Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pulihkan Luka Jiwa Gen Alpha di Rumah Duta Revolusi Mental Semarang

Pulihkan Luka Jiwa Gen Alpha di Rumah Duta Revolusi Mental Semarang
Koordinator Pelaksana dan Psikolog Klinis RDRM-ULDPKPD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog sedang melakukan psikoedukasi pada peserta didik di Kota Semarang. (dok. RDRM Semarang)
Share Article

Semarang, IDN Times - Masalah kesehatan mental marak dialami oleh berbagai generasi, tak terkecuali generasi Alpha. Kalangan remaja pada usia di rentang 10-19 tahun ini termasuk rentan mengalami gangguan psikologis di saat proses tumbuh kembang mereka.

1. Unit layanan disabilitas RDRM berdiri tahun 2019

Rumah Duta Revolusi Mental merupakan  unit layanan disabilitas dan pendidikan karakter bagi peserta didik di bawah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang yang berlokasi di Jalan Simongan Raya No 49 Semarang. (dok. RDRM Semarang)
Rumah Duta Revolusi Mental merupakan unit layanan disabilitas dan pendidikan karakter bagi peserta didik di bawah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang yang berlokasi di Jalan Simongan Raya No 49 Semarang. (dok. RDRM Semarang)

Mencermati masalah kesehatan jiwa itu, Pemerintah Kota Semarang mendirikan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) untuk menolong berbagai masalah disabilitas mental yang dialami para peserta didik mulai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 2019. RDRM sendiri merupakan unit layanan disabilitas dan pendidikan karakter bagi peserta didik di bawah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang yang berlokasi di Jalan Simongan Raya No 49 Semarang.

Sampai saat ini banyak kasus kesehatan mental yang sudah ditangani RDRM sebagaimana mayoritas penderitanya adalah generasi Alpha.

Koordinator Pelaksana dan Psikolog Klinis RDRM-ULDPKPD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog mengaku, tren kasus kesehatan mental pada remaja meningkat dalam waktu 2-3 tahun terakhir.

‘’Tepatnya setelah pandemik COVID-19, masalah psikologis pada remaja mulai muncul. Apalagi, saat mereka mulai masuk sekolah atau kembali sekolah tatap muka. Kasusnya beragam, yakni ada yang mengalami kecemasan, stres karena tidak bisa beradaptasi, dan lainnya. Namun, kasus itu masih bisa diselesaikan oleh pihak sekolah melalui pertolongan dan pendampingan psikologis sebagai penguatan,’’ ungkapnya kepada IDN Times, Jumat (18/10/2024).

2. Tidak ada faktor tunggal penyebab gangguan psikologis

Koordinator Pelaksana dan Psikolog Klinis RDRM-ULDPKPD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog sedang memberikan pendampingan pada generasi Alpha yang memiliki masalah mental. (dok. RDRM Semarang)
Koordinator Pelaksana dan Psikolog Klinis RDRM-ULDPKPD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog sedang memberikan pendampingan pada generasi Alpha yang memiliki masalah mental. (dok. RDRM Semarang)

Kemudian, seiring isu kesehatan mental terus digaungkan, penderita gangguan psikologis dari generasi yang lahir di tahun 2010-2024 ini semakin banyak bermunculan karena kesadaran masyarakat masalah tersebut perlu ditangani. Sepanjang tahun 2022–2024, Disdik dan RDRM menyoroti sejumlah permasalahan disabilitas mental ditemukan seperti kecemasan dari tingkat ringan hingga berat yang sampai mengarah ke phobia. Lalu, school refusal atau penolakan terhadap sekolah, school phobia atau ketakutan berlebihan pada sekolah, indikasi adiksi terhadap gadget, depresi, bahkan sampai gangguan skizofrenia.

‘’Gangguan psikologis itu kami ditemukan pada peserta didik di bangku SD dan SMP. Dari kondisi itu membuktikan bahwa masalah kesehatan mental nyata ada. Dan jika ditarik benang merahnya, semua anak-anak yang mengalami permasalahan kesehatan mental ini, awalnya karena memiliki luka di hati,’’ tutur Putri.

Menurut dia, tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan remaja mengalami masalah mental. Melainkan ada banyak faktor seperti trauma masa lalu, perundungan teman sebaya, persaingan, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan lainnya. Namun, satu hal yang benar-benar penting, yaitu terkait manajemen emosi. Pada usia remaja, kemampuan mereka dalam mengelola emosi belum berkembang dengan baik.

Selain itu, generasi Alpha sendiri mengalami masalah penyesuaian hidup karena mereka lahir di era digital, maka remaja usia belasan ini harus hidup di dua ‘dunia’, yakni nyata dan maya.

3. Gen Alpha alami masalah penyesuaian hidup

ilustrasi anak bermain gadget (pixabay.com/andrii Sinenkyi)
ilustrasi anak bermain gadget (pixabay.com/andrii Sinenkyi)

‘’Jadi, sebenarnya generasi Alpha ini mengalami masalah penyesuaian antara hidup di dunia online dan offline, yang kita lihatnya akhirnya mereka kok apatis, kok kadang-kadang terlalu gadget banget. Banjir informasi di dunia maya ini mempengaruhi kognitif mereka. Sedangkan, remaja ini masih dalam pembentukan kepribadian. Hal itu sangat mempengaruhi kesehatan mental seseorang,’’ jelas Putri.

Sebagai unit layanan disabilitas resmi di bawah Disdik Kota Semarang, RDRM turut bertanggung jawab menangani masalah psikologis peserta didik. Mulai dari menyelenggarakan berbagai program psikoedukasi, seminar, hingga psikoterapi.

“Pertama, kami mengajak para guru di sekolah untuk peka terhadap isu kesehatan mental dan memperhatikan kondisi psikologi siswa. Ayo jadi teman curhat siswa,” ujarnya.

Satu contoh program yang diselenggarakan oleh RDRM, yaitu Tameng (ketahanan mental di era digital). Melalui program itu RDRM melalukan psikoedukasi kepada guru dan siswa agar mereka mempunyai resiliensi, tidak hanya sehat mental tapi juga tahan mental di era digital.

“Kemudian, juga ada layanan asesmen psikologis. Jadi, kalau sudah ada laporan ‘Bu anak saya sudah tidak masuk sekolah seminggu. Bu anak saya sudah (mohon maaf ya) mulai nyilet-nyilet dirinya sendiri itu apa ya Bu?’ Nah ini kami mulai lakukan asesmen, kemudian pemulihan, psikoterapi. Tapi psikoterapi yang awal ya, karena kalau yang mendalam itu kami sarankan tetap di rumah sakit. Jadi, harus di fasilitas layanan kesehatan,” jelas Putri.

4. Libatkan ahli, guru dan orang tua dalam penanganan masalah mental remaja

ilustrasi sekelompok remaja sedang berdiskusi (pexels.com/Alexander Suhorucov)
ilustrasi sekelompok remaja sedang berdiskusi (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Penanganan masalah mental generasi Alpha oleh RDRM ini juga melibatkan tiga partai, yaitu ahli, orang tua, dan guru. Mereka akan ditemukan untuk mencari kesepakatan pendampingan pada anak.

“Contoh kasus, ada siswa yang mengalami gangguan psikologis school refusal. Gangguan ini mengarah ke school phobia. Dia sudah mulai fobia sama sekolah gara-gara di-bully. Berarti penanganannya, jangan paksa anak untuk masuk sekolah. Justru malah sekolah itu memberikan layanan pendidikan inklusif dimana anak ini boleh belajar dari rumah. Kemudian, ada home visit dari guru, ada beberapa anak yang ‘bu saya mau ke sekolah belajar kalau murid-muridnya sudah pada pulang ya boleh. Bu saya mau ujian, saya mau belajar, tapi cuma di terpusat atau di ruang BK sendiri itu boleh’. Jadi kita sediakan ruang relaksasi, mereka di situ juga bisa, kalau di SMP itu ada konseling berkala. Jadi sekolah itu benar-benar melihat kebutuhan dan kondisi psikologi siswa,” jelasnya.

Selanjutnya, peran orang tua di sini adalah sebagai sahabat yang selalu mendampingi dan membantu di rumah, menginfokan kondisi perkembangan psikologisnya, memanajemen aktivitas selama anak hanya di rumah, dan lainnya. Sedangkan, RDRM akan mendampingi dalam pemulihan psikologis atau psikoterapi awal. Pemulihan ini adalah perjalanan.

“Saat ini masyarakat semakin sadar dengan kesehatan mental dan pergerakannya sudah di atas 50 persen. Justru malah mendekati 80-90 persen terkait isu-isu kesehatan mental. Para remaja juga sadar banget, tapi kalau orang tua masih banyak yang kaget-kaget. Sebab, ada kesenjangan usia generasi, stigma kenceng ODGJ tidak punya masa depan. Sedangkan, guru sendiri sudah mulai terbuka karena ibaratnya sudah kita rangkul. Saat ini gelombang masyarakat untuk curhat atau konsultasi tentang masalah psikologis luar biasa,” kata Putri.

Maka itu, imbuh dia, RDRM akan terus menerus mengangkat isu kesehatan mental seperti disabilitas mental. Melibatkan guru, komite sekolah dan orang tua siswa dalam penanganannya. Upaya ini untuk mendorong agar stigma gangguan psikologis hilang dan membuat masyarakat tidak takut untuk bersuara.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
ANGGUN PUSPITONINGRUM
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More

Dompet Selamat! 5 Trik Pacaran Hemat di Solo-Semarang Pas Malam Minggu

27 Jun 2026, 16:00 WIBNews