Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Relawan Internasional Belajar Pertanian Berkelanjutan di Semarang
Anak muda dari berbagai negara mengikuti Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026 di Kota Semarang. (dok. Bhumi Horta)
  • Program Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026 menghadirkan relawan internasional untuk mempraktikkan pertanian berkelanjutan dan memperkuat kolaborasi lokal di tengah tantangan urbanisasi.
  • Selama dua pekan, relawan terlibat langsung bersama warga membangun bedengan organik dan melakukan pembibitan tanaman guna mendukung ketahanan pangan serta praktik ramah lingkungan.
  • Para relawan juga memberikan edukasi lingkungan di sekolah melalui kegiatan eco-education dan workshop bahasa, memperkenalkan konsep keberlanjutan sekaligus pertukaran budaya kepada anak-anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Ketika sebagian kota besar di Indonesia menghadapi persoalan berkurangnya ruang hijau dan tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah, sekelompok pemuda dari berbagai negara justru memilih turun ke kebun di pinggiran Kota Semarang. Mereka membangun bedengan, menyemai bibit tanaman, hingga mengajarkan pertanian berkelanjutan kepada anak-anak sekolah.

1. Relawan internasional praktikkan permakultur

Anak muda dari berbagai negara mengikuti Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026 di Kota Semarang. (dok. Bhumi Horta)

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026, sebuah program workcamp relawan internasional yang berlangsung pada 7-20 Juli 2026 di Plalangan, Semarang. Program ini menjadi ruang kolaborasi antara relawan nasional dan internasional untuk mempromosikan pertanian perkotaan berkelanjutan serta pemberdayaan masyarakat lokal di tengah laju urbanisasi yang terus menggerus lahan produktif di kawasan perkotaan.

Workcamp ini menawarkan pendekatan berbeda dalam membangun kota berkelanjutan, yakni melalui praktik permakultur atau sistem pertanian yang dirancang selaras dengan ekosistem alam.

Program tersebut diselenggarakan oleh Bhumi Horta Foundation (BHF), bagian dari Service Civil International (SCI) di Indonesia, bekerja sama dengan International Association of Agricultural Students (IAAS), dengan dukungan relawan dari Universitas Diponegoro (Undip) dan SCI Malaysia.

2. Dorong keterlibatan langsung dengan warga

Anak muda dari berbagai negara mengikuti Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026 di Kota Semarang. (dok. Bhumi Horta)

Ketua Bhumi Horta, Sany mengatakan, kegiatan ini tidak hanya mengajak relawan untuk belajar mengenai pertanian berkelanjutan, tetapi juga mendorong keterlibatan langsung mereka dalam kehidupan masyarakat.

‘’Selama dua pekan, para peserta terlibat dalam berbagai aktivitas pertanian sehari-hari bersama warga. Mereka membangun hugel bed atau bedengan organik yang memanfaatkan kayu dan material alami untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus kemampuan tanah menyimpan air,’’ ungkapnya, Jumat (17/7/2026).

Menurut Sani, teknik tersebut dinilai mampu menjadi salah satu solusi pertanian ramah lingkungan di wilayah perkotaan dan peri-urban.

Tak hanya itu, relawan juga membantu proses pembibitan tanaman yang diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat setempat.

3. Relawan berikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak

Anak muda dari berbagai negara mengikuti Semarang Urban–Peri Urban Permaculture Community Camp 2026 di Kota Semarang. (dok. Bhumi Horta)

Menariknya, kegiatan workcamp tidak hanya berlangsung di kebun. Para relawan internasional juga masuk ke lingkungan sekolah untuk memberikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak dan remaja.

‘’Mereka menggelar berbagai kegiatan eco-education dan language workshop yang memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus membuka ruang pertukaran budaya. Anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak dini sambil berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara,’’ terang Sani.

Melalui kegiatan tersebut, peserta juga saling bertukar pengalaman mengenai praktik keberlanjutan yang diterapkan di negara masing-masing. Pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih erat antara generasi muda global dengan komunitas lokal. Tidak hanya membawa pengetahuan baru, para relawan juga diajak memahami bahwa solusi atas persoalan lingkungan dapat dimulai dari skala yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article