Produk Solo Dibidik Pasar Ekspor, Batik Jadi Andalan ke Mancanegara

- Kementerian Perdagangan melihat batik dan produk budaya Solo berpeluang masuk pasar ekspor, setelah Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti meninjau perajin di Laweyan dan Kauman.
- Kemendag akan memanfaatkan jaringan Atase Perdagangan dan ITPC di 33 negara untuk mempertemukan pelaku usaha Solo dengan buyer internasional melalui business pitching dan business matching.
- Pemkot Solo memprioritaskan pelestarian serta pengembangan batik tulis, dengan menjaga karakter handmade dan identitas budaya lokal saat produk dipromosikan ke pasar lebih luas.
Surakarta, IDN Times – Produk unggulan Kota Solo mulai dibidik untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Batik dan berbagai produk berbasis budaya lokal dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar ekspor jika dipertemukan dengan pembeli internasional yang tepat.
Peluang tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti mengunjungi Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman, Kota Surakarta, Jumat (4/9/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat langsung proses produksi batik sekaligus berdialog dengan para pelaku usaha dan perajin.
Dyah didampingi Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Perdagangan untuk melihat langsung potensi produk unggulan daerah sekaligus membuka akses pemasaran ke pasar internasional.
1. Batik Solo Punya Peluang Tembus Pasar Dunia

Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti bersama Wakil Walikota Solo Astrid Widayani mengunjungi Kampung Batik Kauman, Solo. (IDN Times/Larasati) Dyah mengatakan produk lokal tidak cukup hanya memiliki kualitas, tetapi juga perlu diperkenalkan secara langsung kepada calon pembeli dari berbagai negara. Karena itu, pemerintah berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan buyer internasional.
“Kita bisa mengapresiasi sebuah produk ketika kita melihat prosesnya. Tadi kita melihat proses membatik bersama para pengrajin yang ada di sini, luar biasa sekali,” kata Dyah.
Menurut dia, sejumlah pelaku usaha di Solo telah memiliki pengalaman mengikuti berbagai kegiatan promosi perdagangan, termasuk Trade Expo Indonesia. Produk yang dibawa pun tidak hanya batik, tetapi juga minuman rempah dan berbagai kerajinan lokal.
Kementerian Perdagangan ingin pengalaman tersebut terus dikembangkan sehingga produk-produk Solo tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi memiliki pasar yang lebih luas di luar Indonesia.
2. Kemendag Siapkan Akses ke Buyer Mancanegara

Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti bersama Wakil Walikota Solo Astrid Widayani mengunjungi Kampung Batik Kauman, Solo. (IDN Times/Larasati) Dyah mengatakan Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perdagangan di 33 negara melalui Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Jaringan tersebut menjadi salah satu pintu bagi pelaku usaha untuk mendapatkan akses ke calon pembeli dari berbagai negara. Pertemuan antara pengusaha dan buyer dapat dilakukan melalui skema business pitching maupun business matching.
“Kami dari Kementerian Perdagangan sengaja menjemput bola. Kami ingin melihat secara langsung bagaimana produk-produk unggulan Indonesia dan memfasilitasi para pelaku usaha agar mereka bisa dipertemukan dengan buyer-buyer luar negeri,” ujarnya.
Ia menegaskan, tujuan akhirnya adalah memperluas akses pasar bagi produk unggulan daerah.
“Pada intinya kita ingin mempertemukan para pelaku usaha seperti yang kita lihat di sini dengan buyer dari berbagai negara,” kata Dyah.
3. Pemkot Solo Fokus Jaga Batik Tulis

Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti bersama Wakil Walikota Solo Astrid Widayani mengunjungi Kampung Batik Kauman, Solo. (IDN Times/Larasati) Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyambut baik dukungan pemerintah pusat terhadap produk lokal Solo. Menurutnya, batik menjadi salah satu produk utama yang akan terus didorong karena tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas budaya Kota Solo.
“Mayoritas produk dari Solo yang akan ditampilkan adalah batik. Kami fokus pada pelestarian batik, khususnya bagaimana batik tulis masih terus dikembangkan,” kata Astrid.
Ia menilai kesempatan mengikuti ajang promosi perdagangan seperti Trade Expo Indonesia dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar.
“Trade Expo Indonesia ini merupakan dukungan yang luar biasa dari Kementerian Perdagangan untuk kami yang ada di pemerintah daerah,” ujarnya.
Astrid menambahkan, pengembangan produk Solo diarahkan agar tetap mempertahankan karakter handmade dan kultur asli daerah. Dengan begitu, ekspansi pasar tidak membuat produk kehilangan identitas budaya yang menjadi kekuatannya.
“Bagaimana terus mengembangkan dan melestarikan produk-produk yang memang berbasis handmade, berbasis kultur asli atau budaya asli yang ada di Kota Solo itu sendiri,” ucapnya.





















