Semarang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menggencarkan deteksi kasus suspek campak di masyarakat. Kegiatan pemantauan dan penelusuran tersebut dilakukan oleh puskesmas.
Dinkes Semarang Gencarkan Deteksi Kasus Suspek Campak di Masyarakat

1. Pemantauan kasus campak dengan penelusuran di lapangan
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, dari pemantauan itu temuan kasus tidak hanya berasal dari pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga dari hasil penelusuran langsung di lapangan.
"Jadi kami melakukan kegiatan ini tidak hanya kepada orang sakit kemudian datang ke Puskesmas lalu terdiagnosa, tapi memang ada suspek itu kemudian dilakukan surveilans oleh kawan-kawan (Puskesmas)," ungkapnya, Minggu (5/4/2026).
Untuk diketahui, sebagian temuan berasal dari tindak lanjut terhadap data suspek yang telah diidentifikasi sebelumnya.
2. Dinkes tingkatkan cakupan vaksinasi campak
"Ada kasus tapi memang itu didapatkan dari hasil active test. Jadi tidak dari orang atau kami yang praktik tapi memang kami ada upaya-upaya surveilans, itu kan pengamatan ya di masyarakat. Itu yang kita lakukan," kata Hakam.
Selain itu, Dinkes juga melibatkan puskesmas dan rumah sakit dalam pelaksanaan pemantauan serta peningkatan cakupan vaksinasi campak.
Evaluasi capaian imunisasi dilakukan secara berkala untuk mengetahui wilayah dengan cakupan yang masih perlu ditingkatkan.
"Kami dengan 40 puskesmas, kemudian rumah sakit, meningkatkan cakupan vaksinasi untuk campak MR dan SPK. Nah, cakupannya kita pastikan setiap minggu itu kita pantau mana yang kira-kira kelurahan yang cakupannya masih rendah," terangnya.
3. Ada 63 temuan suspek campak di Kota Semarang
Berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pada Triwulan I 2026 Kota Semarang mencatat 63 temuan suspek campak dan berada di urutan kesembilan di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, dua kasus terkonfirmasi positif campak dan rubela berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Secara keseluruhan, jumlah suspek campak di Jawa Tengah pada periode yang sama mencapai 1.490 kasus.
Temuan terbanyak tercatat di Kudus sebanyak 228 kasus, diikuti Brebes 126 kasus, dan Banyumas sebanyak 120 kasus. Puncak kasus suspek campak ada pada bulan Januari 2026 dengan jumlah kasus 792 suspek.