Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jangan Dicuci Air, Ini Kesalahan Fatal Mengolah Daging Kurban
ilustrasi daging kurban (pixabay.com/Zichrini)
  • Mencuci daging kurban di bawah air mengalir terbukti berbahaya karena dapat menyebarkan bakteri seperti E. coli dan Salmonella melalui percikan air yang menyebabkan kontaminasi silang di dapur.
  • Ada empat kesalahan umum lain saat mengolah daging, termasuk mencairkan dengan air panas, memakai talenan sama untuk bahan mentah dan matang, menyimpan di pintu kulkas, serta memasak setengah matang.
  • Ahli gizi menyarankan membersihkan daging tanpa air mengalir dengan menepuk tisu bersih, menjaga kebersihan tangan, serta memastikan pemasakan hingga suhu 71°C agar aman dikonsumsi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Musim kurban Idul Adha 1447 H / 2026 baru saja berlalu. Stok daging sapi, kambing, hingga domba masih memenuhi isi kulkas dan pembeku (freezer) di rumah.

Namun, sebelum mulai mengolah atau memindahkan daging tersebut, ada satu kebiasaan turun-temurun yang wajib dihentikan: mencuci daging mentah di bawah air keran yang mengalir. Banyak orang percaya kalau mencuci daging dengan air mengalir dapat menghilangkan darah, kotoran, dan bakteri. Faktanya, tindakan itu merupakan kesalahan fatal yang justru membahayakan kesehatan keluarga.

ilustrasi mencuci daging berkali-kali (facebook.com/Oriental Times)

Sejumlah pakar keamanan pangan dan badan pengawas seperti Food and Drug Administration (FDA) dan BPOM RI menyatakan jika mencuci daging mentah seperti sapi, kambing, atau ayam di bawah keran air adalah praktik yang berbahaya dan tidak direkomendasikan.

Berikut adalah alasan ilmiah mengapa daging kurban dilarang dicuci dengan air mengalir:

  • Efek Aerosolisasi (Penyebaran Bakteri Lewat Udara)

    • Saat air keran menghantam permukaan daging yang berpori, percikan air mikroskopis (aerosol) akan terbang ke udara. Percikan ini dapat membawa bakteri berbahaya seperti E. coli, Salmonella, dan Campylobacter hingga radius 50–80 sentimeter. Bakteri ini kemudian menempel di wastafel, keran air, lap dapur, piring bersih, hingga bahan makanan siap santap seperti buah atau sayuran. Kondisi inilah yang memicu kontaminasi silang.

  • Daging Menjadi Cepat Basi

    • Menambahkan air pada permukaan daging mentah akan meningkatkan kadar air (water activity). Lingkungan yang lembap menjadi tempat bagi bakteri untuk berkembang biak lebih cepat, sehingga daging menjadi lebih mudah berlendir dan berbau busuk jika tidak segera dimasak.

  • Mengubah Tekstur dan Rasa

    • Daging yang menyerap air dari proses pencucian akan mengalami perubahan struktur. Saat dimasak, air tersebut akan keluar dan membuat daging seolah direbus oleh cairannya sendiri, bukan dipanggang atau ditumis. Akibatnya, daging menjadi alot, pucat, dan tidak mengeluarkan reaksi kecokelatan yang gurih (Maillard).

4 Kesalahan Fatal Lain dalam Mengolah Daging Kurban

ilustrasi daging kurban (unsplash.com/Martin Hvězda)

Selain mencuci dengan air mengalir, waspadai empat kesalahan yang sering tidak disadari di dapur berikut ini:

1. Mencairkan (Thawing) Daging Beku dengan Air Panas

Merendam daging beku dari freezer ke dalam air panas atau hangat demi mempercepat proses mencair merupakan langkah keliru. Suhu hangat akan mengaktifkan bakteri yang tertidur di permukaan daging dan membuatnya masuk ke "Zona Bahaya" (suhu 5°C–60°C). Pada zona ini, bakteri berkembang biak dua kali lebih cepat setiap 20 menit.

  • Solusi: Pindahkan daging dari freezer ke chiller (kulkas bagian bawah) semalam sebelumnya, atau gunakan fitur defrost pada mikrogelombang (microwave) jika ingin segera dimasak.

2. Menggunakan Talenan yang Sama

Menggunakan talenan yang sama untuk mengiris daging mentah dan memotong sayur atau buah tanpa pencucian yang benar merupakan jalur mudah bagi bakteri E. coli masuk ke dalam tubuh.

  • Solusi: Siapkan minimal dua talenan dengan warna berbeda. Satu khusus untuk daging mentah, dan satu lagi untuk bahan makanan siap santap atau sayuran.

3. Menyimpan Daging di Pintu Kulkas

Pintu kulkas merupakan area dengan fluktuasi suhu paling ekstrem karena sering dibuka dan ditutup. Menyimpan daging di area ini membuat kualitasnya cepat menurun dan bakteri lebih mudah tumbuh.

  • Solusi: Simpan daging di rak bagian paling bawah dan paling dalam di chiller, atau langsung bekukan di dalam freezer. Posisi di rak bawah juga mencegah tetesan darah daging mengenai makanan lain jika terjadi kebocoran.

4. Memasak Daging Kurban Setengah Matang (Medium Rare)

Daging sapi impor mungkin biasa dinikmati dalam tingkat kematangan setengah matang. Namun, daging kurban lokal memiliki proses pemotongan dan penanganannya di lapangan terbuka oleh panitia kurban yang berisiko tinggi terpapar kontaminasi silang. Memasaknya setengah matang sangat berisiko menyebabkan keracunan makanan atau infeksi parasit.

  • Solusi: Masak daging kurban hingga matang sempurna (well-done). Suhu internal daging harus mencapai minimal 71°C (160°F) untuk memastikan semua bakteri dan parasit mati.

Cara Membersihkan dan Mengolah Daging yang Benar

ilustrasi daging kurban (pixabay.com/Humusak

Sejumlah ahli gizi memberikan panduan langkah aman untuk membersihkan kotoran atau sisa darah tanpa menggunakan air mengalir.

Caranya, keluarkan daging dari kemasan, lalu tepuk-tepuk permukaannya menggunakan tisu makan bersih hingga kering untuk menyerap sisa darah dan kotoran. Segera buang tisu tersebut ke tempat sampah.

Untuk mengolahnya sebagai berikut.

  • Bersihkan dengan Lap Basah (Opsional)

    • Jika terdapat kotoran fisik seperti debu atau rambut, gunakan kain bersih yang dibasahi air matang untuk mengusap seperlunya, lalu langsung keringkan dengan tisu. Jangan merendam daging.

  • Empukkan dengan Enzim Alami

    • Untuk membuat daging empuk tanpa perlu memukulnya, lumuri daging dengan parutan nanas muda, daun pepaya, atau kiwi. Diamkan selama 15–30 menit sebelum dimasak. Enzim protease di dalamnya akan memecah serat daging secara sempurna.

  • Cuci Tangan 20 Detik

    • Setelah menyentuh daging mentah, segera cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum menyentuh benda lain.

Kebersihan daging kurban tidak ditentukan oleh proses pencucian di bawah air keran, melainkan oleh suhu pemasakan yang tepat dan pencegahan kontaminasi silang di area dapur. Langkah menghindari pencucian daging dengan air mengalir dapat menjaga tekstur serta rasa daging tetap prima, sekaligus melindungi keluarga dari risiko keracunan makanan.

Mari menjadi pelopor perubahan cara mengolah makanan sehat di rumah. Bagikan informasi penting ini ke grup komunikasi keluarga, komunitas, atau tetangga sekitar agar kualitas dan keamanan pangan pascamusim kurban tetap terjaga!

Editorial Team

Related Article