Semarang, IDN Times - LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah mendorong kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang untuk berani berinovasi memproduksi ijazah blockchain berbahasa Inggris.
Dorongan tersebut semata untuk memudahkan para lulusan kampus tersebut bisa melalang buana ke luar negeri.
Ketua LLDikti Wilayah VI Jateng, Prof Aisyah Endah Palupi, M.Pd turut memberikan apresiasi tinggi kepada Udinus. Baginya, kehadiran teknologi ini sangat menguntungkan para lulusan dalam proses rekrutmen melalui pemindaian barcode, baik di dalam maupun luar negeri.
"Kami berharap dengan blockchain ini, ke depannya minimal ijazah bisa bersifat bilingual atau tersedia dalam Bahasa Inggris. Hal ini penting agar para lulusan bisa langsung berkiprah dan berkompetisi mencari pekerjaan di Eropa, Amerika, Australia, hingga negara lainnya," tuturnya, Kamis (30/4/2026).
Selain keunggulan teknologi, Aisyah juga memuji kualitas serapan lulusan Udinus. Berdasarkan data tracer study, diketahui bahwa rata-rata lulusan Udinus membutuhkan waktu kurang dari tiga bulan untuk mendapatkan pekerjaan, sebuah pencapaian yang dinilai sangat baik.
Sebagai informasi, wisuda ke-87 Udinus yang berlangsung selama dua hari ini meluluskan total 841 wisudawan dari lima fakultas. Mereka terdiri atas mahasiswa program diploma, sarjana terapan, sarjana, hingga program pascasarjana seperti magister dan doktor.
Kehadiran inovasi blockchain bahkan mendapat apresiasi internasional dari Igor Arkhypenko selaku Chief Information Officer Dubai Blockchain Center.
Igor menyatakan bahwa ini merupakan momen perdana di mana teknologi blockchain diimplementasikan oleh universitas untuk keperluan ijazah.
"Banyak orang mengira blockchain hanya berkaitan dengan sektor finansial atau mata uang kripto. Namun, ini menjadi kesempatan luar biasa untuk menunjukkan bahwa blockchain dapat diterapkan pada area penting seperti dokumen dan verifikasi keaslian ijazah," ujar Igor.
Menurutnya, Udinus menjadi bagian dari langkah besar yang memungkinkan mahasiswa membuktikan pencapaian mereka di belahan dunia mana pun hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini akan memangkas proses translasi serta atestasi yang rumit untuk melamar pekerjaan di luar negeri menjadi instan.
