Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perbedaan Koleksi Museum R.A. Kartini Jepara dan Rembang
Foto RA Kartini di museum RA Kartini, Rembang. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Museum R.A. Kartini Jepara menampilkan masa muda dan awal perjuangan Kartini, dengan koleksi benda keluarga Sosroningrat, surat-surat, serta karya ukiran khas Jepara.
  • Museum R.A. Kartini Rembang berfokus pada kehidupan pribadi Kartini setelah menikah, menampilkan barang-barang asli peninggalannya hingga ruang tempat beliau wafat.
  • Kedua museum saling melengkapi, menggambarkan perjalanan hidup Kartini dari masa pembentukan pemikiran di Jepara hingga pengabdian terakhirnya di Rembang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rembang, IDN Times - Tokoh pahlawan emansipasi wanita, R.A. Kartini, memiliki dua bangunan museum yang berlokasi di Jepara dan Rembang. Perbedaan utama antara kedua museum tersebut terletak pada fokus koleksi serta latar belakang sejarah tempatnya. Keduanya secara langsung mencerminkan dua fase kehidupan yang berbeda dari sang pahlawan.

Berikut adalah rincian perbedaan antara kedua museum tersebut:

1. Museum R.A. Kartini Jepara (Masa Muda dan Perjuangan Awal)

Foto RA Kartini di museum RA Kartini, Rembang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Museum di Jepara menonjolkan sejarah masa kecil, masa remaja, masa pingitan, hingga proses pembentukan pemikiran Kartini di tanah kelahirannya.

  • Lokasi: Berada di kawasan Alun-alun Jepara, tepat di sebelah utara Pendopo Kabupaten Jepara yang menjadi tempat Kartini dilahirkan dan dibesarkan.

  • Fokus Koleksi: Benda peninggalan keluarga Sosroningrat (ayah Kartini), foto keluarga (termasuk Kartini muda dan saudara-saudaranya), meja belajar, serta peralatan tulis untuk berkirim surat dengan sahabat pena. Tersedia juga ragam karya kerajinan ukiran kayu Jepara yang dulu dipromosikan Kartini ke luar negeri, hingga koleksi unik tambahan berupa kerangka ikan raksasa bernama "Joko Tua".

  • Suasana: Memiliki nuansa edukatif umum yang menonjolkan sejarah kedaerahan Jepara, intelektual, dan budaya.

2. Museum R.A. Kartini Rembang (Masa Pernikahan dan Akhir Hayat)

Suasana di depan museum RA Kartini, Rembang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Banyak masyarakat sering bingung mengapa Kartini yang berasal dari Jepara memiliki museum di Rembang. Alasannya, Kartini pindah ke Rembang sesudah menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, pada tahun 1903. Museum ini berfokus pada kehidupan pribadi Kartini sebagai istri, ibu, hingga hari-hari terakhirnya.

  • Lokasi: Menempati bekas rumah dinas Bupati Rembang (Pendopo Kabupaten Rembang) yang menjadi tempat tinggal Kartini sesudah menikah. Di lokasi inilah beliau melahirkan putra satu-satunya, Soesalit, hingga akhirnya wafat pada tahun 1904 dan dimakamkan.

  • Fokus Koleksi: Barang-barang personal dan intim peninggalan Kartini. Pengunjung bisa melihat tempat tidur asli, meja rias, bak mandi (bathtub) keramik, mesin jahit, dan kotak jamu (bothekan). Terdapat juga ruang kamar tempat beliau wafat, tulisan tangan asli naskah "Kongso Adu Jago", serta berbagai lukisan karya Kartini sendiri.

  • Suasana: Terasa lebih emosional, hening, dan "hidup" karena pengunjung masuk langsung ke dalam rumah asli peninggalannya, menyajikan sejarah personal dan romansa tragis.

Ringkasan Perbedaan

Fitur

Museum Jepara

Museum Rembang

Fase Kehidupan

Masa kecil dan remaja (Gadis Jepara)

Masa pernikahan dan menjadi ibu (Istri Bupati)

Bangunan

Gedung museum modern di kompleks Alun-alun

Rumah asli (bekas kediaman dinas)

Koleksi Utama

Foto keluarga, meja belajar, ukiran kayu Jepara

Tempat tidur, meja rias, peralatan rumah tangga, mesin jahit

Nilai Rasa

Sejarah intelektual dan budaya daerah

Sejarah personal dan romansa tragis

Keberadaan museum di dua kota berbeda ini bersifat saling melengkapi. Museum di Jepara didirikan untuk menghormati tanah kelahiran dan awal mula pemikiran emansipasi Kartini, sementara Museum di Rembang hadir untuk mengenang tempat pengabdian terakhir sang pahlawan sebelum wafat.

Editorial Team