Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Faktor Tak Terduga yang Bisa Memicu Stroke dan Cara Mengatasinya
ilustrasi sakit (unsplash.com/Alexander Grey)
  • Kesehatan mulut berdampak pada risiko stroke, bakteri jahat di mulut meningkatkan peradangan pembuluh darah otak.
  • Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah dan memicu stroke, mengelola tekanan darah dengan pola hidup sehat sangat penting.
  • Kesehatan usus, kondisi sosial dan ekonomi juga berperan dalam risiko stroke, menjaga keseimbangan bakteri usus dan pola makan yang baik dapat membantu mencegahnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Stroke sering kali datang tanpa peringatan, tetapi memahami faktor-faktor tersembunyi yang menyebabkannya bisa menjadi langkah besar dalam pencegahan. Selain penyebab umum seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol, ada beberapa faktor lain yang mungkin tidak disadari tetapi tetap berisiko.

Yuk, dibahas 5 penyebab stroke yang mengejutkan serta cara mengelolanya agar tetap sehat!

1. Kesehatan mulut yang buruk

ilustrasi kesehatan gigi (unsplash.com/Diana Polekhina)

Menjaga kebersihan mulut bukan hanya soal memiliki senyum yang menawan atau napas yang segar. Bakteri jahat di mulut, seperti Streptococcus anginosus, dapat meningkatkan risiko stroke. Bakteri ini bisa masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan peradangan pada pembuluh darah otak, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.

Untuk mengurangi risiko ini, rajinlah menyikat gigi 2 kali sehari, menggunakan benang gigi untuk membersihkan sisa makanan, dan rutin periksa ke dokter gigi. Kebiasaan sederhana ini bisa berdampak besar pada kesehatan jantung dan otak. Jadi, jangan anggap remeh kesehatan mulut, karena efeknya bisa jauh lebih serius dari sekadar sakit gigi!

2. Tekanan darah tinggi

ilustrasi darah tinggi (pixabay.com/stevepb)

Tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer karena tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi bisa merusak pembuluh darah secara perlahan. Ketika tekanan darah terlalu tinggi, dinding arteri bisa melemah dan lebih rentan terhadap pecah atau tersumbat, yang pada akhirnya bisa memicu stroke. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah melewati batas normal karena merasa baik-baik saja.

Cara terbaik untuk mengelola tekanan darah adalah dengan rutin memeriksa tekanan darah, mengurangi konsumsi garam, berolahraga secara teratur, serta menghindari stres berlebihan. Jika tekanan darah sudah tinggi, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk membantu menurunkannya. Ingat, menjaga tekanan darah tetap stabil bukan hanya untuk kesehatan jantung, tetapi juga untuk mencegah risiko stroke yang mematikan!

3. Atrial fibrillation: Gangguan irama jantung

ilustrasi penyakit jantung (unsplash.com/Giulia Bertelli)

Atrial fibrillation (AFib) adalah kondisi di mana detak jantung menjadi tidak teratur, menyebabkan darah menggenang di dalam jantung dan berpotensi membentuk gumpalan. Jika gumpalan ini lepas dan mengalir ke otak, bisa terjadi stroke yang sangat serius. Kebersihan mulut yang buruk juga bisa meningkatkan risiko AFib, yang berarti kesehatan jantung dan kebersihan mulut saling berkaitan!

Orang dengan AFib sering kali mengalami detak jantung yang tidak teratur, dada berdebar, atau mudah lelah. Jika mengalami gejala ini, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Gaya hidup sehat, seperti menghindari alkohol berlebihan, mengurangi kafein, dan rutin berolahraga, bisa membantu menjaga irama jantung tetap stabil dan mengurangi risiko stroke akibat AFib.

4. Kesehatan usus: Hubungan mikroba dengan stroke

ilustrasi pencernaan sehat (pixabay.com/Alicia Harper)

Siapa sangka bahwa kesehatan usus bisa berdampak pada otak? Keseimbangan bakteri di usus berperan dalam mengatur peradangan di seluruh tubuh, termasuk otak. Jika jumlah bakteri jahat lebih banyak daripada bakteri baik, peradangan bisa meningkat, yang berpotensi menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di otak dan meningkatkan risiko stroke.

Untuk menjaga kesehatan usus, perbanyak konsumsi makanan fermentasi seperti yogurt, tempe, dan kimchi yang kaya akan probiotik. Selain itu, makanan tinggi serat seperti sayuran hijau dan biji-bijian bisa membantu memberi makan bakteri baik dalam usus. Jangan lupakan hidrasi yang cukup, karena air berperan penting dalam pencernaan dan membantu usus bekerja dengan optimal. 

5. Faktor sosial ekonomi: Dampak gaya hidup

ilustrasi finansial (unsplash.com/Towfiwu barbhuiya)

Ternyata, kondisi sosial dan ekonomi juga bisa memengaruhi risiko stroke. Orang dengan pendapatan lebih rendah cenderung memiliki risiko stroke yang lebih tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh akses terbatas terhadap layanan kesehatan, pola makan yang kurang bergizi, atau kurangnya kesempatan untuk berolahraga.

Meskipun tidak semua faktor sosial ekonomi bisa dikendalikan, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengurangi risikonya. Misalnya, mencari alternatif makanan sehat yang lebih terjangkau, berolahraga dengan aktivitas gratis seperti jogging atau senam di rumah, serta memanfaatkan program kesehatan masyarakat. Kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan setiap langkah kecil bisa membawa perubahan besar dalam mencegah stroke.

Memahami faktor-faktor tersembunyi yang bisa meningkatkan risiko stroke adalah langkah pertama dalam pencegahan. Jangan menunggu sampai terlambat! Lakukan perubahan kecil mulai dari sekarang, seperti lebih disiplin dalam menjaga kebersihan gigi, mengatur pola makan, dan rutin berolahraga. Sehat itu pilihan, dan mencegah selalu lebih baik daripada mengobati!

Editorial Team

Related Article