Tampil di TBRS, Ngesti Pandowo Bakal Jadi Ikon Wisata Budaya Semarang

- Pemerintah Kota Semarang menetapkan Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai ikon wisata budaya dengan pertunjukan rutin di TBRS untuk menghidupkan kembali pusat seni dan budaya kota.
- Ngesti Pandowo merayakan HUT ke-89 dengan berbagai kegiatan seni, bazar UMKM, serta penyerahan kostum baru dari Pemkot sebagai simbol regenerasi dan pelestarian warisan budaya.
- Pemkot Semarang melakukan renovasi gedung pertunjukan TBRS, memperbarui fasilitas, dan memberi dukungan berkelanjutan bagi seniman agar Ngesti Pandowo menjadi daya tarik wisata budaya unggulan.
Semarang, IDN Times – Setelah hampir sembilan dekade bertahan di tengah perubahan zaman, Wayang Orang Ngesti Pandowo kini diproyeksikan menjadi ikon wisata budaya Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang menyiapkan pertunjukan rutin di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sebagai upaya mengangkat kembali kejayaan kesenian yang telah menjadi bagian dari sejarah kota tersebut.
1. Semarang miliki modal kuat melalui Ngesti Pandowo

Komitmen itu disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo di TBRS, Sabtu (18/7/2026) malam.
Bagi Agustina, sebuah kota wisata membutuhkan identitas yang mampu menjadi pembeda dengan daerah lain. Semarang dinilai memiliki modal kuat melalui Ngesti Pandowo yang telah menjadi salah satu kelompok wayang orang legendaris di Indonesia.
“Kalau melihat beberapa pusat pariwisata dunia, tentu harus ada sesuatu yang berbeda dari tiap destinasi. Kota Semarang punya wayang orang dan masyarakatnya gemar nonton wayang, maka sudah cocok kita akan membuat pertunjukan berkala,” ujarnya.
Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi menghidupkan kembali TBRS sebagai pusat kegiatan seni dan budaya di Kota Semarang. Ke depan, kawasan itu tidak hanya menjadi panggung bagi Ngesti Pandowo, tetapi juga berbagai kesenian tradisional lain seperti macapat, geguritan, hingga agenda budaya yang masuk dalam kalender event kota.
2. Ngesti Pandowo rayakan HUT ke-89

Peringatan HUT ke-89 Ngesti Pandowo sendiri berlangsung selama tiga hari dengan mengusung tema “Lestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat”. Beragam kegiatan digelar mulai dari bursa sanggar seni, pentas seni, bazar UMKM, workshop tari, hingga pameran arsip, foto, dan video perjalanan Ngesti Pandowo.
Pada malam puncak acara, Agustina turut tampil dalam pagelaran Wanito Tangguh dengan lakon Wahyu Purbo Sejati bersama para istri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Semarang.
Dukungan Pemkot Semarang terhadap Ngesti Pandowo juga diwujudkan melalui penyerahan simbolis seperangkat busana wayang orang lengkap kepada Ketua Ngesti Pandowo, Joko Purnomo. Bantuan itu menjadi langkah regenerasi kostum yang selama ini masih menggunakan busana warisan para pendiri kelompok wayang orang tersebut.
Agustina mengatakan, kostum-kostum lama yang memiliki nilai sejarah nantinya akan dipensiunkan dari panggung dan disimpan di museum sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan Ngesti Pandowo.
3. Renovasi gedung pertunjukkan di TBRS

“Baju ini simbolnya hanya satu, tapi kami membuatkan banyak untuk menggantikan baju wasiat yang selama ini dipakai teman-teman pemain wayang orang. Baju yang sangat tua nantinya masuk ke museum supaya nanti menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya,” katanya.
Selain menyerahkan kostum baru, Pemkot Semarang juga memberikan tanda tresna kepada lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo, yakni keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo.
Upaya revitalisasi Ngesti Pandowo juga diikuti dengan renovasi gedung pertunjukan di TBRS serta pembaruan sejumlah fasilitas pendukung. Pemerintah Kota Semarang bahkan menyiapkan dukungan berkelanjutan bagi para pelaku seni, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga perhatian terhadap pendidikan anak-anak para seniman.
Langkah ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya di Semarang tidak lagi berhenti pada seremoni tahunan. Jika pertunjukan rutin berhasil diwujudkan, Ngesti Pandowo berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang tidak hanya menghidupkan TBRS, tetapi juga memperkuat identitas Semarang sebagai kota yang memiliki warisan seni pertunjukan hidup di tengah modernitas.





















