Imbauan BMKG! Prakiraan Suhu Dieng Drop Sampai Minus Jelang Puncak Embun Upas Agustus

- BMKG memperingatkan wisatawan agar waspada terhadap penurunan suhu ekstrem di Dieng yang bisa mencapai di bawah nol derajat Celcius selama periode Juli hingga September.
- Puncak fenomena embun upas diprediksi terjadi pada Agustus, dipicu oleh aktifnya monsun Australia, minimnya tutupan awan, dan tingginya kelembapan udara di dataran tinggi.
- BMKG mengimbau pengunjung menyiapkan perlengkapan hangat seperti jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki, serta pakaian termal untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil saat berwisata ke Dieng.
Semarang, IDN Times - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan imbauan resmi bagi seluruh wisatawan yang berencana mengunjungi kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.
BMKG mengingatkan para pelancong untuk mewaspadai penurunan suhu ekstrem yang memicu kemunculan fenomena embun beku atau yang akrab disebut warga lokal sebagai embun upas. Fenomena ini diprakirakan akan terus berlangsung sepanjang periode Juli hingga September.
1. Puncak Embun Upas Diprediksi Terjadi pada Agustus

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan bahwa fenomena butiran es di permukaan ini merupakan siklus tahunan yang dinanti namun perlu diwaspadai oleh masyarakat. Berdasarkan analisis data klimatologi, BMKG memprakirakan bahwa intensitas kemunculan fenomena embun upas ini akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus mendatang.
Oleh karena itu, wisatawan diminta tidak nekat dan benar-benar mempersiapkan fisik serta pakaian pelindung yang memadai sebelum berangkat. Mengingat pada periode tersebut, suhu udara di kawasan Dieng dikonfirmasi bisa merosot tajam hingga mencapai di bawah nol derajat Celcius.
2. Rangkuman Vertikal Alasan Ilmiah Dieng Membeku

Mengapa kawasan dataran tinggi bisa mendadak menjadi dingin ekstrem di tengah musim kemarau? Yoga Sambodo membeberkan beberapa faktor klimatologis utama di balik terjadinya fenomena unik ini:
Aktifnya Monsun Australia
Secara klimatologis, tekanan udara pada periode Juni hingga September di Benua Australia terpantau lebih tinggi dibandingkan di Benua Asia.
Perbedaan tekanan ini menggerakkan angin dari Australia menuju Asia melewati wilayah Indonesia, yang umumnya menandai dimulainya periode musim kemarau seiring aktifnya monsun Australia.
Minimnya Tutupan Awan di Langit
Pada musim kemarau, tutupan awan di langit terpantau sangat minimum.
Absennya objek di langit membuat sinar matahari terasa sangat terik diiringi peningkatan suhu udara pada siang hari.
Sebaliknya, pada malam hari, radiasi panas yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi juga berlangsung optimum karena langit bebas dari tutupan awan, membuat suhu anjlok drastis menjelang subuh.
Tingginya Kadar Air di Pegunungan
Kelembapan udara di wilayah pegunungan dan dataran tinggi tergolong cukup tinggi.
Tingginya kelembapan ini menjadi indikasi kuat bahwa udara di wilayah tersebut memiliki kadar air yang tinggi, yang kemudian mengkristal saat suhu drop ke bawah 0°C.
3. Imbauan Resmi BMKG untuk Wisatawan

"Kami imbau wisatawan yang akan berkunjung selama periode Juni sampai September untuk menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal, sarung tangan, dan kaus kaki," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang, Yoga Sambodo.
Perlengkapan standar tersebut sangat krusial dipenuhi agar suhu inti tubuh tetap stabil saat berada di ruang terbuka. Tentu saja, seperti rekomendasi artikel kita tempo hari, Sedulur sangat disarankan melengkapinya dengan pakaian dalam termal (thermal underwear), kupluk wol penutup telinga, sepatu gunung anti-slip, serta membawa termos kecil berisi air jahe hangat agar perlindungan tubuhmu menjadi berlapis dan maksimal dari gempuran udara minus derajat.
























