Semarang, IDN Times – Tingginya angka kematian udang vaname di tambak intensif masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri akuakultur Indonesia. Pada saat yang sama, biaya produksi terus membengkak akibat ketergantungan industri pakan terhadap bahan baku impor.
Peneliti Undip Semarang Klaim Pakan Spirulina untuk Udang Bisa Kurangi Impor

1. Peneliti Undip kembangkan Dipo-SpiruTech
Menjawab dua persoalan tersebut, tim peneliti Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan inovasi pakan fungsional berbasis mikroalga spirulina. Produk bernama Dipo-SpiruTech ini diklaim mampu meningkatkan daya tahan udang sekaligus menekan angka kematian hingga sekitar 20 persen.
Saat ini produk tersebut memasuki tahap validasi pada sistem budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) skala intensif.
Ketua tim peneliti, Dr. Diana Chilmawati mengatakan, pengembangan Dipo-SpiruTech merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil riset yang selama ini telah dikembangkan di Undip untuk menjawab tantangan nyata di sektor perikanan budidaya nasional.
“Dipo-SpiruTech bukan sekadar produk pakan, tetapi merupakan platform inovasi berbasis sumber daya hayati lokal yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan budidaya udang Indonesia,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, perubahan iklim telah membawa tantangan baru bagi industri budidaya udang. Fluktuasi suhu, salinitas, dan kualitas air menyebabkan risiko serangan penyakit seperti Vibrio spp., Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), hingga Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) semakin tinggi.
2. Tingkatkan sistem imun udang
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap tingginya tingkat mortalitas udang di tambak intensif yang pada akhirnya menurunkan produktivitas pembudidaya.
Pada sisi lain, industri pakan dalam negeri juga masih sangat bergantung pada bahan baku impor yang membuat biaya produksi terus meningkat. Maka itu, tim peneliti Undip mengembangkan pakan berbahan biomassa Spirulina platensis dan tepung fikosianin hasil riset mikroalga yang telah dipatenkan.
Pakan fungsional tersebut dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi udang, tetapi juga meningkatkan sistem imun dan kemampuannya beradaptasi terhadap tekanan lingkungan.
Dalam penelitian yang dilakukan di Laboratorium Pakan Alami FPIK Undip dan tambak budidaya intensif milik PT Ghana Utamadi Dhuniara, para peneliti menguji berbagai parameter pertumbuhan udang mulai dari bobot, panjang tubuh, tingkat kelangsungan hidup (survival rate), hingga efisiensi penggunaan pakan.
Tim peneliti juga melakukan pengujian terhadap sistem kekebalan tubuh udang melalui berbagai indikator imunologis serta kualitas air selama proses budidaya.
3. Biomassa Spirulina kurangi ketergantungan bahan baku impor
Menurut Diana, validasi pada skala tambak menjadi tahapan penting sebelum teknologi tersebut memasuki tahap komersialisasi.
“Kami ingin membuktikan bahwa biomassa Spirulina berkualitas tinggi yang dikembangkan di Undip mampu meningkatkan imunitas, mempertahankan tingkat kelangsungan hidup udang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor,” katanya.
Anggota tim peneliti, Pranata Candra Perdana Putra, menambahkan bahwa pengembangan Dipo-SpiruTech juga dirancang untuk menjawab tantangan keberlanjutan industri akuakultur di tengah perubahan iklim.
“Perubahan iklim merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari dalam budidaya udang. Oleh karena itu, inovasi pakan harus mampu meningkatkan kemampuan adaptasi organisme terhadap tekanan lingkungan,” ujarnya.
4. Bagian dari strategi penguatan ekonomi biru
Melalui pendekatan tersebut, pakan berbasis spirulina tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tambak, tetapi juga menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi biru di Indonesia.
Tim peneliti memproyeksikan penggunaan Dipo-SpiruTech dapat menekan tingkat kematian udang hingga sekitar 20 persen, meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi produksi, serta memperkuat ketahanan udang terhadap serangan penyakit.
Jika berhasil dikomersialisasikan, inovasi ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan industri pakan nasional terhadap bahan baku impor yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam budidaya udang.
Lebih jauh, pengembangan pakan berbasis sumber daya hayati lokal dinilai membuka peluang baru bagi industri akuakultur Indonesia untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif sekaligus berkelanjutan.