Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Keistimewaan 10 Malam Terakhir Ramadan dan Panduan Ibadahnya
ilustrasi iktikaf bersama anak (pexels.com/Naufal Fawwaz Assalam)
  • Sepuluh malam terakhir Ramadan dianggap paling sakral karena di dalamnya terdapat Lailatulqadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan menurut ajaran Islam.
  • Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti iktikaf, tadarus Al-Qur’an, qiyamullail, zikir, dan doa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT selama periode ini.
  • Malam-malam tersebut juga diyakini sebagai waktu pengampunan dosa, sehingga umat disarankan menjaga stamina, mengurangi tidur, serta rutin bersedekah agar ibadah berjalan maksimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ibarat sebuah perlombaan lari, 10 malam terakhir pada bulan Ramadan adalah lintasan sprint menuju garis akhir. Periode ini sangat krusial dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan meningkatkan intensitas ibadah secara drastis dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Berikut adalah tiga alasan utama mengapa 10 malam terakhir Ramadan begitu istimewa.

1. Perburuan Lailatulqadar

ilustrasi melakukan aktivitas ringan saat iktikaf (unsplash.com/Masjid Pogung Dalangan)

Alasan utama di balik keistimewaan periode ini adalah hadirnya Lailatulqadar (Malam Ketetapan). Berdasarkan Surah Al-Qadr di dalam Al-Qur'an, beribadah pada satu malam memiliki nilai yang lebih baik daripada beribadah selama 1.000 bulan (sekitar 83 tahun).

Di Kota Semarang, malam-malam ganjil (malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29) menjadi puncak kepadatan jemaah di masjid-masjid besar, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

2. Tradisi Iktikaf

ilustrasi suasana iktikaf di masjid (pexels.com/Ahmet Polat)

Iktikaf adalah aktivitas berdiam diri di dalam masjid dengan niat murni untuk beribadah. Selama 10 malam terakhir, jemaah melepaskan urusan duniawi sejenak untuk berfokus pada:

  • Tadarus Al-Qur'an: Mengkhatamkan atau memperdalam bacaan ayat suci.

  • Qiyamullail: Menjalankan salat malam (seperti tahajud dan witir) yang umumnya dimulai pada pukul 01.00 WIB.

  • Zikir dan Doa: Memperbanyak zikir, terutama melafalkan doa "Allahumma innaka 'afuwwun..."

3. Waktu Pengampunan Dosa

ilustrasi suasana iktikaf di masjid (pexels.com/Bilal Furkan KOŞAR)

Fase ini dikenal sebagai itqun minan nar atau pembebasan dari api neraka. Umat Islam meyakini bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh bertobat pada periode ini akan mendapatkan ampunan total atas dosa-dosanya di masa lalu.

Cara Memaksimalkan Ibadah 10 Malam Terakhir

ilustrasi suasana iktikaf di masjid (unsplash.com/abu mikayla)

  • Konsisten di Malam Ganjil dan Genap: Meskipun Lailatulqadar sering diprediksi jatuh pada malam ganjil, umat Islam dianjurkan untuk tetap rajin beribadah pada setiap malam agar momen istimewa tersebut tidak terlewat.

  • Kurangi Tidur, Perbanyak Sujud: Kurangi jam tidur malam secara bertahap dan gunakan sisa waktu tersebut untuk bermunajat.

  • Sedekah Harian: Keluarkan sedekah, meskipun dalam jumlah kecil, setiap hari selama 10 malam terakhir. Jika bertepatan dengan Lailatulqadar, pahalanya setara dengan bersedekah setiap hari selama 83 tahun.

  • Persiapan Fisik: Mengingat kondisi cuaca di Semarang yang terkadang tidak menentu, pastikan asupan air putih dan vitamin tetap terjaga saat sahur. Hal ini penting agar tubuh memiliki stamina yang kuat untuk melaksanakan qiyamullail.

Secara keseluruhan, 10 malam terakhir bukan sekadar penanda bahwa bulan Ramadan akan segera berakhir, melainkan sebuah kesempatan emas bagi umat Islam untuk melakukan perbaikan besar pada catatan amal kebaikan.

Editorial Team