Surakarta, IDN Times - Memasuki pertengahan tahun 2026, masyarakat Jawa bersiap menyambut datangnya Malam 1 Suro. Di tengah ramainya persiapan ritual budaya, ada satu fenomena sosial yang selalu berulang setiap tahunnya: industri dekorasi pernikahan, gedung pertemuan, hingga katering mendadak sepi orderan.
Bukan tanpa alasan, mayoritas masyarakat yang memegang teguh adat Jawa pantang keras menggelar hajatan besar, terutama pernikahan, di sepanjang bulan Suro. Ada mitos kuat yang menyebutkan bahwa nekat menikah di bulan pertama penanggalan Jawa ini bisa mendatangkan kesialan, mulai dari seret rezeki, rumah tangga penuh pertengkaran, hingga tertimpa musibah (bala).
Namun, secara esensi budaya dan sejarah, kenapa larangan ini bisa begitu melekat dan ditakuti? Yuk, bedah alasan filosofis di balik pantangan nikah di bulan Suro berikut ini, Lur!
