Makanan siap saji atau ready to go (RTE) produksi PT Halalan Tayyiban (PT HATI) unjuk jemaah haji Indonesia di Armuzna. (IDN Times / Larasati Rey)
Puspo menilai keberhasilan implementasi RTE membuat Arab Saudi mulai memberi perhatian lebih terhadap model layanan konsumsi yang dikembangkan Indonesia.
Menurutnya, penggunaan makanan siap saji akan terus meningkat seiring kebutuhan efisiensi distribusi dan peningkatan kualitas layanan bagi jutaan jemaah.
”Alhamdulillahnya Indonesia pelopor pertama dan terbesar penggunaan RTE. Tapi ini menjadi bahan referensi atau bahan kajian untuk dikaji, diteliti, dan selanjutnya dikembangkan menjadi makanan utama jamaah haji seluruh dunia," ujarnya.
Ia menjelaskan RTE bukan hanya membantu distribusi konsumsi saat puncak haji, tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi jemaah. Banyak jemaah memilih berada di Masjidil Haram selama berjam-jam karena jarak hotel yang jauh dan cuaca ekstrem yang bisa mencapai 50 derajat Celsius.
Dengan RTE, jemaah dapat membawa makanan sendiri tanpa harus kembali ke hotel untuk makan.
Meski demikian, Puspo mengaku perjuangan memperkenalkan RTE belum sepenuhnya selesai. Bahkan pada musim haji tahun ini, perusahaan masih harus menanggung kerugian karena harga yang ditetapkan belum sepenuhnya menyesuaikan biaya produksi.
"Tahun ini enggak untung, kita rugi betul," katanya.
Namun demikian, ia optimistis RTE akan menjadi bagian penting dari masa depan layanan konsumsi haji. Menurutnya, teknologi pangan yang terstandarisasi akan membantu memastikan makanan jemaah lebih aman, praktis, dan mudah didistribusikan di tengah kompleksitas penyelenggaraan ibadah haji.
"Suatu saat nanti akan full ready to eat,"ujarnya.
Puspo berharap penggunaan makanan siap saji dalam layanan haji terus dikembangkan secara bertahap hingga menjadi standar baru konsumsi jemaah. Menurutnya, teknologi pangan modern tidak hanya mampu menjawab persoalan distribusi di tengah padatnya aktivitas haji, tetapi juga menjamin kualitas, keamanan, serta kecukupan gizi bagi jemaah yang mayoritas berusia lanjut.
Ia juga berharap pemerintah, penyedia layanan haji, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus mendukung inovasi tersebut agar pelayanan konsumsi semakin baik dari tahun ke tahun. Dengan sistem yang lebih terstandarisasi, Puspo meyakini persoalan keterlambatan distribusi, makanan rusak, hingga pemborosan konsumsi dapat ditekan.
“Harapannya semua berjalan dengan baik, smooth, tanpa ada isu keterlambatan makan, isu makanan busuk, isu kekurangan gizi, dan keamanan pangan. Saya yakin ke depan makanan siap saji akan menjadi salah satu solusi penting dalam pelayanan haji yang semakin modern,” pungkasnya.