Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Keraton Solo Gelar Upacara Peringatan Kenaikan Tahta Raja PB XIII

Keraton Solo Gelar Upacara Peringatan Kenaikan Tahta Raja PB XIII
Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)

Surakarta, IDN Times - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar prosesi Tingalan Dalem Jumenengan atau peringatan kenaikan tahta Raja Keraton Pakubuwono (PB) XIII, pada Sabtu (25/1/2025).

Acara adat tersebut  digelar di Sasana Sewaka, dan dihadiri berbagai tamu undangan, termasuk pejabat daerah dan tokoh budaya.

1. Dihadiri sejumlah tamu undangan

Peringatan Tinggalan Jumenengan Raja PB XIII Keraton So. (IDN Times/Larasati Rey)
Peringatan Tinggalan Jumenengan Raja PB XIII Keraton So. (IDN Times/Larasati Rey)

Para abdi dalem, sentono dalem, serta tamu undangan mengenakan busana adat Jawa lengkap, dengan laki-laki mengenakan jawi jangkep dan perempuan mengenakan kebaya, saat menghadiri prosesi adat tersebut.

Tampak wali kota dan wakil wali kota Solo terpilih Respati Achmad Ardianto dan Astrid Widayani, serta Sekda Kota Solo Budi Murtono, dan Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Restu Gunawan datang dideretan tamu-tamu VIP.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Raja Keraton PB XIII keluar dan  duduk di Dampar Kencana (singgasana raja) dengan mengenakan pakaian beskap merah marun. Raja duduk untuk melihat tarian Bedhaya Ketawang, yang merupakan salah satu tarian sakral milik keraton.

2. Tarian Bedhaya Ketawang

Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)
Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)

Setelah itu, para penari yang membawakan Tari Bedhaya Ketawang ke luar dari kediaman raja menuju tengah Pendapa Sasana Sewaka. Keluarnya para penari tersebut diiringi dengan gamelan.

Menjadi salah satu tarian sakral, para penari memulai tarian yang berlangsung hampir dua jam.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat KGPH Dipokusumo mengatakan, upacara adat Tingalan Jumenengan ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Upacara ini mengandung unsur gamelan, sandangan, dan Tari Bedhaya, yang menjadi inti dari prosesi tersebut.

"Ini memerlukan persepsi, konsistensi, dan pengertian supaya berlangsung dengan khidmat. Hal ini berkaitan dengan cultural heritage atau wisata budaya, yang memiliki nilai tradisi. Namun, kita mencoba menggunakan modifikasi sehingga kegiatan budaya ini memiliki nilai ekonomi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas," jelasnya.

3. Kirab digelar pada hari Minggu

Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)
Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)

Setelah prosesi Tingalan Jumenengan, acara selanjutkan akan dilanjutkan dengan prosesi kirab yang digelar pada Minggu (26/1/2025) pukul 09.00 WIB. Selama kirab berlangsung, di beberapa tempak akan ada udik-udik sebagai tanda berkah yang telah diterima PB XIII dan akan dibagikan kepada masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya merayakan kenaikan tahta raja, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan tradisi yang memiliki nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas,” pungkas Dipokusumo.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
Larasati Rey
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

19 Advokat Mundur dari Kuasa Hukum PB XIV Purboyo, Ini Alasannya

09 Apr 2026, 14:33 WIBNews