Semarang, IDN Times - Pemkot Semarang meresmikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen yang berlokasi di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kamis (6/2/2026). TPS ini tidak sekadar titik buang sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan gerakan sadar lingkungan bagi masyarakat setempat.
TPS Bugen Semarang Tak Sekadar Titik Buang Sampah, Ini Kelebihannya

Intinya sih...
Pemkot Semarang meresmikan TPS Bugen di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan.
TPS ini bukan hanya tempat buang sampah, tetapi juga sarana edukasi dan gerakan sadar lingkungan.
TPS Bugen diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan bagi masyarakat setempat.
1. Perkuat sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas
Selain itu, TPS Bugen ini menandai komitmen Pemkot Semarang untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyoroti, selama ini sering terjadi persoalan klasik penempatan TPS yang kerap ditolak masyarakat.
“Kalau TPS di pinggir jalan dibilang jelek. Di tengah permukiman juga diprotes. Tapi setiap orang menghasilkan sampah. Mau dibuang ke mana kalau tidak ada TPS?” ungkapnya.
Maka itu, TPS Bugen disebut sebagai satu dari sedikit TPS yang dibangun tanpa penolakan warga, dan akan dijadikan pilot project TPS percontohan Kota Semarang.
‘’TPS Bugen disiapkan lebih dari sekadar titik buang sampah. Lokasi ini akan dikembangkan menjadi pusat budidaya maggot untuk mengolah sampah organik, bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan jejaring lingkungan hidup serta akademisi,’’ jelas Agustina.
2. Budaya bersih kota dari TPS
Sebagai bagian dari ekosistem pengolahan organik, Agustina juga mendorong koordinasi dengan dapur-dapur produksi makanan seperti SPPG MBG agar sampah organik dipilah dan disalurkan sebagai pakan maggot.
“Kalau kita ingin perubahan dalam budaya bersih kota, prosesnya memang harus dimulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi yang mengelola, dan berdampak bagi lingkungan,” tambahnya.
Menurut data profil pengelolaan limbah perkotaan, total timbulan sampah di Semarang mencapai lebih dari 1.200 ton per hari, dan hanya sebagian yang dikelola dengan prinsip 3R atau melalui pengumpulan formal.
Selain itu, sampah yang menyumbat saluran air dan sungai sering menjadi penyebab genangan saat musim hujan di kawasan timur kota, termasuk di wilayah sekitar Tlogosari. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang sistematis dari tingkat RT/RW hingga kota.
Kelurahan Tlogosari Wetan, dengan luas wilayah sekitar 1,25 kilometer persegi dan struktur permukiman padat, menghadapi tantangan kolektif dalam mengelola sampah rumah tangga secara efisien.
3. Diharapkan partisipasi aktif warga
Musim hujan dan dataran rendah di beberapa bagian wilayah menyebabkan bahan organik dan plastik yang dibuang sembarangan mudah terbawa oleh aliran air permukaan, memperparah permasalahan lingkungan.
Dengan diresmikannya TPS ini, diharapkan partisipasi aktif warga dalam pemilahan, pengurangan dan pemanfaatan ulang sampah akan meningkat. Wilayah setempat bahkan telah dikenal turut menjalankan program bank sampah yang memberi nilai ekonomi terhadap sampah yang dikumpulkan, sehingga mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan lingkungan.
Agustina menambahkan, pemerintah akan terus mengawal pengoperasian TPS ini dengan program pendampingan dan sosialisasi.
“Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan, karena kota bersih dimulai dari rumah kita sendiri,” tambahnya.
Peresmian TPS Tlogosari Wetan disambut baik oleh tokoh masyarakat dan kader lingkungan. Sejumlah warga menyampaikan optimisme bahwa fasilitas ini akan meningkatkan kebersihan lingkungan serta membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan sampah terpilah.