Semarang, IDN Times – Tren sport tourism atau wisata olahraga semakin menjadi pengungkit baru sektor pariwisata di Jawa Tengah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) mengembangkan potensi tersebut.
Sport Tourism Jadi Mesin Baru Pariwisata Jateng, Siapkan Karimunjawa

1. Kembangkan destinasi lain untuk sport tourism
Tidak hanya memanfaatkan popularitas event lari seperti Borobudur Marathon, tetapi juga mulai mengembangkan destinasi lain, termasuk Karimunjawa, sebagai pusat wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) yang mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum mengatakan, sport tourism saat ini berkembang seiring perubahan perilaku wisatawan yang tidak lagi sekadar mencari destinasi, melainkan pengalaman yang dapat mereka rasakan secara langsung.
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari tourism konvensional menjadi experience-based tourism. Sport tourism menjadi salah satu bentuk wisata pengalaman yang sangat diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Menurut Linda, fenomena tersebut terlihat dari menjamurnya event lari, trail run, hingga fun run di berbagai daerah di Jawa Tengah. Sejumlah kabupaten seperti Kebumen, Banyumas, Sragen, hingga kawasan Borobudur mulai mengembangkan event olahraga sebagai daya tarik wisata baru.
“Ini bukan lagi hanya soal olahraga. Sudah menjadi gaya hidup. Orang ingin mendapatkan pengalaman, membagikannya di media sosial, dan menjadi bagian dari sebuah event yang dianggap prestisius,” katanya.
2. Borobudur Marathon tak lagi sekadar lomba lari
Pemprov Jawa Tengah melihat sport tourism memiliki efek berganda yang besar terhadap sektor pariwisata. Karena itu, Borobudur Marathon tidak hanya diposisikan sebagai ajang olahraga, tetapi juga pintu masuk untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah tengah menyiapkan konsep night tourism atau wisata malam yang akan dikemas bersamaan dengan penyelenggaraan Borobudur Marathon.
“Kami ingin peserta tidak langsung pulang setelah lomba. Mereka bisa tinggal lebih lama, menikmati atraksi malam dan paket wisata lainnya di Jawa Tengah,” ujar Linda.
Selain itu, Disporapar juga menyiapkan paket wisata berbasis aglomerasi yang menghubungkan Borobudur dengan destinasi lain di Jawa Tengah sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan perjalanan.
Upaya tersebut dinilai penting karena kemudahan akses transportasi saat ini membuat wisatawan domestik cenderung melakukan perjalanan singkat saat akhir pekan. Akibatnya, lama tinggal wisatawan relatif pendek meskipun jumlah kunjungan meningkat.
3. Karimunjawa jadi target pengembangan sport tourism baru
Selain Borobudur, Karimunjawa menjadi destinasi yang tengah dipersiapkan sebagai ikon sport tourism baru di Jawa Tengah.
Pada November mendatang, Pemprov Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Jepara akan menggelar Karimunjawa Trail Run yang menggabungkan konsep sport tourism dengan wisata alam dan bahari.
“Karimunjawa identik dengan adventure, marine, dan nature tourism. Kami mengombinasikan semua itu melalui event trail run sehingga menjadi daya tarik baru,” terang Linda.
Menurutnya, event olahraga dipilih karena mampu menarik wisatawan berkualitas tanpa harus mendorong kunjungan massal yang berpotensi membebani daya dukung lingkungan Karimunjawa sebagai kawasan konservasi.
Strategi tersebut berbeda dengan pendekatan mass tourism. Pemprov lebih fokus meningkatkan kualitas kunjungan dan memperpanjang lama tinggal wisatawan.
“Karimunjawa tidak mungkin dikembangkan dengan konsep wisata massal. Yang lebih penting adalah bagaimana wisatawan yang datang bisa tinggal lebih lama dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
4. Persiapan infrastruktur dan amenitas jadi prioritas
Meski promosi wisata terus dilakukan, Linda menegaskan pengembangan sport tourism tidak akan berhasil tanpa dukungan infrastruktur dan amenitas yang memadai.
Maka itu, Pemprov Jawa Tengah telah menggelar forum diskusi bersama Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Jepara, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi kebutuhan Karimunjawa.
Beberapa persoalan yang menjadi perhatian antara lain pengelolaan sampah, kebersihan destinasi, sanitasi, jaringan internet, kualitas jalan, hingga ketersediaan air bersih.
“Ketersediaan air bersih menjadi tantangan utama di Karimunjawa. Ini harus segera dicarikan solusi karena menjadi kebutuhan dasar wisatawan,” katanya.
Pemprov juga mulai memberikan masukan kepada pemerintah daerah terkait penataan kawasan penyangga wisata, termasuk kebersihan Pelabuhan Kartini dan manajemen parkir di Jepara sebagai pintu masuk menuju Karimunjawa.
Curated For You
- Semarang Siap Kolaborasi Sport Tourism untuk Dongkrak Wisata di Jateng29 Jun 2026, 04:00 WIB
- Perkembangan Padel di Semarang Pesat, Berpeluang Jadi Sport Tourism07 Jun 2026, 17:05 WIB