Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

24 Jam Menari ISI Surakarta ke-20, Rayakan Hari Tari Dunia Tanpa Batas

24 Jam Menari ISI Surakarta ke-20, Rayakan Hari Tari Dunia Tanpa Batas
Event 24 jam menari yang digelar ISI Surakarta. (Dok/Istimewa)
Intinya Sih
  • Perayaan 24 Jam Menari ISI Surakarta ke-20 menandai dua dekade perjalanan acara yang berkembang dari lokal menjadi ikon perayaan tari berskala nasional hingga internasional dengan tema 'Tanpa Batas'.
  • Lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota dan luar negeri tampil dalam pertunjukan nonstop selama 24 jam, menghadirkan kolaborasi lintas budaya serta kurasi oleh pakar internasional.
  • Acara ini mempertemukan penari dari berbagai daerah dan negara, menghadirkan orasi budaya serta menjadi bagian program Manajemen Talenta Nasional untuk memperkuat jejaring dan apresiasi seni tari Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surakarta, IDN Times - Perayaan Hari Tari Dunia kembali digelar meriah lewat “24 Jam Menari” yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Tahun 2026 menjadi momen spesial karena menandai dua dekade perjalanan event tari yang telah berkembang menjadi ikon perayaan berskala nasional hingga internasional.

Event ini tak sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang temu bagi penari, koreografer, akademisi, hingga masyarakat untuk berbagi gagasan dan pengalaman lintas budaya.

1. Dua Dekade, Dari Lokal ke Panggung Global

IMG_8820.jpeg
Event 24 jam menari yang digelar ISI Surakarta. (Dok/Istimewa)

Menginjak tahun ke-20, “24 Jam Menari” membuktikan eksistensinya sebagai salah satu perayaan seni tari paling konsisten di Indonesia. Dengan tema “Tanpa Batas: Menembus Medan Budaya”, acara ini menghadirkan keberagaman ekspresi tari yang melampaui sekat geografis, tradisi, dan identitas.

“Helatan Hari Tari Dunia 24 Jam Menari ISI Surakarta diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan yang terbuka bagi para penari, koreografer, pegiat seni, dan masyarakat untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, dan beragam kemungkinan,” ujar Ketua Panitia Prof. Dr. Maryono, S. Kar., M.Hum.

Tak hanya menjadi perayaan, acara ini juga menjadi momentum refleksi akademis tentang peran tari sebagai fenomena antropologis dan sosiologis yang melampaui batas-batas geografis.

2. 24 Jam Nonstop, Hadirkan Ratusan Seniman

IMG_8819.jpeg
Event 24 jam menari yang digelar ISI Surakarta. (Dok/Istimewa)

Rangkaian kegiatan disusun padat dan beragam, mulai dari opening ceremony, festival pertunjukan selama 24 jam, pertunjukan dari keraton, hingga bazar industri kreatif. Selain itu, digelar pula dance department summit meeting yang diikuti 12 perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri.

Sebanyak lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota di Indonesia hingga mancanegara turut ambil bagian. Salah satu daya tarik utama adalah sembilan penari yang tampil menari selama 24 jam tanpa henti.

“Lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota di Indonesia dan luar negeri turut ambil bagian, menjadikan panggung 24 Jam Menari sebagai ruang dialog budaya yang dinamis, inklusif, dan penuh makna.”

Untuk menjaga kualitas artistik, kurasi acara turut melibatkan Matthew Isaac Cohen, Ph.D dari Jerman.

3. Kolaborasi Budaya dan Ruang Inspirasi.

IMG_8822.jpeg
Event 24 jam menari yang digelar ISI Surakarta. (Dok/Istimewa)

Para penari yang tampil berasal dari berbagai daerah seperti Wonogiri, Banyumas, Papua, Jakarta, Solo, Bandung, Surabaya, Madura, hingga Amerika. Setiap penampilan menjadi representasi kekayaan budaya sekaligus refleksi perkembangan seni tari di tengah arus globalisasi.

Selain pertunjukan, acara ini juga menghadirkan orasi budaya oleh Sardono W Kusumo serta terintegrasi dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dari Kementerian Kebudayaan RI.

“Dua dekade perjalanan ‘24 Jam Menari’ ISI Surakarta membuktikan bahwa seni tari memiliki daya hidup yang kuat sebagai media komunikasi lintas budaya.”

Melalui semangat tanpa batas, “24 Jam Menari” terus memperkuat jejaring budaya sekaligus menjadi ruang edukasi dan apresiasi bagi masyarakat luas, menjadikan perbedaan sebagai harmoni dalam gerak.

Share
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More