Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pertamina RJBT Respon Protes Aptrindo Jateng Soal Pemblokiran Barcode
Pengurus Aptrindo berbincang dengan Pertamina Pusat soal masalah pemblokiran solar. (IDN Times/Dok Humas Pertamina RJBT)
  • Pertamina Patra Niaga RJBT menegaskan penanganan keluhan Aptrindo Jateng-DIY dilakukan cepat dan transparan, termasuk terkait pemblokiran barcode Solar subsidi yang memicu protes para pengusaha truk.
  • Pertemuan resmi antara Pertamina RJBT dan Aptrindo pada 24 April 2026 menghasilkan tindak lanjut terhadap 169 data kendaraan, dengan dukungan tim PSO pusat melalui koordinasi komunikasi nasional.
  • Pertamina mendorong komunikasi terbuka dengan seluruh pemangku kepentingan agar implementasi QR Code Solar subsidi tetap lancar, sementara Aptrindo menilai pemblokiran barcode menghambat operasional truk dan distribusi logistik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (RJBT) buka suara ihwal keluhan para juragan truk yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk (Aptrindo) Jawa Tengah-DIY. Pihak Pertamina menegaskan bahwa proses registrasi dan penanganan keluhan berjalan aktif, cepat, dan terkoordinasi dengan baik. 

Area Manager Communication, Relation, & CSR RJBT, Taufiq Kurniawan, menyampaikan bahwa pihaknya memastikan seluruh masukan dari pelaku usaha ditangani secara cepat dan transparan.

“Pertamina Patra Niaga RJBT berkomitmen memberikan layanan terbaik. Termasuk dalam implementasi QR Code Solar subsidi. Setiap kendala yang disampaikan oleh mitra, baik melalui Aptrindo maupun kanal komunikasi lainnya, kami tindak lanjuti secara cepat dan terkoordinasi dengan tim pusat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima IDN Times, Senin (27/4/2026). 

Faktanya, pertemuan resmi antara Pertamina Patra Niaga RJBT dan Aptrindo telah dilaksanakan pada 24 April 2026 untuk membahas kendala di lapangan sekaligus mempercepat penyelesaiannya. 

Pada hari yang sama, hingga malam hari, sebanyak 169 data kendaraan dari Aptrindo telah diterima dan langsung ditindaklanjuti proses pendaftarannya oleh tim Pertamina Patra Niaga RJBT.

Koordinasi ini tidak bersifat ad hoc. Sejak Desember 2025, Aptrindo se-Indonesia telah tergabung dalam grup komunikasi bersama tim PSO (Public Service Obligation) Pertamina Pusat yang secara khusus menangani implementasi QR Code. Seluruh keluhan dari berbagai wilayah difasilitasi melalui kanal tersebut dan ditindaklanjuti secara real time.

Bahkan pada Sabtu, 25 April 2026, tim PSO Pertamina Pusat memberikan dukungan penuh melalui grup komunikasi tersebut untuk memastikan setiap laporan yang masuk dapat segera diselesaikan. 

Mekanisme ini menjadi bukti bahwa tidak ada pembiaran terhadap kendala yang terjadi di lapangan.

Pertamina dorong adanya komunikasi terbuka dan kolaboratif

Selain dengan Aptrindo, Pertamina Patra Niaga RJBT juga melakukan koordinasi intensif dengan organisasi serupa seperti Organda. 

Hingga saat ini, tidak ditemukan kendala serupa yang bersifat masif, dan apabila terdapat hambatan di lapangan, Pertamina Patra Niaga RJBT secara proaktif memberikan pendampingan serta solusi agar proses registrasi dan penggunaan QR Code tetap berjalan lancar.

Pihaknya juga menilai bahwa penyampaian informasi yang tidak utuh berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang tepat di masyarakat. 

Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong komunikasi yang terbuka dan kolaboratif dengan seluruh pemangku kepentingan, agar setiap permasalahan dapat diselesaikan secara cepat dan tepat.

Dengan sistem koordinasi yang sudah terbangun secara nasional dan dukungan penuh dari tim pusat, pihaknya memastikan implementasi QR Code tetap berjalan optimal untuk mendukung distribusi Solar subsidi yang tepat sasaran.

"Sebagai penutup, Pertamina Patra Niaga RJBT mengimbau seluruh pihak untuk mengedepankan komunikasi yang konstruktif dan memastikan informasi yang disampaikan kepada publik telah terverifikasi secara menyeluruh," akunya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah juragan truk yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DIY memprotes tindakan PT Pertamina yang memblokir barcode pembelian BBM milik mereka. Pasalnya, upaya pemblokiran barcode jelas-jelas merugikan mereka di tengah lonjakan harga BBM non subsidi. 

Seperti diketahui, harga BBM non subsidi jenis Pertamina Dex dan Dexlite mengalami kenaikan 70 persen ketimbang kondisi normal. Harga Pertamina Dex per April ini berkisar Rp23.900-Rp24.250 per liter. Sedangkan harga Dexlite terbaru yakni Rp23.600 per liter. 

Sekretaris DPD Aptrindo Jateng DIY, Dedi Untoro mengatakan naiknya harga BBM non subsidi sebetulnya tidak jadi persoalan bagi para pemilik truk atau angkutan barang

Sebab mayoritas memang tidak terkena dampaknya. Rata-rata sopir truk menggunakan BBM bio solar. 

Hanya saja semenjak harga BBM non subsidi dinaikan di bulan April, pemerintah pusat melalui Pertamina justru memberkati aturan penghapusan barcode. Yang pastinya merugikan pemilik truk. 

"Barcode diblokir sejak ada kenaikan BBM non subsidi. Tiap hari Ada yang (pelaku usaha) yang kena dua lima barcode diblokir. Ada 200 lebih barcode angkutan barang yang terblokir. Dari Pertamina katanya mereka ada penyesuaian data penerima BBM subsidi. Tetapi fakta di lapangan, mereka sama sekali tidak memberikan solusi apapun," ujar Dedi kepada wartawan, Minggu (26/4/2026). 

Ia mengaku upaya Pertamina menghapus barcode angkutan barang berdampak terhadap segi operasional. Dedi menuturkan masifnya penghapusan barcode membuat banyak truk tidak bisa beroperasi karena terkendala pembelian bio solar. 

Sebagai contoh, satu pelaku usaha yang memiliki puluhan truk, saat ini hanya bisa mengoperasikan beberapa truk saja karena armadanya banyak yang berhenti beroperasi.

"Mustinya pemerintah memikirkan nasib kami sebagai pelaku usaha angkutan barang. Karena peran kami ini vital sebagai penyalur logistik dari hulu ke hilir. Nah, kalau kondisi ini berlarut-larut, dampaknya bisa luar biasa. Harga-harga kebutuhan pokok melambung. Dan fatalnya lagi tenaga kita banyak yang nganggur terutama para sopir yang harus menghidupi anak istrinya," urainya. 

Editorial Team