Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memantau pelaksanaan skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Menurut Hakam, percepatan CKG penting karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kondisi kesehatannya hingga penyakit berkembang lebih jauh.
Untuk di Kota Semarang, kanker payudara menjadi salah satu perhatian utama. Hakam menyebut kanker payudara menempati posisi pertama kasus kanker di Ibu Kota Jawa Tengah, disusul kanker serviks.
“Kanker payudara di Kota Semarang itu nomor satu, nomor dua kanker serviks,” ungkapnya.
Maka itu, skrining kanker payudara dan kanker leher rahim menjadi bagian penting dalam kegiatan CKG kali ini.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, kasus kanker payudara menunjukkan tren peningkatan dalam enam tahun terakhir melalui pemeriksaan dengan metode yang sama, yaitu SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).
Tercatat pada 2020 terdapat 459 kasus, meningkat menjadi 512 kasus pada 2021, 590 kasus pada 2022, 690 kasus pada 2023, 768 kasus pada 2024, dan mencapai 812 kasus pada 2025. Sementara per 12 Agustus tahun 2026, tercatat ada 767 kasus dan datanya masih berjalan.
‘’Jika dilihat perkembangannya dari tahun ke tahun, rata-rata terjadi peningkatan sekitar 12,2 persen per tahun. Jadi memang terlihat adanya peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, dan ini menjadi perhatian kami untuk terus memperkuat deteksi dini dan tindak lanjut,’’ terang Hakam.
Sedangkan untuk kasus kanker serviks di Kota Semarang, data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 tercatat 130 kasus, kemudian menurun menjadi 117 kasus pada 2021, lalu 103 kasus pada 2022. Selanjutnya, mulai tahun 2023 terlihat peningkatan, yaitu menjadi 131 kasus, kemudian 156 kasus pada 2024 dan mencapai 170 kasus pada 2025. Sementara pada tahun 2026 saat ini tercatat 112 kasus dan datanya masih berjalan.
Hakam menjelaskan, kenaikan kasus kanker serviks mulai tahun 2023 perlu dilihat dalam konteks perkembangan metode skrining. Sejak tahun tersebut, skrining kanker serviks tidak hanya menggunakan metode IVA, tetapi juga berkembang dengan pemeriksaan HPV DNA.
‘’Dengan cakupan dan metode deteksi yang semakin baik, semakin banyak kasus atau kelainan yang dapat ditemukan, sehingga angka temuan juga meningkat. Jadi, kenaikan angka tersebut tidak serta-merta dapat diartikan sebagai peningkatan kejadian penyakit, tetapi juga menunjukkan semakin baiknya upaya deteksi dini kanker serviks di Kota Semarang,’’ katanya.
Dengan demikian, data tersebut memperlihatkan alasan mengapa pemeriksaan dini penting dilakukan, terutama untuk penyakit yang dapat berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal. Kesadaran itulah yang coba dibangun Pemerintah Kota Semarang melalui CKG. Bukan semata untuk mengejar jumlah peserta, tetapi karena deteksi dini dipandang sebagai cara mencegah penyakit menjadi kronis sekaligus menekan beban biaya pengobatan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, sasaran utama kegiatan kali ini adalah perempuan, terutama kelompok rentan. Salah satu pemeriksaan yang menjadi perhatian adalah skrining kanker payudara.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting karena kanker payudara kerap dianggap sepele hingga akhirnya diketahui ketika sudah berada pada stadium berat.
“Skrining kanker payudara yang biasanya para perempuan menggampangkan. Nanti kalau terdeteksi tiba-tiba sudah dalam stadium yang cukup berat,” katanya saat memantau kegiatan CKG, Selasa (11/8/2026).
Maka itu, Pemkot Semarang membuka kesempatan bagi perempuan untuk memeriksakan diri tanpa harus terlebih dahulu merasakan keluhan. Selanjutnya, jika dalam pemeriksaan hasilnya ditemukan memiliki masalah kesehatan akan mendapatkan tindak lanjut.
Agustina mengatakan, jika membutuhkan penanganan rumah sakit, pemerintah akan memanfaatkan layanan Universal Health Coverage (UHC) sehingga pasien tetap dapat memperoleh perawatan tanpa harus terbebani biaya.
“Kalau misalnya ditemukan (kasus, red) nanti akan langsung ada follow-up. Follow-up-nya di rumah sakit, kalau bisa di rumah sakit kita dengan menggunakan UHC sehingga free from charge. Sehingga, hasil temuan dari skrining tidak akan dibiarkan berhenti sebagai angka atau catatan medis,” katanya.