Tak Kalah Unik dari Ndas Maling! Kisah Rondo Royal, Gorengan Legit Khas Jateng

- Rondo Royal adalah gorengan khas Jawa Tengah berbahan tape singkong yang menawarkan perpaduan rasa manis, asam, dan gurih dengan tekstur luar renyah serta dalam lembut meleleh.
- Nama 'Rondo Royal' berasal dari plesetan bahasa Jawa yang bermakna jenaka, menggambarkan perubahan tape sederhana menjadi jajanan berpenampilan mewah dan berasa melimpah.
- Jajanan ini populer di angkringan sebagai teman wedangan, kini hadir dengan inovasi isian modern seperti cokelat dan keju yang menarik minat generasi muda.
Semarang, IDN Times — Kuliner tradisional Jawa Tengah memang tidak pernah gagal bikin kita geleng-geleng kepala sekaligus tersenyum ya, Lur! Setelah sebelumnya kita dikejutkan dengan keunikan kuliner bernama ekstrem seperti "Ndas Maling", ternyata masih banyak jajanan pasar tradisional lain yang punya penamaan tak kalah nyeleneh. Salah satu yang paling legendaris dan selalu sukses memicu senyum tipis saat memesannya adalah Rondo Royal.
Jangan berpikiran ngeres dulu, Lur! Bagi Sedulur yang belum tahu, Rondo Royal sama sekali tidak ada hubungannya dengan status pernikahan seseorang. Ini adalah nama sebuah gorengan legendaris berbasis tape singkong yang punya cita rasa manis, asam, gurih, dan legit yang berpadu sempurna dalam satu gigitan.
Biar gak penasaran lagi dengan asal-usulnya di tahun 2026 ini, yuk bongkar kisah di balik legitnya Rondo Royal, gorengan unik khas Jateng yang namanya bikin senyum-senyum berikut ini, Lur!
1. Menikmati Sensasi 'Crispy' di Luar dan Meleleh di Dalam

Secara tampilan fisik, Rondo Royal mungkin terlihat sederhana layaknya gorengan pisang atau bakwan pada umumnya. Namun, rahasia kelezatannya terletak pada kontras tekstur dan rasa yang dihadirkan.
Gorengan ini terbuat dari tape singkong (pohung) yang sudah matang sempurna dan bertekstur empuk. Tape tersebut kemudian dibersihkan dari serat bakunya, dibentuk bulat atau lonjong, lalu dicelupkan ke dalam adonan tepung terigu encer yang diberi sedikit garam dan gula.
Proses penggorengan dengan minyak panas membuat bagian kulit luar tepung menjadi sangat renyah (crispy) dan gurih. Begitu Sedulur menggigitnya, bagian dalam yang berupa tape hangat langsung meleleh di lidah, mengeluarkan sensasi rasa manis-asam yang sangat khas dan memanjakan cecap rasa.
2. Filosofi di Balik Nama 'Rondo Royal' yang Mengundang Tawa

Lantas, mengapa gorengan tape ini dinamakan Rondo Royal? Dalam bahasa Jawa, rondo berarti janda, sedangkan royal (diserap dari bahasa Inggris atau diartikan secara lokal) merujuk pada sifat loman, boros, atau mewah. Ada dua versi sejarah lisan yang berkembang di masyarakat Jawa Tengah mengenai penamaan unik ini:
Konon, tape singkong pada zaman dulu dianggap sebagai makanan kelas bawah yang murah meriah. Namun, ketika digoreng menggunakan selimut tepung, penampilannya berubah menjadi tampak cantik, berisi, tebal, dan terlihat "mewah" (royal). Dari sinilah istilah plesetan itu muncul sebagai bentuk humor khas wong jowo.
Versi lain menyebutkan bahwa nama ini sebenarnya adalah sebuah kerata basa (singkatan) dari frasa "rodo kenyol-kenyol rasane royal" (agak kenyal-kenyal tapi rasanya mewah/melimpah). Seiring berjalannya waktu, lidah masyarakat lokal menyederhanakannya menjadi "Rondo Royal" agar lebih mudah diingat dan memancing daya tarik pembeli.
3. Teman Setia Wedangan dan Evolusi Rasa di Era Modern

Rondo Royal adalah jajanan lintas generasi yang tidak pernah kehilangan penggemar. Di wilayah Solo Raya dan Yogyakarta, gorengan ini menjadi salah satu menu wajib yang wajib nampang di gerobak-gerobak angkringan atau HIK (Hidangan Istimewa Kampung).
Kenikmatan hakiki dari menyantap Rondo Royal adalah menjadikannya teman pendamping saat wedangan (minum teh hangat nasgitel—panas, legi, kenthel—atau kopi hitam) di sore hari yang syahdu.
Mengikuti perkembangan zaman, kini Rondo Royal tidak hanya disajikan original polos saja. Banyak kreativitas kuliner lokal yang memodifikasinya dengan menambahkan isian cokelat meleleh, keju parut, hingga selai stroberi di bagian dalamnya. Transformasi ini sukses membuat jajanan pasar tradisional ini naik kelas dan digandrungi oleh anak-anak muda zaman sekarang.
Nah, itulah kisah unik dan filosofi jenaka di balik legitnya Sate Kere... eh, maksudnya Rondo Royal khas Jawa Tengah! Sebuah bukti nyata bahwa kuliner tradisional kita tidak hanya kaya akan rasa, tetapi juga kaya akan humor dan kreativitas budaya. Selamat berburu Rondo Royal di angkringan terdekat nanti malam dan salam lestari kuliner Nusantara, Sedulur!














![[WANSUS] Dari Pensiun Dini PLTU hingga PLTS Atap: Mengupas Sengkarut Bisnis Energi di Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20251126/upload_dac0e8c81162d1e32b863a3061dc130e_00df1b11-74a1-4d6b-b0c0-5e5da9a0d779.jpg)

![[WANSUS] Blak-blakan KNEKS di Jateng: Kaus Kaki Halal sampai Wisata Ramah Muslim yang Diminati](https://image.idntimes.com/post/20260806/h8nbhi9ubk813x2ho8y25cdg4_34d3e394-98a2-4477-96b4-239429d4e65f_watermarked_idntimes-2.jpg)






