu “suro” dan “ing”, tarian ini menggambarkan sosok prajurit yang selalu menang dimanapun ia berada.
Ketua Kesenian Dusun Wuluh Nampu, Parno, menuturkan bahwa “Tarian yang lahir di wilayah pegunungan dan pelosok desa, membuat gerakan Tari Soreng didominasi oleh tumpuan kaki yang kokoh dan kuat.” Gerakan ini menjadi penggambaran kekuatan fisik masyarakat gunung yang terbiasa bekerja keras dari pagi hingga sore, naik-turun lereng memikul hasil pertanian, ladang, dan kebun.