Longsor Keling Jepara, Warga Desa Tempur Terpaksa Memutar Lewat Pati

- Tebing setinggi 100 meter di Desa Damarwulan ambrol, memutus akses utama warga Desa Tempur dan memaksa mereka melewati jalur darurat lintas kabupaten melalui Pati.
- BPBD Jepara menghadapi risiko tinggi saat pembersihan material longsor karena adanya batu besar menggantung di tebing, sehingga dibutuhkan excavator breaker berkapasitas besar.
- Satu tiang listrik roboh akibat longsor menyebabkan pemadaman di Desa Tempur, sementara warga berharap perbaikan jalan dan jaringan listrik dilakukan secepatnya.
Jepara, IDN Times – Untuk kedua kalinya di tahun 2026, warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, harus merasakan pahitnya akses utama yang terputus total. Tebing setinggi 100 meter di Desa Damarwulan ambrol pada Selasa (10/3/2026) malam, memaksa ribuan warga menggunakan "jalur darurat" lintas kabupaten melalui Desa Medani, Kabupaten Pati.
1. Jalur alternatif via Pati jadi satu-satunya tumpuan

Jalur alternatif via Pati ini menjadi satu-satunya tumpuan, meski jarak tempuhnya jauh lebih panjang dan menguras waktu. Kondisi ini kian pelik lantaran akses utama Damarwulan-Tempur tidak hanya tertutup tanah, tapi juga bongkahan batu raksasa yang merusak badan jalan selebar 4 meter.
2. Risiko Batu Menggantung di Tebing

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, mengungkapkan bahwa pembersihan material kali ini jauh lebih berisiko dibandingkan awal Januari lalu. Petugas di lapangan tidak hanya berhadapan dengan tumpukan batu, tetapi juga ancaman batu besar yang masih menggantung di tebing setinggi 100 meter.
"Penanganan harus ekstra hati-hati karena ada batu besar yang menggantung. Kami sudah geser alat berat dari Kaliombo, namun butuh excavator breaker kelas 1 ton untuk menghancurkan bebatuan di jalan," jelas Arwin melansir dari kantor berita Antara, Rabu (11/3/2026).
3. Ancaman Pemadaman Listrik

Selain masalah mobilitas, warga kini dihantui kegelapan. Satu tiang listrik roboh terhantam material, menyebabkan jaringan kabel PLN terputus. Kepala Desa Tempur, Maryono, mendesak perbaikan listrik dilakukan beriringan dengan pembersihan jalan.
"Kami berharap penanganan segera, baik untuk akses jalan maupun jaringan listrik yang terputus. Untuk sementara, warga terpaksa memutar lewat Cluwak, Pati, demi kebutuhan logistik dan aktivitas harian," ujar Maryono.
Tragedi ini menjadi ujian beruntun bagi Desa Tempur yang sempat terisolasi awal tahun lalu. Kecepatan alat berat menghancurkan batu di lapangan kini menjadi kunci agar desa di lereng Muria ini tidak kembali lumpuh dalam waktu lama.


















