Jateng Krisis Dokter Spesialis, Kemenkes Gandeng Undip & RSUD

- Rasio dokter spesialis di Jateng masih jauh dari target nasional
- Kemenkes gandeng Undip dan dua RSUD besar di Jateng untuk pendidikan dokter spesialis
- RSUD Margono Soekarjo Purwokerto siap menjadi rumah sakit pendidikan dokter spesialis dengan penerimaan residen dilakukan secara bertahap
Surakarta, IDN Times – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat penambahan jumlah dokter spesialis di Jawa Tengah. Salah satu langkah strategisnya dilakukan lewat penguatan Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) bekerja sama dengan perguruan tinggi.
Upaya ini menjadi krusial mengingat rasio dokter spesialis di Jawa Tengah hingga 2024 belum ada yang memenuhi target nasional. Rasio tersebut dihitung berdasarkan jumlah tenaga kesehatan per 1.000 penduduk.
1. Rasio Dokter Spesialis di Jateng Masih Jauh dari Target.

Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kemenkes RI mencatat, seluruh wilayah di Jawa Tengah masih kekurangan dokter spesialis. Kondisi ini membuat akses layanan kesehatan rujukan belum merata, terutama di rumah sakit daerah.
RSPPU pun diposisikan sebagai solusi jangka menengah hingga panjang. Rumah sakit ini berfungsi sebagai wahana utama pendidikan klinik kedokteran dan pendidikan dokter spesialis melalui kerja sama dengan institusi pendidikan kedokteran.
2. Kemenkes Gandeng Undip dan Dua RSUD Besar di Jateng.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, kerja sama pendidikan dokter spesialis dilakukan melalui penandatanganan perjanjian antara RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto dan RSUD Dr Moewardi Solo dengan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
“Ini saya terima kasih sama Pak Rektor Undip karena sudah tanda tangan perjanjian dengan RSUD Margono sama RSUD Dr Moewardi untuk membuka pendidikan dokter spesialis bedah anak dan mikrobiologi klinik,” ujar Budi saat penandatanganan kerja sama RSPPU di Solo, Kamis (29/1/2026).
Menurut Budi, program ini ditujukan untuk meningkatkan produksi dokter spesialis yang nantinya ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit di Jawa Tengah yang hingga kini belum memiliki tenaga spesialis.
Pendanaan pendidikan dokter spesialis ini bersumber dari kolaborasi lintas sektor. “Anggaran nanti gabungan dari Kemenkes, dari Dikti, dan rumah sakitnya,” jelasnya.
3. RSUD Margono Siap, Tapi Penerimaan Residen Bertahap.

Direktur RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, Heri Dwi Purnomo, menegaskan bahwa pihaknya telah memenuhi seluruh persyaratan sebagai rumah sakit pendidikan dokter spesialis.
“Kita memenuhi semua syarat. Pertama dari segi SDM, kita harus punya sekitar lima konsultan. Kedua tempat dan alat-alat. Sehingga kita berharap residen alumninya nanti lulus dengan nilai yang bagus,” katanya.
Saat ini, pendidikan dokter spesialis yang berjalan di RSUD Dr Margono meliputi Anestesi, Obstetri dan Ginekologi (Obgin), serta Neurologi. Namun, Heri menyebut penerimaan peserta pendidikan masih dilakukan secara bertahap.
“Mungkin tiap bagian tiga atau empat dulu. Setelah berjalannya waktu, kapasitas kita tingkatkan,” pungkasnya.

















