Surakarta, IDN Times – SD Kanisius Pucangsawit di Surakarta mencuri perhatian lewat program ketahanan pangan yang melibatkan siswa, guru, hingga orang tua. Program ini tak sekadar mengajarkan bercocok tanam, tetapi juga membangun karakter anak sejak dini. Bahkan, Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyebutnya sebagai inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia.
SD Kanisius Pucangsawit Jadi Role Model Ketahanan Pangan

1. Sekolah Tanamkan Kemandirian Lewat Berkebun
Program ketahanan pangan di SD Kanisius Pucangsawit dijalankan secara kolaboratif. Para siswa bersama guru aktif mengelola kebun sekolah dengan menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, timun, tomat, cabai, bawang, hingga jagung.
Tak hanya itu, siswa juga diajarkan beternak ayam untuk diambil telurnya sebagai bagian dari pembelajaran kemandirian pangan. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi praktis yang memperkenalkan anak pada siklus produksi pangan secara langsung.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengapresiasi langkah tersebut.
“Top! jadi inspirasi nasional. Jadi di SD Kanisius Pucangsawit ini sangat luar biasa, bapak dan ibu gurunya sama siswanya bersama-sama menjalankan berkebun. Semoga bisa menginspirasi kita semua karena ini adalah investasi karakter anak,” ujarnya saat berkunjung, Kamis (30/4/2026).
2. Libatkan Orang Tua, Dari Panen Hingga Dapur
Keunikan lain dari program ini adalah keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran. Saat masa panen tiba, hasil kebun dan ternak tidak hanya dipetik, tetapi juga diolah bersama menjadi makanan bergizi.
Menurut Respati, pendekatan ini mencerminkan praktik ketahanan pangan yang sesungguhnya karena mencakup proses dari hulu hingga hilir.
“Ini yang diharapkan ketahanan pangan sesungguhnya. Dan tadi di luar berkebun, proses memasak di dapur juga melibatkan orangtua murid untuk ikut memasak. Ini luar biasa sekali,” jelasnya.
Keterlibatan orang tua juga memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak, khususnya dalam pemenuhan gizi.
3. Pembelajaran Holistik Bentuk Karakter Anak
Kepala SD Kanisius Pucangsawit, Perdana Wulansari, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari metode pembelajaran holistik yang diterapkan di sekolah.
Melalui kegiatan berkebun, siswa diajak untuk lebih dekat dengan lingkungan dan belajar mencintai bumi.
“Karena kami punya kebun, jadi anak-anak bisa belajar mencintai bumi, merawat bumi sebagai rumah kita bersama itu bisa diaplikasikan secara langsung,” tuturnya.
Selain itu, siswa juga mendapatkan edukasi gizi, termasuk pemahaman tentang makronutrien dan mikronutrien. Hal ini membuat mereka lebih sadar dalam memilih makanan sehat.
Perdana menambahkan, hasil kebun yang diolah bersama menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa.
Di sisi lain, Respati berharap program serupa dapat diterapkan di sekolah lain, khususnya SD negeri di Kota Solo. Ia menilai, inovasi seperti ini penting sebagai investasi karakter generasi masa depan.