Potret embun es di Dieng (instagram.com/dieng.travel)
Mengapa kawasan dataran tinggi bisa mendadak menjadi dingin ekstrem di tengah musim kemarau? Yoga Sambodo membeberkan beberapa faktor klimatologis utama di balik terjadinya fenomena unik ini:
Aktifnya Monsun Australia
Secara klimatologis, tekanan udara pada periode Juni hingga September di Benua Australia terpantau lebih tinggi dibandingkan di Benua Asia.
Perbedaan tekanan ini menggerakkan angin dari Australia menuju Asia melewati wilayah Indonesia, yang umumnya menandai dimulainya periode musim kemarau seiring aktifnya monsun Australia.
Minimnya Tutupan Awan di Langit
Pada musim kemarau, tutupan awan di langit terpantau sangat minimum.
Absennya objek di langit membuat sinar matahari terasa sangat terik diiringi peningkatan suhu udara pada siang hari.
Sebaliknya, pada malam hari, radiasi panas yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi juga berlangsung optimum karena langit bebas dari tutupan awan, membuat suhu anjlok drastis menjelang subuh.
Tingginya Kadar Air di Pegunungan
Kelembapan udara di wilayah pegunungan dan dataran tinggi tergolong cukup tinggi.
Tingginya kelembapan ini menjadi indikasi kuat bahwa udara di wilayah tersebut memiliki kadar air yang tinggi, yang kemudian mengkristal saat suhu drop ke bawah 0°C.