Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenaikan Harga Gabah dan Bawang Merah Angkat Daya Beli Petani Jateng
Para petani wilayah Pantura Jateng memanen gabah saat panen raya. (IDN Times/Dok Humas Bulog Semarang)
  • NTP Jawa Tengah naik 0,75 persen pada Juni 2026 menjadi 118,27, didorong lonjakan harga gabah, bawang merah, dan jagung yang melampaui kenaikan biaya produksi petani.
  • Kenaikan pendapatan petani terjadi karena indeks harga yang diterima naik 1,25 persen sementara indeks harga yang dibayar hanya naik 0,49 persen, ditopang komoditas utama seperti gabah dan bawang merah.
  • Subsektor tanaman pangan dan hortikultura mencatat NTP tertinggi, menegaskan peran penting komoditas pangan strategis dalam menjaga kesejahteraan petani di tengah tekanan biaya produksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah kembali menguat pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP naik 0,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 118,27. 

1. Jateng catatkan kenaikan NTP di bulan Juni 2026

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said. (IDN Times/bt)

Kenaikan NTP ini didorong lonjakan harga gabah, bawang merah, hingga jagung yang lebih cepat dibandingkan peningkatan biaya yang harus ditanggung petani. Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu dari hanya tiga provinsi di Pulau Jawa yang mencatat kenaikan NTP pada Juni 2026.

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said mengatakan, selain Jawa Tengah, kenaikan NTP juga terjadi di Jawa Barat dan Banten. Sementara itu, tiga provinsi lainnya mengalami penurunan, dengan penurunan terdalam terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,75 persen.

“Ada tiga provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kenaikan NTP, dan tiga provinsi lain mengalami penurunan NTP. Provinsi yang mengalami kenaikan NTP adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten,” ungkapnya dalam siaran pers secara daring, Rabu (1/7/2026).

BPS menjelaskan, kenaikan NTP mencerminkan membaiknya daya beli petani karena harga hasil pertanian yang mereka jual meningkat lebih cepat dibandingkan harga barang dan jasa yang harus mereka beli untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga.

2. Kenaikan pendapatan petani ditopang membaiknya harga gabah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga April 2025, produksi gabah nasional mencapai 13,9 juta ton (dok. Bulog)

Secara rinci, indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,25 persen menjadi 154,76, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya meningkat 0,49 persen menjadi 130,85.

“Peningkatan NTP ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik lebih cepat daripada indeks harga yang dibayarkan petani,” kata Ali.

Kenaikan pendapatan petani terutama ditopang oleh membaiknya harga sejumlah komoditas utama, yakni gabah, bawang merah, jagung, kol atau kubis, dan wortel. Komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang diterima petani selama Juni.

Di sisi lain, biaya yang harus dikeluarkan petani juga mengalami kenaikan, meski tidak sebesar peningkatan pendapatan. BPS mencatat kenaikan pengeluaran dipengaruhi oleh naiknya harga bawang merah, bensin, bakalan sapi, dan bawang putih.

3. Tanaman pangan dan hortikultura sumbang NTP tertinggi

Pengembangan hortikultura bawang di Tabanan (Dok.IDN Times/Istimewa)

BPS juga mencatat subsektor tanaman pangan dan hortikultura menjadi penyumbang NTP tertinggi pada Juni 2026. Hal ini menunjukkan komoditas pangan strategis masih menjadi penopang utama peningkatan kesejahteraan petani di Jawa Tengah.

Sementara, NTP sendiri merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di pedesaan. Semakin tinggi NTP, semakin besar kemampuan petani memenuhi kebutuhan konsumsi dan biaya produksi dari hasil penjualan komoditas pertanian mereka.

Kenaikan NTP pada Juni menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian Jawa Tengah, terutama di tengah meningkatnya biaya produksi dan tekanan inflasi yang masih terjadi di berbagai komoditas. Data ini menunjukkan bahwa kenaikan harga hasil panen pada periode tersebut masih mampu mengimbangi bahkan melampaui kenaikan pengeluaran petani.

Editorial Team

Related Article