Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal RTE, Makanan Haji yang Diperjuangkan PT HATI Sejak 2017
Pabrik pembuatan makanan siap saji, Makanku yang berlokasi di Grogol, Sukoharjo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • PT HATI asal Solo mengembangkan makanan siap saji (RTE) sejak 2017 untuk mengatasi masalah distribusi konsumsi jemaah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang sering terkendala kemacetan.
  • Meski sempat tertunda pandemi dan diragukan kualitasnya, PT HATI berhasil memenangkan seleksi Kementerian Agama 2024 dan menjadi pemasok utama RTE bagi jemaah haji Indonesia hingga 2026.
  • Keberhasilan Indonesia sebagai pelopor RTE menarik perhatian Arab Saudi; teknologi ini dinilai efisien, aman, serta berpotensi menjadi standar global layanan konsumsi jemaah haji di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times - Di balik suksesnya penggunaan makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) bagi jemaah haji Indonesia, terdapat perjalanan panjang yang tidak banyak diketahui publik. Teknologi pangan yang kini menjadi salah satu solusi konsumsi pada masa puncak haji itu ternyata telah diperjuangkan sejak 2017 oleh PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI) asal Solo, Jawa Tengah.

Berawal dari persoalan distribusi konsumsi jemaah saat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), PT HATI mengembangkan makanan siap saji yang mampu bertahan lama tanpa mengurangi kualitas dan keamanan pangan. Setelah melewati berbagai tantangan, mulai dari pandemi COVID-19 hingga keraguan sejumlah pihak terhadap teknologi tersebut, Indonesia kini menjadi pelopor penggunaan RTE dalam layanan haji.

1. Berawal dari masalah konsumsi jemaah di Armuzna.

Owner PT HATI, Puspo Wardoyo menunjukkan produk PT HATI. (IDN Times/Larasati Rey)

Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, mengatakan ide pengembangan RTE lahir setelah dirinya berdiskusi dengan sejumlah pejabat Kementerian Agama yang kerap menghadapi persoalan distribusi makanan saat puncak haji.

Menurutnya, kemacetan dan kepadatan jutaan jemaah di Makkah membuat pengiriman makanan segar sering mengalami keterlambatan, bahkan berisiko rusak sebelum sampai ke tangan jemaah.

“Jadi kalau kita mensikapi ini adalah persoalan umat. Persoalan umat harus diselesaikan oleh umat juga. Jadi sebagai fardhu kifayah kan. Harus bagian dari umat Islam yg secara sungguh sungguh fokus berperan aktif dalam menyelesaikan atau mencari solusi dari persoalan 2 keumatan. Salah satunya persoalan haji,” jelas Puspo saat dihubungi dari Arab Saudi, Rabu (3/6/2026).

Dari persoalan tersebut, di bawah naungan Wong Solo Grub, PT HATI kemudian didirikan dengan fokus mengembangkan teknologi pangan untuk kebutuhan haji. Perjalanan itu tidak mudah. Sejak membuka usaha di Jeddah pada 2017, perusahaan harus melakukan berbagai uji coba, sosialisasi, hingga memperkenalkan konsep RTE kepada otoritas haji Arab Saudi.

Pada 2019, produk tersebut mulai mendapat peluang masuk ke layanan haji. Namun rencana implementasi tertunda akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

2. Sempat terkendala pandemi dan keraguan terhadap RTE.

Jemaah haji 2026 menuggh waktu wukuf (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Setelah pandemi mereda, RTE mulai digunakan kembali pada penyelenggaraan haji 2023. Namun saat itu masih terjadi sejumlah kendala karena belum semua penyedia memiliki infrastruktur produksi yang memadai.

Puspo mengatakan sebagian produk dari produsen lain mengalami kerusakan sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengelola haji Arab Saudi yang saat itu baru pertama kali menggunakan teknologi tersebut.

"Padahal kalau dari kita kecil sekali yang rusak itu 0,000 sekian persen, tapi sudah dianggap merusak semua karena belum ada pengalaman atau produk knowledge yang mereka terima dengan baik," ungkapnya.

Meski demikian, PT HATI terus melakukan edukasi mengenai karakteristik makanan siap saji. Menurutnya, RTE justru lebih mudah diawasi kualitasnya dibanding makanan segar karena kondisi produk dapat langsung terlihat dari kemasan.

Pada 2024, Kementerian Agama menggelar beauty contest yang diikuti tujuh perusahaan penyedia RTE. PT HATI keluar sebagai pemenang dan dipercaya memasok sebagian besar kebutuhan makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.

Keberhasilan tersebut berlanjut pada penyelenggaraan haji 2025 dan 2026.

3. Indonesia jadi pelopor, RTE diproyeksikan semakin dominan.

Makanan siap saji atau ready to go (RTE) produksi PT Halalan Tayyiban (PT HATI) unjuk jemaah haji Indonesia di Armuzna. (IDN Times / Larasati Rey)

Puspo menilai keberhasilan implementasi RTE membuat Arab Saudi mulai memberi perhatian lebih terhadap model layanan konsumsi yang dikembangkan Indonesia.

Menurutnya, penggunaan makanan siap saji akan terus meningkat seiring kebutuhan efisiensi distribusi dan peningkatan kualitas layanan bagi jutaan jemaah.

”Alhamdulillahnya Indonesia pelopor pertama dan terbesar penggunaan RTE. Tapi ini menjadi bahan referensi atau bahan kajian untuk dikaji, diteliti, dan selanjutnya dikembangkan menjadi makanan utama jamaah haji seluruh dunia," ujarnya.

Ia menjelaskan RTE bukan hanya membantu distribusi konsumsi saat puncak haji, tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi jemaah. Banyak jemaah memilih berada di Masjidil Haram selama berjam-jam karena jarak hotel yang jauh dan cuaca ekstrem yang bisa mencapai 50 derajat Celsius.

Dengan RTE, jemaah dapat membawa makanan sendiri tanpa harus kembali ke hotel untuk makan.

Meski demikian, Puspo mengaku perjuangan memperkenalkan RTE belum sepenuhnya selesai. Bahkan pada musim haji tahun ini, perusahaan masih harus menanggung kerugian karena harga yang ditetapkan belum sepenuhnya menyesuaikan biaya produksi.

"Tahun ini enggak untung, kita rugi betul," katanya.

Namun demikian, ia optimistis RTE akan menjadi bagian penting dari masa depan layanan konsumsi haji. Menurutnya, teknologi pangan yang terstandarisasi akan membantu memastikan makanan jemaah lebih aman, praktis, dan mudah didistribusikan di tengah kompleksitas penyelenggaraan ibadah haji.

"Suatu saat nanti akan full ready to eat,"ujarnya.

Puspo berharap penggunaan makanan siap saji dalam layanan haji terus dikembangkan secara bertahap hingga menjadi standar baru konsumsi jemaah. Menurutnya, teknologi pangan modern tidak hanya mampu menjawab persoalan distribusi di tengah padatnya aktivitas haji, tetapi juga menjamin kualitas, keamanan, serta kecukupan gizi bagi jemaah yang mayoritas berusia lanjut.

Ia juga berharap pemerintah, penyedia layanan haji, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus mendukung inovasi tersebut agar pelayanan konsumsi semakin baik dari tahun ke tahun. Dengan sistem yang lebih terstandarisasi, Puspo meyakini persoalan keterlambatan distribusi, makanan rusak, hingga pemborosan konsumsi dapat ditekan.

“Harapannya semua berjalan dengan baik, smooth, tanpa ada isu keterlambatan makan, isu makanan busuk, isu kekurangan gizi, dan keamanan pangan. Saya yakin ke depan makanan siap saji akan menjadi salah satu solusi penting dalam pelayanan haji yang semakin modern,” pungkasnya.

Editorial Team

Related Article