Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Pakar Politik: Algoritma Medsos Buat Jebakan Kapitalisme Komunikasi

Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)
Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)

Semarang, IDN Times - Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengatakan algoritma media sosial saat ini tidak hanya membentuk ruang gema (echo chambers). Akan tetapi, juga menciptakan jebakan kapitalisme komunikasi di mana ekspresi personal diperdagangkan demi likes dan shares. 

1. Soroti bahaya enklave algoritmik dan polarisasi afektif

Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)
Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)

“Kita tak lagi bicara untuk memahami, merujuk pada teori Habermas. Kita bicara untuk menang,” katanya dalam kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025).

Canada Research Chair di bidang media digital dan masyarakat global itu lebih lanjut menjelaskan bagaimana media sosial telah menjadi arena kekuasaan yang dikendalikan oleh algoritma, kapitalisme platform, dan budaya popularitas. Ia juga menyoroti bahaya enklave algoritmik dan polarisasi afektif yang mengancam kesehatan demokrasi digital di Asia Tenggara.

Lebih jauh, Merlyna mengajak para akademisi untuk mengembangkan perspektif yang lebih kontekstual membangun teori dari Asia Tenggara, bukan hanya mengimpor pendekatan dari Barat. Ia mengingatkan bahwa netralitas teknologi adalah ilusi, dan kita perlu terus mengkritisinya serta mendorong penguatan literasi digital yang lebih transformatif.

‘’Tugas kita terus membuka ruang dialog dan membongkar ilusi-ilusi digital yang menyelubunginya agar kita semua bisa lebih kritis dalam membaca teks-teks di media sosial,’’ tandasnya.

2. Media sosial jadi arena represi digital

Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)
Pakar politik digital dan media sosial dari Universitas Carleton Kanada, Prof. Merlyna Lim mengisi kuliah umum kuliah umum internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia”, Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (7/5/2025). (dok. Fisip Undip)

Pada kuliah umum tersebut FISIP Undip berkomitmen untuk menjembatani wacana akademik global dan lokal. Pakar demokrasi digital DPIP FISIP Undip, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menggambarkan bagaimana harapan besar pada demokrasi digital kini berubah menjadi kekecewaan.

Alih-alih memperluas partisipasi, media sosial justru dimanfaatkan untuk membungkam suara, menyebar propaganda, dan membentuk “enklave algoritmik” yang memperkuat polarisasi emosional di masyarakat.

“Ironisnya, apa yang dulu dianggap sebagai ruang bebas kini menjadi arena represi digital,” tuturnya yang juga Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Undip itu.

Namun, ia juga optimistis dengan kekuatan masyarakat sipil yang tetap menjadi pilar penting dalam menjaga ruang publik yang sehat.

“Dalam menghadapi tsunami disinformasi dan manipulasi opini publik, masa depan demokrasi digital sangat bergantung pada siapa yang mengendalikan teknologi, serta sejauh mana masyarakat mampu membangun institusi dan norma yang menjunjung deliberasi terbuka dan inklusif,” terangnya.

3. Media sosial bukan lagi ruang netral

Ilustrasi seseorang melihat kehidupan orang lain di medsos (unsplash.com/Nathana Rebouças)
Ilustrasi seseorang melihat kehidupan orang lain di medsos (unsplash.com/Nathana Rebouças)

Selanjutnya, pada sesi diskusi publik tersebut ahli politik dari DPIP FISIP Undip, Yuwanto, M.Si, PhD dan peneliti sosiologi media dan politik Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Undip, Dr. Nurul Hasfi, S.Sos., M.A. turut mengulas bagaimana aktor-aktor politik kini mahir memanipulasi algoritma demi membentuk opini publik. Mereka meyakini relevansi pendekatan kritis terhadap media sosial dalam memahami strategi politik kontemporer, khususnya menjelang kontestasi elektoral.

Sementara Wakil Dekan I FISIP, S. Rouli Manalu, S.Sos., MCommSt., Ph.D., mewakili Dekan FISIP UNDIP, Dr. Teguh Yuwono, M.Pol Admin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini.

“Media sosial bukan lagi ruang netral, ia bisa menjadi alat kekuasaan yang justru anti-demokratis. Kuliah umum ini merupakan bagian dari upaya FISIP untuk membangun sinergi antara ruang kelas, masyarakat, dan dinamika global yang terus berubah,” ujarnya.

Melalui forum seperti ini, Undip terus mendorong lahirnya kesadaran kritis dan kemampuan analitis, khususnya di tengah masyarakat yang semakin terjerat dalam logika algoritma. Dunia berubah, begitu pula bentuk kekuasaan. Harapannya melalui forum-forum seperti ini, mahasiswa, pakar akademisi dan masyarakat dapat membangun kesadaran kritis terhadap bentuk-bentuk baru kekuasaan yang kini tersembunyi dalam platform teknologi yang digunakan sehari-hari.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anggun Puspitoningrum
EditorAnggun Puspitoningrum
Follow Us