Selain Robot Kecoa Buatan Undip, Ini 5 Inovasi Mahasiswa Jateng yang Diakui Dunia

- Mahasiswa Jawa Tengah menorehkan prestasi internasional lewat lima inovasi unggulan di bidang teknologi, kesehatan, lingkungan, dan pangan yang diakui oleh pakar dunia.
- Inovasi mencakup Tangan Bionik Alyn dari Undip, Genteng Penyejuk Zand-Tile dari UNS, serta alat deteksi diabetes Bio-Scent dari Unnes yang menawarkan solusi praktis dan terjangkau.
- El-Misto dari Undip dan B-Filt dari UMS turut meraih penghargaan global berkat efisiensi energi serta kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan budaya batik Indonesia.
Semarang, IDN Times – Jawa Tengah kembali membuktikan diri sebagai "rahim" para inovator muda berkelas dunia. Jika sebelumnya dunia sempat dihebohkan dengan penemuan robot kecoa penyelamat dari mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), ternyata masih banyak karya jenius lainnya yang lahir dari tangan-tangan dingin mahasiswa di provinsi ini.
Tak sekadar tugas akhir, inovasi-inovasi ini telah menyabet medali emas di ajang internasional dan diakui manfaatnya oleh para pakar dunia. Dirangkum dari berbagai sumber kredibel yakni Portal Berita Resmi Universitas Diponegoro (undip.ac.id), UNS News - Universitas Sebelas Maret (uns.ac.id), Arsip Kompetisi World Invention Creativity Olympic (WICO), Katalog Inovasi Mahasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI berikut adalah 5 inovasi luar biasa mahasiswa Jawa Tengah yang mendunia:
1. Tangan Bionik "Alyn" (Universitas Diponegoro)

Masih dari kampus Undip, tim peneliti dari Center for Bio-Mechanical Design (CBIOM3S) menciptakan Tangan Bionik Alyn. Berbeda dengan prostetik biasa, tangan bionik ini mampu merespons sinyal otot pengguna sehingga jemarinya bisa menggenggam dan bergerak secara natural.
Prestasi: Inovasi ini telah dipresentasikan di berbagai forum medis internasional dan mendapatkan apresiasi karena biaya produksinya jauh lebih terjangkau dibandingkan produk serupa dari Eropa, namun dengan fungsi yang setara.
2. Genteng Penyejuk Ruangan "Zand-Tile" (Universitas Sebelas Maret)

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menciptakan inovasi bahan bangunan hijau yang disebut Zand-Tile. Genteng ini menggunakan material komposit yang mampu menurunkan suhu ruangan secara signifikan tanpa bantuan AC.
Prestasi: Inovasi ini meraih medali emas dalam ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan. Para juri dunia memuji konsep ini sebagai solusi praktis untuk menghadapi global warming di negara tropis.
3. Detektor Diabetes via Urine "Bio-Scent" (Universitas Negeri Semarang)

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) berhasil menciptakan alat pendeteksi dini penyakit diabetes melitus hanya melalui aroma urine yang diberi nama Bio-Scent. Alat ini menggunakan sensor gas sensitif yang mampu mendeteksi senyawa keton pada penderita diabetes.
Prestasi: Alat ini mendapatkan pengakuan di ajang International Invention Show (INOVA) di Kroasia. Inovasi ini dianggap revolusioner karena menawarkan metode tes kesehatan yang non-invasif (tanpa suntik).
4. Alat Sterilisasi Susu "El-Misto" (Universitas Diponegoro)

Tim mahasiswa Teknik Kimia Undip mengembangkan El-Misto, sebuah alat sterilisasi susu cair yang menggunakan teknologi kejut listrik (Pulsed Electric Field). Teknologi ini mampu membunuh bakteri tanpa merusak nutrisi dan rasa asli susu, berbeda dengan metode pasteurasi suhu tinggi konvensional.
Prestasi: Inovasi ini memenangkan penghargaan di Taiwan dan menjadi sorotan dalam industri pangan global karena efisiensi energinya yang luar biasa.
5. Filter Limbah Batik "B-Filt" (Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan B-Filt, sistem filtrasi limbah cair industri batik yang ramah lingkungan. Menggunakan bahan-bahan alami seperti cangkang kerang dan arang aktif, alat ini mampu menjernihkan air limbah hingga aman dibuang ke sungai.
Prestasi: Karya ini mendapat penghargaan di Japan Design & Invention Expo (JDIE) di Tokyo. Mengingat batik adalah warisan dunia dari Indonesia, inovasi ini dipuji sebagai upaya pelestarian lingkungan yang selaras dengan pelestarian budaya.


















