Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lahir dari Perlawanan Wong Cilik, Sejarah Sate Kere Khas Solo, Favorit Presiden
Ilustrasi sejarah sate kere (IDN Times/Dyar Ayu)
  • Sate Kere lahir di masa kolonial sebagai siasat wong cilik Solo yang ingin menikmati sate tanpa daging mahal, menggunakan tempe gembus dan jeroan sapi sisa.
  • Hidangan ini menjadi simbol perlawanan kultural rakyat jelata terhadap kesenjangan sosial, menunjukkan kecerdasan dan kreativitas dalam menciptakan cita rasa khas dari bahan sederhana.
  • Dulu dianggap makanan pinggiran, kini Sate Kere naik kasta jadi kuliner favorit nasional bahkan Presiden Jokowi, sering disajikan di acara resmi dan festival kuliner.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lahir dari Perlawanan Wong Cilik, Sejarah Sate Kere Khas Solo, Favorit Presiden!

Surakarta, IDN TimesKuliner Kota Solo memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas, Lur! Dari sekian banyak makanan tradisional yang menggugah selera di Kota Bengawan, ada satu menu legendaris yang punya cerita sangat mendalam dan unik. Apa lagi kalau bukan Sate Kere.

Jika mendengar namanya, kata "kere" dalam bahasa Jawa memang merujuk pada kondisi miskin atau tidak punya uang. Namun siapa sangka, di balik namanya yang terdengar inferior, sate ini lahir dari simbol kecerdasan dan perlawanan kultural wong cilik (rakyat jelata) Solo di masa lalu. Hebatnya lagi, memasuki tahun 2026 ini, kasta Sate Kere sudah naik drastis dari makanan pinggiran menjadi kuliner elite yang jadi langganan favorit para Presiden Indonesia, salah satunya Joko Widodo.

Biar makin kagum saat menyantap setiap tusuknya, yuk simak sejarah panjang Sate Kere khas Solo yang lahir dari simbol perlawanan wong cilik berikut ini, Lur!

1. Berawal dari Siasat Wong Cilik yang Ingin Makan Sate

Sajian sate kere di acara Solo Indonesia Culinnary Festival. (IDN Times/Larasati Rey)

Sejarah Sate Kere tidak bisa dilepaskan dari masa kolonialisme Belanda di tanah Jawa, khususnya di wilayah Surakarta. Pada zaman dulu, sate daging sapi atau kambing adalah makanan mewah yang kastanya sangat tinggi.

Hidangan sate daging hanya bisa dinikmati oleh para meneer Belanda, kaum bangsawan, dan orang-orang kaya di dalam benteng atau keraton. Rakyat jelata yang hidup prihatin hanya bisa menelan ludah mencium aroma harum daging bakar dari kejauhan.

Tak hilang akal, wong cilik di Solo memutar otak agar bisa menikmati hidangan serupa tanpa harus membeli daging mahal. Mereka memanfaatkan bahan baku alternatif yang murah meriah dan mudah didapat, yaitu tempe gembus (tempe yang terbuat dari ampas tahu) dan sisa-sisa jeroan sapi yang dibuang oleh jagal kaya.

2. Simbol Perlawanan Kultural yang Cerdas dan Jenaka

ilustrasi sate kere (unplash.com/R Eris)

Lebih dari sekadar pengganjal perut yang lapar, pembuatan Sate Kere pada masa itu sebenarnya adalah bentuk sindiran atau perlawanan kultural yang sangat cerdas terhadap kesenjangan sosial.

Dengan membuat sate dari ampas tahu, rakyat jelata seolah ingin menunjukkan sebuah pesan jenaka: "Kalian para bangsawan boleh makan sate daging, tapi kami yang miskin (kere) juga punya cara sendiri untuk makan sate yang tak kalah enak!"

Agar rasanya mirip dengan sate asli, tempe gembus dan jeroan tersebut terlebih dahulu dimasak dengan bumbu bacem yang manis gurih. Setelah dibakar di atas arang, sate disiram dengan saus kacang yang kental, pedas, dan gurih. Hasilnya? Tekstur gembus yang lembut justru berpadu sempurna dengan bumbu kacang, menciptakan sensasi rasa yang sangat khas dan bikin ketagihan.

3. Naik Kasta Menjadi Kuliner Favorit Presiden

Sate Kere (pixabay.com)

Roda nasib kuliner ini terbukti berputar 180 derajat. Sate Kere yang dulu dianggap sebelah mata kini justru diburu oleh para pencinta kuliner dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk para pejabat negara dan Presiden RI.

Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia secara konsisten menjadikan Sate Kere sebagai menu wajibnya saat pulang kampung. Salah satu warung yang paling tersohor adalah Sate Kere Yu Rebi di Solo.

Tidak hanya dinikmati di warung tenda pinggir jalan, Sate Kere kini sudah sering nampang sebagai hidangan VIP di acara-acara pernikahan keluarga kepresidenan dan festival kuliner tingkat nasional. Harganya pun kini bersaing, membuktikan bahwa kelezatan rasa tidak pernah mengkhianati sejarahnya.

Nah, itulah sejarah di balik kelezatan Sate Kere khas Solo yang sarat akan makna kehidupan dan perjuangan wong cilik. Kalau Sedulur sedang berkunjung ke Solo, jangan lupa sempatkan waktu untuk berburu kuliner legendaris yang satu ini, ya. Selamat mencicipi dan salam lestari kuliner Nusantara, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article