Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bersama Kepala Disnakertrans Jateng Ahmad Aziz melihat barisan calon peserta magang kerja ke Jepang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
Setali tiga uang, peserta asal Tegal, Eko Prasetyo tertarik ikut seleksi program ini meningkatkan kemampuan sekaligus memperbaiki ekonomi keluarga. Ia sudah mencari tahu gambaran dunia kerja di Jepang. Menurutnya, kedisiplinan menjadi salah satu hal utama yang harus disiapkan.
Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, program magang ke Jepang menjadi bukti sumber daya manusia Indonesia, termasuk Jawa Tengah, memiliki daya saing di tingkat internasional. Menurutnya, kepercayaan tersebut harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
“Tenaga kerja Indonesia tidak kalah dengan tenaga kerja negara-negara lain. Etos kerja Indonesia patut diperhitungkan di kancah internasional,” kata Luthfi.
Ia berpesan kepada para peserta agar mengikuti seluruh tahapan seleksi dengan serius. Bagi Luthfi, keberanian para peserta untuk mencoba sudah menjadi langkah penting dalam meraih masa depan.
Luthfi juga meminta para peserta tidak minder dengan latar belakang masing-masing. Ia berharap mereka kelak bisa menjadi duta tenaga kerja Indonesia yang membanggakan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Wakil Direktur IM Japan Yamauchi Takeshi berpesan agar peserta tidak menjadikan program magang ke Jepang hanya sebagai jalan untuk mendapatkan gaji. Menurutnya, hal terpenting dari program tersebut adalah belajar etos kerja.
“Tujuan kalian bukan hanya sekadar berangkat ke Jepang. Tujuan yang sebenarnya adalah belajar sebanyak mungkin melalui pekerjaan di Jepang,” kata Yamauchi.
Ia mengatakan, peserta magang harus membangun karakter yang baik, mulai dari menaati aturan, jujur, menghormati orang lain, hingga aktif belajar selama bekerja di Jepang. "Bekerja di Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun, ada sangat banyak hal yang bisa dipelajari,” ujarnya.