Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rektor Unissula Didatangi, Diminta Bikin Video Testimoni Jokowi

Rektor Unissula Didatangi, Diminta Bikin Video Testimoni Jokowi
Rektor Unissula Prof Dr Gunarto. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Share Article

Semarang, IDN Times - Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof Dr Gunarto didatangi polisi dan juga mantan rektor yan merupakan rekan sejawatnya menjelang pelaksanaan coblosan Pemilu 2024. Tepatnya saat memasuki masa tenang kampanye, Gunarto mengaku didatangi dari aparat kepolisian untuk mengajaknya agar membuat video testimoni tentang Presiden Jokowi.

1. Rektor Unissula didatangi polisi

Rektor Unissula Prof Dr Gunarto saat konferensi pers di kampusnya. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Rektor Unissula Prof Dr Gunarto saat konferensi pers di kampusnya. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurut Gunarto, permintaan yang disampaikan kedua polisi itu sama persis seperti pengakuan Rektor Unika Soegijapranata Dr Ferdinandus Hindiarto. 

"Jadi dipicu kampus Unissula yang ikut didatangi oleh kepolisian, ada dari kapolsek, ada dari kapolres yang meminta supaya membuat video seperti yang disampaikan rektor Unika," tutur Gunarto dalam tayangan streaming resmi Unissula, Selasa (13/2/2024). 

2. Ada mantan rektor juga membujuknya

Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof Dr Gunarto SH MH. (Instagram.com/@yourunissula)
Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof Dr Gunarto SH MH. (Instagram.com/@yourunissula)

Saat kejadian ia dengan tegas menolak permintaan kedua perwira polisi tersebut. Namun secara tak terduga pihaknya kembali dibujuk. Kali ini yang mendatanginya adalah seorang mantan rektor. 

Menurut pengakuannya, mantan rektor itu memintanya untuk tidak memberitakan kabar-kabar yang buruk mengenai citra Presiden Jokowi. Ia curiga hal ini dikhawatirkan bisa mempengaruhi tingkat elektoral Jokowi di kontestasi Pilpres. 

"Setelah kita menolak dari kepolisian, ada mantan rektor yang datang ke Unissula, yang hadir juga ke Unissula untuk meminta saya supaya tidak memberitakan yang buruk terhadap pemerintahan Jokowi yang berpengaruh ke elektoral Pilpres. Yang diselenggarakan kalau satu putaran 14 Februari kalau dua putaran kalau gak salah 26 Juli," katanya. 

3. Rektor Unissula: Suasana yang menekan secara psikologis

Tanda tangan deklarasi menolak kecurangan dan intimidasi pemilu 2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Tanda tangan deklarasi menolak kecurangan dan intimidasi pemilu 2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Diakuinya bahwa suasana hatinya saat didatangi polisi maupun mantan rektor menjadi tidak enak. Bahkan dirasakannya ada semacam tindakan untuk menekan dirinya sebagai Rektor Unissula. 

Padahal di sisi lain kampusnya sedang getol memperjuangkan perbaikan kualitas demokrasi di Indonesia. Terutama dalam memadang pelaksanaan Pilpres 2024, ia menegaskan telah mencium gelagat bau busuk nepotisme. 

"Karena dipicu suasana yang menekan secara psikologis yang membuat kita menjadi tidak enak. Karena kampus Unissula sedang menjadi kampus perjuangan yang memperjuangkan kualitas demokrasi. Khususnya melawan yang istilah saya bau busuk nepotisme dalam Pilpres 2024. Karena sebenarnya proses reformasi telah melahirkan Undang-Undang 28 Tahun 1999,penyelenggara negara yang bebas dari KKN kolusi korupsi nepotisme. Tapi implementasi dari undang-undang ini tidak berjalan. Jadi mati suri," tegasnya. 

4. Tindakan perwira polisi sebagai operasi senyap yang sasar kampus

Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof Dr Gunarto SH MH. (www.unissula.ac.id)
Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof Dr Gunarto SH MH. (www.unissula.ac.id)

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa tindakan dua perwira polisi dan mantan rektor itu sebagai sebuah operasi senyap yang menyasar para civitas akademika di kampus-kampus. 

Dengan dimulai dari suara kritis di UGM dan saling menyaut di semua perguruan tinggi seluruh Indonesia. Oleh karenanya, adanya kejadian di kampusnya menjadi bukti nyata bila proses demokrasi yang terjadi saat ini telah menyimpang dari Pancasila. 

"Unissula baru belakangan. Ditandai dimana ada operasi senyap, operasi ke kampus-kampus yang belum menyampaikan pandangan kritis tentang demokrasi yang menjadi tadi cita-cita Pemilu mewujudkan demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," tutur Gunarto.

"Kampus-kampus merasa proses demokrasi telah menyimpang dari Pancasila. Terutama silakan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia. Yang keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," tandasnya. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More

Cara Membersihkan Talenan Kayu dari Bau Terasi dan Jamur Pakai Garam

21 Mei 2026, 20:00 WIBNews