Semarang, IDN Times - Rukiyatul hilal atau pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Suro atau Muharram 1448 Hijriah akan digelar di UIN Walisongo Semarang. Pemantauan hilal dilaksanakan di puncak gedung Planetarium UIN Walisongo Senin besok (15/7/2026).
Rukyat Hilal 1 Muharram 1448 H Digelar di UIN Walisongo Semarang

UPT Humas UIN Walisongo menyatakan proses pemantauan hilal digelar menjelang waktu Maghrib.
Sebagai salah satu pusat observasi antariksa universitas terbesar ke-3 di dunia, fasilitas ini menjadi salah satu dari 15 titik rujukan utama pemantauan hilal di wilayah Jawa Tengah.
"Pemantauan ini krusial untuk memastikan secara faktual kapan pergantian tahun kalender Islam dimulai," demikian kata Humas UIN Walisongo dari keterangan yang diterima IDN Times, Minggu (14/7/2026).
Tim ahli falak dan astronomi UIN Walisongo dipastikan mengerahkan sejumlah peralatan modern milik laboratorium sains. Beberapa perangkat yang disiagakan di area dek observasi Lantai 3 antara lain:
Teleskop utama dengan sistem mounting equatorial otomatis.
Theodolite digital untuk mengunci koordinat astronomis bulan secara presisi.
Teknologi pengolahan citra (image processing) yang tersambung ke komputer untuk memperjelas kontras sabit bulan tipis di ufuk barat.
Proses kalibrasi alat (alignment) akan diselesaikan sejak sore hari untuk mengantisipasi dinamika pergerakan objek langit sesaat setelah matahari terbenam.
Berdasarkan data hisab astronomi kontemporer, posisi hilal di ujung barat Indonesia pada 15 Juni 2026 dilaporkan sudah memenuhi kriteria visibilitas.
Kementerian Agama RI sendiri memproyeksikan tanggal 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, pergantian malam tahun baru secara syar'i dimulai tepat saat matahari terbenam pada Senin malam.
Meski begitu, tim teknis di lapangan menggarisbawahi bahwa faktor kondisi atmosfer dan ketebalan awan di wilayah pesisir utara Semarang tetap memegang peranan penting dalam keterlihatan hilal secara visual.
Acara rukyatul hilal ini akan dihadiri oleh perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, serta para akademisi ilmu falak.
Hasil pemantauan baik hilal berhasil terdokumentasi maupun terhalang mendung akan langsung dilaporkan ke Kementerian Agama di Jakarta.


















