Ponsel Ashfiyatul tidak pernah benar-benar jauh dari kompor pagi itu, Minggu (24/5/2026). Perempuan yang akrab disapa Fia tersebut meletakkannya di sudut meja dapur, bersisian dengan catatan pesanan, wadah kemasan, dan wajan berisi cumi hitam yang mulai mengental. Tinta cumi telah menyatu sempurna dengan bumbu, menghasilkan warna pekat dan aroma yang kuat. Sembari tangannya terus mengaduk masakan agar tidak gosong, matanya sesekali mencuri pandang ke layar ponsel.
Di dekatnya, sang anak, Janaki (8), ikut memperhatikan ibunya. Sesekali, anak itu melihat ibunya membersihkan ujung jari, meraih ponsel, lalu mengecek status pengiriman dari ekspedisi JNE (PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir).
“Sudah sampai mana, Buk?” tanya Janaki penasaran.
Fia melirik layarnya dan tersenyum pelan. “Sudah dekat. Tinggal menunggu kurir,” jawabnya.
Setiap suara motor yang melambat di depan rumahnya di Demak, Jawa Tengah, sontak membuat Fia menoleh. Yang sedang ia tunggu bukanlah bahan baku pesanan, pakaian, ataupun perlengkapan dapur, melainkan sebuah paket kecil berisi emas logam mulia Antam. Emas itu dibelinya dari hasil jerih payah menjalankan usaha cumi hitam siap saji selama dua tahun terakhir.
