Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pedagang Pasar Karangayu Semarang Desak Pemerintah Hentikan Perdagangan Bebas

Pedagang Pasar Karangayu Semarang Desak Pemerintah Hentikan Perdagangan Bebas
Suasana Pasar Karangayu Semarang hampir saban hari sepi. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
  • Pedagang Pasar Karangayu Semarang mendesak pemerintah menghentikan perdagangan bebas karena membuat pasar tradisional sepi dan pembeli lebih memilih belanja di luar pasar dengan harga lebih murah.
  • Harga bahan pokok yang tidak stabil memperburuk kondisi pasar, membuat pedagang harus mengurangi stok dagangan demi bisa tetap berjualan untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Program pemerintah seperti MBG dan rencana koperasi desa merah putih dinilai tidak memberi dampak positif bagi pedagang kecil, bahkan dikhawatirkan menambah persaingan tidak sehat dengan pemasok besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Sejumlah pedagang Pasar Karangayu Semarang meminta pemerintah pusat menghentikan perdagangan bebas. Pasalnya, masifnya perdagangan bebas yang dilakukan di berbagai sektor riil membuat masyarakat tidak lagi tertarik berbelanja ke pasar tradisional.

Seorang pedagang sayuran Pasar Karangayu, Ngaizatun mengatakan situasi pasar tradisional yang semakin sepi dipengaruhi meluasnya akses perdagangan bebas.

Ia bilang ketika banyak pedagang sayur berjualan di kampung-kampung dan kawasan perumahan dengan harga lebih murah otomatis lebih diminati konsumen ketimbang harus bersusah payah datang ke pasar tradisional.

"Coba kalau kegiatan pasar bebas dihentikan seperti zamannya Pak Harto, pasti yang belanja ke Pasar Karangayu tambah ramai, situasinya bisa kembali normal seperti sebelum Corona," kata Issa, sapaan akrabnya kepada IDN Times, Selasa (7/8/2026).

Harga bahan pokok tidak stabil bikin pasar tidak bergairah

Ngaizatun saat menata sayuran nya di lapak Pasar Karangayu Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Ngaizatun saat menata sayuran nya di lapak Pasar Karangayu Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Iza mengingat jika dahulu sebelum pandemik COVID-19, situasi Pasar Karangayu sangat ramai. Setiap waktu masyarakat berbondong-bondong belanja segala macam bahan pokok ke pasar.

Ramainya pasar pada zaman dahulu tidak mengenal waktu. Kondisi pasar yang ramai pembeli selalu membuat para pedagang seperti dirinya ketiban berkah berlipat-lipat.

Namun dengan kondisi sekarang yang sepi pembeli ditambah harga-harga bahan pokok tidak stabil membuat pasar tradisional tidak bergairah.

"Sekarang itu sepi, banyak dagangan yang musti kita kurangi, yang penting bisa jualan buat makan setiap hari," akunya.

Was-was kalah saing dari Kopdes

IMG_20260707_141058.jpg
Beberapa orang melewati lapak penjual daging ayam potong. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Soal apakah pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG) yang berhenti selama libur sekolah telah berdampak positif bagi pedagang, ia bilang tidak ada efeknya sama sekali.

Baik MBG dilaksanakan maupun tidak, Issa mengakui dampak yang terasa hanya harga yang turun. Meski harga turun, pembeli tetap sepi.

"Kalau MBG libur seperti sekarang, memang sayuran jadi murah tapi pembeli tetap sepi. Yang mempengaruhi sebenarnya ya gara-gara pasar bebas. Karena dimana-mana bebas jualan online, di kampung bebas jual sayur dan sebagainya, jadinya orang jadi malas ke pasar. Tapi kalau pasar bebas dihilangkan maka pasar tradisional kayak Karangayu ini bisa ramai lagi," tegasnya.

Dirinya pun mengingatkan pemerintah pusat agar berhati-hati menjalankan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Progam unggulan Prabowo seperti koperasi desa merah putih (Kopdes) juga berpotensi menyangingi pedagang pasar tradisional karena semua barang-barangnya dipasok langsung dari pedagang skala besar. 

"Kalau kopdes ini sudah jalan, ya habislah kita. Pasarnya tambah sepi. Karena kopdesnya dapat harga murah dari pemasok yang besar. Ibaratnya koperasinya pasti ambil barangnya dari juragannya langsung, tidak akan lewat kami yang dari pasar tradisional," ungkapnya.

Pedagang pasar tidak merasakan dampak MBG

IMG_20260707_114438.jpg
Mujiyem seorang pedagang daging ayam menunggu pembeli di Pasar Karangayu Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Suyati, pedagang di lapak sejahtera Pasar Karangayu juga ketar-ketir dengan aturan yang tak menentu dari pemerintah. Ia merasakan dampak program unggulan dari Prabowo sama sekali tidak menyentuh kalangan pedagang.

"MBG itu ada plus minusnya. Cuman kalau kayak gini terus kita jualannya gimana," katanya.

Mujiyem, pedagang daging ayam Pasar Karangayu pun menyoroti pelaksanaan MBG hanya jadi permainan segelintir orang. Sebab pedagang kecil seperti dirinya tidak tersentuh sama sekali.

Justru yang terjadi, MBG hanya dimainkan para juragan ayam potong skala besar dengan mematok harga murah. Sehingga dirinya yang tiap hari jualan daging ayam potong di pasar selalu kalah saing.

"Dapurnya MBG ya ambilnya dari peternaknya langsung. Mereka dapat murah. Ambilnya langsung banyak. Sementara saya di pasar sepi ndak ada yang beli," kata Mujiyem.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Dhana Kencana
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More