Azana Boutique Hotel Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Founder & CEO Azana Hospitality Dicky Sumarsonoingin ingin menciptakan “the real boutique hotel”, bukan sekadar nama, tetapi juga tercermin dari produk, layanan, hingga pengalaman tamu sejak check-in hingga check-out.
“Kita ingin membuat butik hotel yang benar-benar butik, bukan hanya nama saja. Mulai dari produk, service delivery sampai layanan harus benar-benar sesuai dengan karakter tamu butik hotel,” ujar Dicky, Rabu (10/3/2026).
Menurutnya, inti dari boutique hotel adalah perhatian pada detail dan pengalaman personal tamu. Perjalanan tamu selama menginap atau customer journey menjadi fokus utama, mulai dari kedatangan, penggunaan fasilitas, hingga proses check-out.
“Setiap touch point harus ada nilai yang membuat tamu merasa berkesan,” jelasnya.
Dengan konsep wellness dan boutique hotel, Azana Boutique Hotel Solo tidak menargetkan pasar besar seperti government meeting atau MICE yang selama ini mendominasi industri hotel.
Sebaliknya, hotel ini menyasar niche market, yaitu wisatawan yang tertarik dengan wellness, spa, dan pengalaman menginap yang tenang.
Pasar ini dinilai memang tidak besar, tetapi terus berkembang di Indonesia.
“Kalau kita ambil pasar government dan MICE, kita pasti kalah karena kamar kita sedikit. Kita pilih pasar yang niche, tapi sebenarnya sedang tumbuh,” ujarnya.
Tren wellness tourism sendiri semakin meningkat, bahkan Indonesia dikenal sebagai salah satu destinasi wellness terbaik di dunia.