Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Semarang, Ini 7 Hal Penting Agar Tetap Sehat Saat Musim Kemarau
Ilustrasi Musim Kemarau (pexels.com/Brett Sayles)
  • Dinkes Kota Semarang mengingatkan kemarau meningkatkan risiko dehidrasi, paparan panas, penyakit nyamuk, kebakaran, dan gangguan kualitas udara; warga diminta beradaptasi sebelum sakit.
  • Warga dianjurkan minum air putih minimal delapan gelas sehari, menghemat serta menjaga penampungan air tetap bersih-tertutup, makan bergizi, cukup istirahat, dan mengatur aktivitas luar ruangan.
  • Pencegahan mencakup 3M Plus untuk DBD, tidak membakar sampah atau lahan, memakai payung atau topi saat terik, serta menjaga ventilasi dan kelembapan rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2026

Pemkot Semarang meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemarau karena risiko kebakaran, kekeringan, dan penurunan kualitas udara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dinas Kesehatan Kota Semarang mengimbau warga menerapkan tujuh langkah menjaga kesehatan dan lingkungan selama musim kemarau, termasuk mencukupi cairan, menghemat air bersih, mencegah DBD, serta menghindari pembakaran sampah.
  • Who?
    Dinas Kesehatan Kota Semarang menyampaikan imbauan kepada warga Semarang. Pemerintah Kota Semarang juga meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran, kekeringan, dan penurunan kualitas udara pada kemarau 2026.
  • Where?
    Imbauan berlaku bagi masyarakat di Kota Semarang, termasuk di rumah, lingkungan sekitar, serta lokasi aktivitas luar ruangan yang terpapar panas matahari.
  • When?
    Imbauan disampaikan untuk menghadapi musim kemarau dan peningkatan kewaspadaan Pemerintah Kota Semarang pada kemarau 2026.
  • Why?
    Langkah ini ditujukan mengurangi risiko dehidrasi, kekurangan air bersih, paparan panas, demam berdarah dengue, kebakaran, gangguan kualitas udara, dan masalah kenyamanan serta kelembapan di dalam rumah.
  • How?
    Warga diminta minum air putih, menjaga penampungan air bersih, memakai topi atau payung, beristirahat cukup, menjalankan 3M Plus, tidak membakar sampah, serta membuka ventilasi dan menanam tanaman hijau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dinas Kesehatan Semarang mengingatkan warga saat musim kemarau. Kita harus minum air putih, hemat air, dan tutup tempat air supaya nyamuk tidak datang. Kalau panas, pakai topi atau payung dan jangan lama-lama di luar. Jangan bakar sampah. Rumah juga perlu udara pagi supaya nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Materi edukasi Dinkes Kota Semarang menunjukkan bahwa musim kemarau dapat dihadapi melalui kebiasaan sehari-hari yang jelas dan saling mendukung. Perhatian pada minum cukup, penggunaan air bersih secara bijak, pengaturan aktivitas, pencegahan nyamuk dan asap, serta ventilasi rumah memberi warga panduan praktis untuk menjaga diri sekaligus lingkungan sekitar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Musim kemarau bukan sekadar membuat udara terasa lebih panas dan tenggorokan cepat kering. Sebab, dari balik cuaca terik dan udara kering, ada sejumlah risiko kesehatan yang bisa meningkat, mulai dari dehidrasi, penyakit akibat nyamuk, paparan panas, hingga gangguan akibat kualitas udara.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengingatkan warga agar tidak menunggu sakit untuk mulai beradaptasi dengan kondisi kemarau. Dalam materi edukasi yang dibagikan, warga diminta memperhatikan tujuh hal penting untuk menjaga kesehatan sekaligus lingkungan selama musim kemarau. Apa saja itu, simak penjelasan dari Dinkes Kota Semarang berikut.

1. Jangan tunggu haus untuk minum

Ilustrasi minum air (pexels.com / Maurício Mascaro)

Risiko paling sederhana tetapi sering disepelekan saat kemarau adalah kekurangan cairan tubuh. Dinkes menyarankan masyarakat mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih, dengan materi edukasinya menyebut minimal delapan gelas sehari untuk membantu mencegah dehidrasi.

Namun, kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama. Mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, berkeringat lebih banyak, atau berada dalam kondisi tertentu dapat membutuhkan asupan cairan lebih banyak. Tanda tubuh mulai kekurangan cairan antara lain rasa haus, mulut kering, lemas, pusing hingga urine berwarna lebih pekat.

2. Air bersih jangan sampai terbuang

Masyarakat memanfaatkan air Sendang Siancar saat musim kemarau di Desa Kaliancar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (7/9/2023). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Kemarau juga berkaitan dengan persoalan ketersediaan air bersih. Maka itu, Dinkes mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secukupnya dan memastikan tempat penampungan air dalam kondisi bersih serta tertutup.

Persoalannya bukan hanya menghemat air, tetapi juga memastikan air yang tersedia tetap layak digunakan. Kekurangan air bersih dapat berdampak langsung terhadap perilaku hidup bersih dan kesehatan masyarakat.

3. Panas jangan dilawan dengan memaksakan aktivitas

Ilustrasi wanita memakai aksesoris topi (freepik.com/freepik)

Dinkes juga meminta warga menjaga kondisi tubuh dengan makanan bergizi, istirahat cukup dan olahraga rutin.

Bagi masyarakat yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan, paparan panas menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dinkes menyarankan penggunaan payung atau topi, terutama ketika beraktivitas pada siang hari, serta memastikan asupan cairan tetap mencukupi.

Artinya, persoalan kemarau bukan hanya bagaimana bertahan dari rasa panas, tetapi juga bagaimana mengatur aktivitas agar tubuh tidak mengalami tekanan akibat suhu lingkungan.

4. DBD tetap mengintai saat kemarau

ilustrasi demam berdarah (freepik.com/jcomp)

Kemarau bukan berarti risiko penyakit yang ditularkan nyamuk otomatis hilang. Dinkes tetap meminta masyarakat melakukan 3M Plus untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD), yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Warga juga diminta mencegah gigitan nyamuk. Perhatian terhadap tempat penampungan air menjadi penting karena wadah yang tetap terisi air, termasuk di sekitar rumah, dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

5. Jangan bakar sampah sembarangan

ilustrasi bakar sampah (theconversation.com)

Satu risiko lain yang kerap muncul ketika udara kering adalah kebakaran dan memburuknya kualitas udara. Dinkes meminta warga tidak membakar sampah maupun lahan sembarangan. Api lebih mudah menyebar pada kondisi kering, sementara asap hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan.

Pesan ini juga sejalan dengan langkah Pemkot Semarang yang meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemarau 2026 karena risiko kebakaran, kekeringan dan penurunan kualitas udara.

6. Lindungi kulit dan tubuh dari panas terik

ilustrasi menggunakan pelembap (pexels.com/Sora Shimazaki)

Beraktivitas di bawah matahari langsung dalam waktu lama juga perlu dihindari. Dinkes menyarankan penggunaan payung atau topi saat berada di luar ruangan, terutama pada siang hari.

Langkah sederhana tersebut penting bagi warga yang sehari-hari banyak bekerja di luar ruangan, seperti pengemudi, pedagang, pekerja lapangan maupun masyarakat yang harus melakukan aktivitas di bawah terik matahari.

7. Rumah terlalu lembap juga bukan kondisi ideal

ilustrasi langit-langit lembap (vecteezy.com/wandeedee)

Ada satu hal yang menarik dalam imbauan Dinkes. Warga tidak hanya diminta menghadapi udara panas dan kering di luar rumah, tetapi juga memperhatikan kelembapan di dalam rumah.

Maka, masyarakat disarankan membuka ventilasi pada pagi hari, menanam tanaman hijau di sekitar rumah, serta menggunakan pelembap udara bila diperlukan. Sirkulasi udara menjadi penting agar kondisi rumah tetap nyaman dan tidak terlalu lembap.

Jadi, kemarau perlu diantisipasi dari banyak sisi ya. Pastikan kamu tetap menjaga kesehatan ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article