Minat Gen Z Merantau ke Jepang Meningkat Lewat Jalur Lembaga Penyalur
- Minat Gen Z Jawa Tengah untuk bekerja di Jepang meningkat pesat, didorong kemudahan akses informasi dan kisah sukses pekerja migran yang menginspirasi lewat jalur lembaga pelatihan kerja.
- LPK Kizuna Mitra Global di Semarang menyiapkan calon pekerja melalui pelatihan bahasa, budaya, dan disiplin selama enam bulan sebelum diberangkatkan ke Jepang dengan tingkat keberhasilan penempatan tinggi.
- Tingginya permintaan tenaga kerja di Jepang akibat penuaan penduduk membuka peluang besar bagi anak muda Indonesia, dengan potensi penghasilan menjanjikan serta masa kerja yang kini bisa diperpanjang hingga lima tahun.
Semarang, IDN Times - Minat anak muda dari kalangan generasi Z di Jawa Tengah untuk merantau ke luar negeri, khususnya ke Jepang, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mereka memanfaatkan lewat jalur Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) atau penyalur sebagai jembatan untuk bekerja di Negeri Sakura.
1. Akses informasi makin mudah
Kemudahan akses informasi serta banyaknya kisah sukses pekerja migran yang berhasil mendulang rezeki di negeri orang membuat peluang tersebut semakin dilirik oleh generasi muda di Jateng. Mereka pun menempuh jalan lewat jalur penyaluran, salah satunya melalui LPK Kizuna Mitra Global di Kota Semarang.
Lembaga penyalur yang sudah berdiri sejak tahun 2018 dan berlokasi di Jalan Beringin Rejo Barat No 54, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang ini menyiapkan calon pekerja migran melalui pelatihan khusus sebelum berangkat ke Jepang.
Sebelum diberangkatkan, para calon pekerja migran diwajibkan mengikuti pelatihan selama sekitar enam bulan. Materi pelatihan meliputi bahasa Jepang, pengenalan budaya kerja, hingga pembiasaan disiplin dan kebersihan.
Direktur LPK Kizuna Mitra Global, Eko Setyo Putro mengatakan, fenomena bekerja ke luar negeri sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Sejak lama para anak muda sudah tertarik bekerja di luar negeri, meskipun dahulu informasi yang beredar masih terbatas dan lebih banyak didapat dari cerita mulut ke mulut.
“Dulu minatnya sudah ada, bahkan saya sendiri pernah bekerja di luar negeri pada tahun 2005 sampai 2008. Waktu itu informasinya masih dari gethok tular atau cerita dari orang tua. Sekarang informasi jauh lebih terbuka,” ujarnya kepada IDN Times.
2. Tingginya permintaan pekerja migran dari Jepang
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di Jepang juga menjadi faktor utama tingginya permintaan pekerja migran dari Indonesia. Jepang saat ini menghadapi tantangan demografi berupa tingginya jumlah penduduk lansia serta berkurangnya tenaga kerja usia produktif.
“Usia lansia di Jepang sangat besar dan tenaga kerja mereka tidak cukup. Jumlah penduduk Jepang tidak sebanyak Indonesia, sehingga permintaan pekerja dari Indonesia cukup tinggi,” terang Eko.
Maka itu, calon pekerja migran yang akan berangkat ke Negeri Sakura harus memenuhi sejumlah syarat, yaitu yang utama bisa berbahasa Jepang, belajar budaya, dan kemampuan beradaptasi.
“Bahasa Jepang menjadi syarat utama. Selain itu budaya di sana juga berbeda, jadi peserta harus dipersiapkan agar bisa cepat beradaptasi. Jangan sampai datang ke negara orang malah tidak dianggap,” kata Eko yang pernah bekerja di manufaktur produsen suku cadang otomotif di Jepang.
Peserta yang dapat mengikuti program ini berusia minimal 18 tahun dan maksimal 30 tahun, menyesuaikan dengan permintaan dari perusahaan di Jepang. LPK Kizuna memprioritaskan peserta dari wilayah Jawa Tengah seperti Semarang, Kendal, Demak, Salatiga, dan Jepara.
4. Berangkatkan 100 pekerja ke Jepang
Proses pelatihan kerja melibatkan tenaga pengajar dari kalangan akademisi perguruan tinggi serta praktisi yang pernah bekerja atau menjalani program magang di Jepang. Setiap kelas pelatihan dibatasi maksimal 15 orang agar proses pembelajaran lebih efektif.
Pendaftaran dibuka hampir setiap bulan karena minat calon peserta terus berdatangan. Peserta dikenakan biaya pelatihan dasar sekitar Rp8 juta untuk tiga bulan pertama, atau sebelum mengikuti wawancara dengan perusahaan pengguna di Jepang.
“Setelah pelatihan dasar, peserta akan mengikuti wawancara dengan user dari Jepang. Ada juga yang tidak berangkat, misalnya karena tidak datang saat wawancara atau alasan pribadi,” jelas Eko.
Dalam satu tahun, LPK Kizuna mampu memberangkatkan sekitar 100 pekerja. Sementara, pekerjaan yang tersedia bagi pekerja migran cukup beragam, mulai dari sektor manufaktur, peternakan, hingga konstruksi.
Eko menjelaskan, jika peserta dinyatakan lolos seleksi dan mendapatkan pekerjaan, mereka akan menjalani pelatihan lanjutan hingga masa persiapan keberangkatan. Untuk biaya pemberangkatan, pemerintah telah menetapkan batas maksimal sebesar Rp35 juta. LPK Kizuna sendiri menetapkan biaya sekitar Rp33 juta.
5. Tingkat keberhasilan penempatan kerja tinggi
‘’Tingkat keberhasilan penempatan pekerja melalui lembaga ini mencapai lebih dari 90 persen. Sebagian besar kendala mereka yang gagal lolos biasanya berasal dari faktor pribadi, seperti menikah atau permintaan keluarga untuk tetap tinggal di Indonesia,’’ tuturnya.
Untuk diketahui, rata-rata pekerja migran Indonesia bekerja di Jepang selama tiga tahun. Namun, saat ini masa kerja dapat diperpanjang hingga lima tahun karena kebutuhan tenaga kerja yang semakin tinggi. Bahkan pemerintah Jepang juga mulai membuka program yang memungkinkan pekerja asing menetap lebih lama.
Menurut Eko, besarnya peluang kerja dan gaji yang relatif besar dibandingkan kerja di dalam negeri menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi Z untuk pergi mencari kerja di Jepang. Para pekerja mendapatkan gaji sesuai upah minimum regional daerah tempat mereka bekerja di Jepang.
Selain faktor ekonomi, perkembangan media sosial turut memengaruhi meningkatnya minat anak muda untuk bekerja di Jepang. Banyak konten yang menampilkan kehidupan pekerja migran di luar negeri, sehingga memunculkan rasa penasaran dan motivasi bagi generasi muda.
6. Hasil bekerja di Jepang menjanjikan
“Konten di media sosial juga menjadi motivasi. Mereka melihat cerita sukses dari keluarga, tetangga, atau kakak kelas yang sudah bekerja di Jepang,” ujarnya.
Eko menuturkan, satu orang yang berhasil bekerja di Jepang sering kali mampu mendorong dua orang lainnya untuk mengikuti jejak yang sama. Ikatan keluarga yang kuat di Indonesia juga membuat keberhasilan satu anggota keluarga menjadi inspirasi bagi yang lain.
Hasil bekerja di Jepang dinilai cukup menjanjikan. Banyak pekerja migran yang mampu membeli rumah, tanah, bahkan kendaraan setelah pulang ke Indonesia. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam pengelolaan keuangan.
“Penghasilan memang besar, tapi ada juga pekerja migran yang belum bisa mengelola uang dengan baik,” katanya.
Dengan semakin terbukanya informasi dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di Jepang, peluang generasi muda Indonesia untuk bekerja di negeri sakura diperkirakan akan terus bertambah. Lembaga pelatihan seperti LPK Kizuna pun menjadi salah satu jembatan bagi anak muda untuk meraih kesempatan tersebut.



















