Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Semakin Lesu, Apindo Jateng Naikan Harga Produk Manufaktur

Rupiah Semakin Lesu, Apindo Jateng Naikan Harga Produk Manufaktur
Batik Galuh Bali yang didirikan Pande Ketut Krisna (rentalmobilbali.net)
Share Article

Semarang, IDN Times - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah sedang ancang-ancang untuk menaikkan harga produk manufaktur yang diproduksi di semua pabrik 35 kabupaten/kota. Kenaikan harga dilakukan menyusul semakin melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang sudah menyentuh angka Rp16.218.25.

1. Mayoritas bahan baku produk manufaktur masih impor

Pabrik Petrokimia Gresik. (dok. Petrokimia Gresik)
Pabrik Petrokimia Gresik. (dok. Petrokimia Gresik)

Ketua Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan situasi yang dialami para pengusaha kini sangat berat dengan adanya nilai tukar Rupiah yang semakin lesu. 

Apalagi, menurutnya sekitar 80 persen bahan baku untuk industri manufaktur Jawa Tengah masih mengandalkan dari kiriman barang impor. 

"Jadi Dollar yang makin menguat atas Rupiah sangat tidak menguntungkan buat kami di sektor manufaktur. Dan sangat berbahaya dan paling kami takuti. Karena industri kita 80 persen bahan baku harus impor. Kalau kita impor bayarnya pakai Dollar," ungkap Frans ketika dikonfirmasi IDN Times, Sabtu (20/4/2024). 

2. Tarif kargo kapal sudah naik 2-3 kali lipat

ilustrasi kapal kontainer impor (pixabay.com/46173)
ilustrasi kapal kontainer impor (pixabay.com/46173)

Ia mengatakan semakin melemahnya nilai tukar Rupiah juga tidak menguntungkan bagi para eksportir. Musababnya, tarif kargo kapal dari jalur Jawa Tengah menuju Eropa dipastikan sudah naik dua sampai tiga kali lipat. 

Situasinya bertambah runyam karena jalur kargo kapal ke Eropa terkena dampak perang Iran dengan Israel. 

"Jangan lupa ada rantai pasokan yang mengalami gangguan. Sebab, biaya kapal dari Jateng ke Eropa sudah naik 2-3 kali lipat. Anggota kami laporkan demikian. Imbasnya ke produk garmen dan ekspor kita. Apalagi sekarang ada perang Iran. Ini betul-betul sangat berat," akunya. 

3. Apindo berharap pada kinerja Sri Mulyani

Pertemuan Menkeu Sri Mulyani dan Menteri Keuangan Selandia Baru, Nicola Wills. (instagram.com/smindrawati)
Pertemuan Menkeu Sri Mulyani dan Menteri Keuangan Selandia Baru, Nicola Wills. (instagram.com/smindrawati)

Jalan satu-satunya, pihaknya akan memberlakukan kenaikan harga produk manufaktur untuk semua jenis. Akan tetapi besaran kenaikan barangnya akan disesuaikan dengan kemampuan daya beli masyarakat Jawa Tengah. 

Frans pun menaruh harapan yang tinggi kepada tim perekonomian nasional yang dipimpin Menkeu Sri Mulyani dan Bank Indonesia guna secepatnya mengendalikan nilai tukar Rupiah. 

"Harga-harga barang manufaktur kayak pakaian sepatu dan sejenisnya pasti naik tapi perlu juga dilihat daya beli masyarakatnya. Karena menguatnya Dollar ini untuk beberapa industri masih oke misalnya tambang, pertanian kelapa sawit mungkin masih oke. Kayu masih menguntungkan. Tapi saya percaya Menkeu bisa kerja luar biasa untuk jaga Rupiah. Sebab kalau tidak diantisipasi dengan cepat pasti menimbulkan inflasi. Harga minyak akan naik. Listrik akan naik. Gas akan naik. Padahal ini jadi komponen penting di manufaktur. Tentunya harga makanan minuman akan naik juga," paparnya. 

4. Kadin Jateng: Dollar menguat, APBN terkikis

ilustrasi mengatur anggaran keuangan (freepik.com/jcomp)
ilustrasi mengatur anggaran keuangan (freepik.com/jcomp)

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jateng, Hary Nuryanto membenarkan bahwa 90 persen bahan baku industri masih bergantung pada produk luar negeri. Oleh karena itu, dalam waktu dekat biaya logistik sejumlah perusahaan di Jateng akan mengalami kenaikan.

"Industri manufaktur kita bahan baku ketergantungannya masih besar, 90 persen. Dan 30 persennya dari China. Semacam tekstil benang dan sebagainya impor. Terus industri kayak kursi, besinya juga bahan baku luar. Nilai rupiah lemah, bahan baku naik, logistik naik, dampaknya biaya produksi dalam negeri," sambungnya.

Dirinya pun ketar-ketir dengan kondisi nilai tukar Rupiah yang melemah akan mempengaruhi proses pembangunan infrastruktur Jawa Tengah. Karena menguatnya Dollar justru mengikis anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Bila berlarut-larut APBD harus hisa berpihak pada industri terkait bahan baku impor harus ada kebijakan khusus untuk meringankan indsutri agar produksinya bisa ditekan," urainya. 

Share Article
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More

Mantan Artis Terlibat Kasus Pig Butchering di Jateng, Modusnya Ngonten

01 Jun 2026, 17:05 WIBNews