Semarang, IDN Times - Komunitas lintas agama dan Pemerintah Kota Semarang menggelar sahur bersama di Pura Agung Girinatha, Selasa (24/2/2026) dini hari. Pada kegiatan tersebut dihadiri Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Komunitas di Semarang Sahur di Pura Giri Natha, Hadir Sinta Nuriyah

1. Sahur di Pura sebagai simbol keberagaman
Momentum sahur Ramadan yang berlangsung di rumah ibadah umat Hindu tersebut menjadi simbol bahwa keberagaman di Kota Semarang dirawat dalam praktik.
Istri Presiden RI keempat itu menyampaikan, bahwa kegiatan sahur lintas komunitas yang ia jalankan merupakan bagian dari upaya merawat persaudaraan di tengah kemajemukan bangsa.
“Indonesia itu adalah rakyat yang majemuk. Puasa itu mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan. “Lita’arafu, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, bukan untuk saling bertengkar,” kata Sinta, mengutip pesan yang kerap ia sampaikan dalam berbagai kesempatan sahur lintas komunitas.
2. Harmoni sosial adalah fondasi pembangunan kota
Menurutnya, nilai-nilai seperti jujur, adil, sabar, ikhlas, dan saling menghormati menjadi fondasi agar masyarakat dapat hidup berdampingan dalam damai.
Melalui momentum ini, Pemerintah Kota Semarang menegaskan bahwa toleransi dan inklusivitas menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Semarang sebagai rumah bersama.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa harmoni sosial adalah fondasi pembangunan kota. Ia menyampaikan bahwa capaian Kota Semarang yang berada di tiga besar nasional Indeks Kota Toleran menjadi indikator bahwa ruang aman bagi seluruh warga terus dijaga.
“Harmoni ini tidak hadir dengan sendirinya, harmoni ini dibangun dari kesediaan untuk saling memahami, keberanian untuk saling menerima, dan komitmen bersama untuk menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan,” ujarnya.
3. Pastikan warga merasa aman beribadah
Wali kota juga menekankan bahwa toleransi bagi Kota Semarang berarti memastikan setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya. “Bagi kami, toleransi adalah bagaimana setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya, bagaimana perbedaan hadir tanpa rasa curiga, dan bagaimana kita saling menyapa sebagai sesama manusia dengan hormat dan hangat,” lanjutnya.
Selain memperkuat komitmen lintas iman, Pemerintah Kota Semarang juga memperluas makna inklusivitas melalui pembangunan Rumah Inspirasi Disabilitas. Dari 16 kecamatan di Kota Semarang, sebanyak tujuh rumah inspirasi telah beroperasi menjadi ruang bertemu, bermain, dan memperoleh akses yang setara bagi penyandang disabilitas.
“Setiap kecamatan akan mendapatkan akses dan ruang untuk bermain, bertemu, dan diperlakukan setara dengan seluruh warga Kota Semarang,” tegas Agustina.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang kota yang inklusif, agar seluruh warga, termasuk kelompok difabel, dapat terlibat aktif dalam kehidupan sosial.