Ada Peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang, Tugu Muda Ditutup Pukul 17.00 WIB

Kawasan Tugu Muda Semarang ditutup mulai pukul 17.00 WIB, Rabu 14 Oktober 2026, untuk Peringatan Pertempuran Lima Hari ke-81 yang dimulai pukul 18.00 WIB.
Dishub menyiapkan pengalihan arus di sejumlah simpang, empat lokasi parkir alternatif, serta penyesuaian rute Trans Semarang pada enam koridor dan Feeder 1B.
Peringatan melibatkan lebih dari 2.000 orang, menampilkan teatrikal sejarah, napak tilas, dan upacara untuk mengenang pertempuran 14–18 Oktober 1945 yang menewaskan sedikitnya 2.000 pejuang.
Semarang, IDN Times - Kawasan Tugu Muda Semarang akan ditutup mulai pukul 17.00 WIB, Rabu (14/10/2026). Penutupan ini untuk mendukung pelaksanaan Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang Ke-81.
1. Peringatan digelar mulai pukul 18.00 WIB

Pertunjukan teatrikal peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang di Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Sabtu (14/10/2023). (dok. Pemkot Semarang) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyiapkan pengalihan arus lalu lintas dan sejumlah kantong parkir alternatif bagi masyarakat yang hendak menghadiri acara tersebut.
Peringatan yang digelar di kawasan Tugu Muda dan halaman Museum Mandala Bhakti itu dijadwalkan dimulai pukul 18.00 WIB. Pemerintah Kota Semarang mengajak masyarakat menghadiri kegiatan tersebut sekaligus mengenalkan sejarah perjuangan kota kepada generasi muda.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengimbau warga datang bersama keluarga untuk mengikuti rangkaian peringatan.
“Ini sejarah kota kita sendiri. Ajak keluarga, ajak anak-anak, supaya mereka tahu apa yang pernah diperjuangkan di sini,” ungkapnya, Selasa (13/10/2026).
2. Empat lokasi parkir alternatif

Pertunjukan teatrikal peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang di Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Sabtu (14/10/2023). (dok. Pemkot Semarang) Dishub Semarang memberlakukan pengaturan lalu lintas pada Selasa (13/10/2026) saat gladi bersih dan Rabu (14/10/2026) ketika upacara berlangsung. Pada hari pelaksanaan, pengaturan dimulai pukul 17.00 WIB.
Sejumlah titik penutupan arus berada di depan LP Wanita Bulu, Simpang Kariadi, Simpang Eka Karya Pandanaran, dan Simpang Paragon.
Masyarakat yang membawa kendaraan dapat memanfaatkan kantong parkir yang telah disiapkan pemerintah kota, yakni di Pasar Bulu, Udinus, Gereja Katedral, Ruko Pandanaran
Selain pengalihan arus, terdapat penyesuaian rute layanan Trans Semarang untuk Koridor 1, 2, 3, 4, 5, dan 8 serta Feeder 1B.
Agustina meminta masyarakat mengikuti arahan petugas dan menyesuaikan perjalanan jika melintas di sekitar lokasi kegiatan.
“Mohon maaf kalau perjalanan Rabu malam sedikit terganggu. Manfaatkan lokasi parkir yang sudah disiapkan dan ikuti arahan petugas di lapangan,” ujarnya.
3. Peringatan libatkan lebih dari 2.000 orang

Pertunjukan teatrikal peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang di Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Sabtu (14/10/2023). (dok. Pemkot Semarang) Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun ini melibatkan lebih dari 2.000 orang. Rinciannya, 1.051 peserta upacara dari unsur TNI, Polri, taruna, pelajar, mahasiswa, dan relawan sosial, serta 300 tamu undangan. Kegiatan juga mendapat dukungan personel dari 37 instansi dan perangkat daerah.
Salah satu agenda utama adalah pertunjukan teatrikal sejarah oleh Untag dan Teater Pitoelas bersama sejumlah pihak. Pertunjukan tersebut akan mengangkat kembali kisah pertempuran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 1945.
Rangkaian kegiatan lainnya meliputi napak tilas, upacara, dan pembacaan cukilan sejarah. Masyarakat yang tidak dapat hadir langsung bisa menyaksikan peringatan melalui siaran langsung di kanal YouTube Semarang Pemkot.
4. Mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang

Google Images (dokumen sejarah Pertempuran Lima hari di Semarang) Pertempuran Lima Hari di Semarang bermula pada 14 Oktober 1945. Saat itu, delapan anggota Polisi Istimewa yang berjaga di tandon air Wungkal diserang tentara Jepang.
Pada malam yang sama, dr. Kariadi, kepala laboratorium rumah sakit yang hendak memeriksa kabar dugaan peracunan air, dicegat dan gugur.
Sehari kemudian, ribuan tentara Jepang bersenjata lengkap menyerbu pusat kota. Pemuda, Badan Keamanan Rakyat (BKR), polisi, dan warga Semarang melakukan perlawanan dengan persenjataan seadanya.
Pertempuran berakhir pada 18 Oktober 1945 setelah perundingan. Berdasarkan keterangan dalam rilis Pemkot Semarang, tidak kurang dari 2.000 pemuda dan pejuang gugur dalam peristiwa tersebut.
Agustina mengatakan, masyarakat saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan perjuangan para pendahulu.
“Yang berjuang waktu itu orang-orang biasa. Tugas kita yang hidup hari ini adalah merawat apa yang mereka tinggalkan,” pungkasnya.




















