Dua Kubu Keraton Solo Gelar Grebeg Maulud, Acara Dibagi Dua Kloter

- Dua kubu yang sama-sama mengatasnamakan PB XIV, Hangabehi dan Purboyo, menggelar kirab Grebeg Maulud terpisah di Keraton Solo pada 26 Agustus 2026.
- Total empat pasang gunungan dibawa dalam dua kloter ke Masjid Agung Solo; warga cepat memperebutkan isinya, sementara satu gunungan estri dibawa kembali ke keraton.
- Grebeg Maulud menjadi ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus pengingat untuk meneladani akhlaknya; dua kirab pada hari sama baru terjadi tahun ini.
SOLO, IDN Times — Tradisi Grebeg Maulud 1960 BE/2026 di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berlangsung berbeda tahun ini. Dua kubu yang masing-masing mengatasnamakan Paku Buwono (PB) XIV, yakni PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo, menggelar kirab gunungan secara terpisah pada Rabu (26/8/2026).
Secara keseluruhan, terdapat empat pasang gunungan yang dibawa menuju Masjid Agung Solo. Masing-masing kubu mengirab satu pasang gunungan jaler dan estri yang menjadi bagian dari tradisi Grebeg Maulud.
1. Sama-sama kirab dua pasang gunungan, jaler dan estri.

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey) Kirab pertama berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB. Para abdi dalem membawa dua gunungan, yakni gunungan jaler dan gunungan estri, dari kawasan Keraton Solo menuju halaman Masjid Agung.
Gunungan jaler berisi beragam hasil bumi, seperti kacang panjang, terong, cabai merah, wortel, mentimun, tebu, hingga telur asin. Sementara gunungan estri dihiasi makanan siap santap berupa rengginang.
Sesampainya di halaman Masjid Agung, suasana langsung ramai. Warga yang telah menunggu berdesakan mendekati gunungan. Bahkan sebelum rangkaian doa keselamatan selesai, isi gunungan telah habis diperebutkan warga hanya dalam hitungan menit.
Penganggeng Sasana Wilopo kubu PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau akrab Gusti Moeng, mengatakan ada dua pasang gunungan yang dikirab yakni dua gunungan jaler dan dua gunungan estri. Dan yang membedakan dari Grebeg ini yakni adanya abdi dalem wireng.
“Yang istimewa hari ini adalah abdi dalem wireng atau yang menarikan jadi penyutro. Penyutro itu bukan bagian dari prajurit tapi mereka ini abdi dalem penari-penari laki di keraton,” ujarnya kepada IDN Times, Rabu (26/8/2026).
2. Grebeg digelar dua kloter.

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey) Sementara itu, sekitar pukul 11.30 WIB, giliran kubu PB XIV Purboyo menggelar Grebeg Maulud. Rombongan abdi dalem berangkat dari Kori Kamandungan Keraton Solo dengan membawa sepasang gunungan menuju Masjid Agung.
Sesampainya di lokasi, doa kembali dipanjatkan sebagai bagian dari prosesi Grebeg. Namun, warga kembali dengan cepat mengerumuni gunungan jaler hingga seluruh isinya habis diambil.
Sementara itu, gunungan estri tidak langsung diperebutkan di halaman Masjid Agung. Para abdi dalem membawanya kembali ke area keraton. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan masyarakat di halaman Keraton Solo.
3. Tradisi Syukur Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey) Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom, mengatakan Grebeg Maulud merupakan bentuk ungkapan syukur dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, tradisi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendapatkan isi gunungan, tetapi juga menjadi pengingat untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad.
“Semoga masyarakat keraton, abdi dalem, dan semuanya bisa meneladani Nabi Agung Muhammad SAW,” kata Muhtarom.
Ia menyebut pelaksanaan Grebeg Maulud oleh dua kubu keraton secara terpisah pada hari yang sama merupakan hal yang baru terjadi tahun ini.
“Iya, baru tahun ini ada dua kirab Grebeg Maulud. Pelaksanaan keraton, kita melayani. Nanti keraton ada acara, semua kita layani,” ujarnya.
Dengan adanya dua prosesi tersebut, Grebeg Maulud tahun ini menjadi salah satu pelaksanaan tradisi keraton yang berlangsung dalam dua rangkaian berbeda, namun tetap mengusung makna utama sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.




















