Kisah Maryati, Setia Jual Jamu Sejak 1975, Bangun Jam 3 Pagi Tiap Hari

- Maryati telah berjualan jamu keliling sejak 1975 di Purwokerto, melanjutkan usaha turun-temurun dari ibunya yang dulu berdagang jamu di Surabaya.
- Setiap hari ia bangun pukul 3 pagi untuk meracik jamu seperti kunyit asem dan asam, lalu berkeliling menjualnya hingga siang dengan harga terjangkau.
- Bagi Maryati, jamu bukan sekadar mata pencaharian tapi warisan keluarga; meski usia menua, ia tetap semangat menjaga tradisi dan menghidupi keluarganya.
Purwokerto, IDN Times - Di tengah hiruk-pikuk kota yang semakin modern, masih ada sosok sosok tangguh yang mempertahankan warisan leluhur dengan cara paling sederhana berjualan jamu keliling.
Salah satunya adalah seorang ibu paruh baya bermama Maryati yang sudah menggeluti dunia jamu sejak tahun 1975 saat usianya masih 19 tahun disekitar Purwokerto Timur tepatnya di sekitar jalan Sidanegara.
Dalam obrolan santai dengan IDN Times, Selasa (19/5/2026) yang penuh semangat, ia menceritakan perjalanan hidupnya. "Tahun 1975 sudah jualan jamu,"ujarnya mengingat masa masa awal.
Ibu dari Solo ini mengembangkan usaha yang sebenarnya sudah dirintis oleh sang ibu. “Ibu saya yang jualan jamu di Surabaya, Saya yang membeli, lalu saya yang menjualnya, itu tugas saya," tuturnya sederhana.
1. Racik jamu mulai pukul 3 pagi

Dijelaskan, setiap hari, rutinitasnya dimulai sangat pagi pukul 3 pagi sudah buat jamu. Proses pembuatan dilakukan dengan telaten sebelum akhirnya ia keliling mulai pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang. Jamu jamu tersebut dijajakan di jalan jalan, depan depan rumah, dan area sekitar Komplek Sidanegara Purwokerto.
Ia membawa jamu dalam kemasan sederhana, tanpa label mewah. Satu gelas kecil dari seliter jamu dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp3000 . "Kalau sekarang Rp3000, dulu ya murah ganya Rp300 - Rp400 rupiah udah bungkus bungkusan,"imbuhnya.
Meski sederhana, ia mengaku pelanggan tetap setia. Bahan bahan dan bumbu ia kembangkan sendiri sesuai resep turun temurun. Jamu paling laris? “Kunyit asem nih, sama asem,” jawabnya tanpa ragu.
Dua varian klasik yang memang sering dicari masyarakat untuk menjaga kesehatan dan stamina.
2. Usaha ramuan warisan anak cucu

Lebih jauh, Maryati mengaskan usaha jamu ini bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga warisan. Ia menceritakan anak anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa.
Salah satu anaknya berusia 48 tahun, bekerja sebagai guru di daerah Purwokerto Barat, ada pula yang menjadi pegawai negeri hingga bidan. Meski anak anaknya sudah sukses di jalur masing masing, ibu ini tetap tegar menjalankan usaha jamu keliling.
“Anakku seorang ada yang jadi guru, lalu polisi di SPN Purwokerto, umurnya 48 tahun,"katanya bangga.
Ia juga sempat menyebut cucu kecil berusia sekitar 7 tahun yang ikut menjadi bagian dari cerita keluarganya.
3. Perjuangan yang tak pernah berhenti

Di balik senyuman dan semangatnya Maryati, ada perjuangan yang tak ringan. "Nggak ada apa apa nih, yang penting nggak kurang makan,"ungkapnya jujur saat ditanya soal tantangan.
Namun, ia tak pernah menyerah, jamu tetap ia buat dan jual dengan tangan sendiri, tanpa mesin canggih atau pemasaran digital yang rumit.
Bagi banyak orang, jamu hanyalah minuman tradisional. Bagi Maryati ini, jamu adalah hidup. Dari Surabaya hingga Solo dan Semarang, ia terus mengembangkan usaha yang dimulai ibunya puluhan tahun lalu.
"Saya sejak remaja juga sudah langganan sama bu Maryati, Ia keliling sejak puluhan tahun disini dan rasa tetap sama,"ujar Mardiyanto pelanggan setianya.
Meski usia semakin bertambah, panggilan “Bu Jamu” masih ia jawab setiap pagi dengan langkah ringan dan harapan yang sama membawa kesehatan alami untuk masyarakat sambil menghidupi keluarga.
















