Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Restoran Rice Pepper Scissor, Tak Sekadar Suguhkan Hidangan Nikmat

Restoran Rice Pepper Scissor, Tak Sekadar Suguhkan Hidangan Nikmat
Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)
Intinya Sih
  • Rice Pepper Scissor di Semarang mengusung konsep Asian-Australian dining dengan budaya keberlanjutan, menerapkan pengelolaan sampah dapur menjadi kompos, eco enzyme, dan produk turunan ramah lingkungan.
  • Restoran ini membangun hubungan erat dengan warga sekitar lewat program sosial seperti Godong Gedang Project serta kelas edukasi pengelolaan limbah dan memasak untuk masyarakat umum.
  • Melalui event Telaga Bodas Weekend Market dan menu khas bercita rasa bold, RPS menarik perhatian generasi muda sambil menegaskan bahwa gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Semarang, IDN Times - Bisnis food and beverage makin menjamur di Kota Semarang. Setiap hari hadir restoran dan kafe baru berlomba menghadirkan menu unik atau interior estetik untuk menarik pengunjung. 

Salah satunya Rice Pepper Scissor (RPS), restoran di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur. Namun, restoran casual dining yang mengusung konsep Asian-Australian dining itu memilih jalan berbeda. Melalui pendekatan neighborhood and community-based restaurant, RPS membangun budaya keberlanjutan dari dapur mereka sendiri.

1. Hadirkan pengalaman makan lebih mindful

RPS, cafe semarang, ramah lingkungan 1.jpg
Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)

Bukan hanya soal makanan, restoran ini mencoba menghadirkan pengalaman makan yang lebih mindful, sehat, sekaligus berdampak bagi lingkungan dan komunitas sekitar.

Pemilik RPS, Ignatius Karmelino mengatakan, bahwa ide tersebut lahir dari keresahan sederhana, yakni masih sedikit restoran di Semarang yang benar-benar menjalankan sustainability sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar kampanye sesaat.

“Kami ingin membangun culture of sustainability di level lokal. Mulainya dari hal kecil, bahkan dari dapur sendiri. Kami percaya setiap hal yang tersisa di dapur masih bisa punya hidup kedua,” ujarnya pada IDN Times, Minggu (17/5/2026).

Prinsip itu terlihat nyata dalam berbagai program yang dijalankan RPS sejak pertengahan 2025. Salah satu yang paling menonjol adalah Waste Management Program. Setiap hari, sampah di restoran dipilah menjadi organik, anorganik, dan residu. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos dan eco enzyme, sementara limbah lain disulap menjadi produk turunan seperti lilin dari minyak jelantah hingga coffee scrub dari ampas kopi.

2. Bangun hubungan dengan lingkungan dan masyarakat

RPS, cafe semarang, ramah lingkungan 10.jpeg
Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)

Bagi RPS, keberlanjutan bukan hanya urusan lingkungan, tetapi juga soal membangun hubungan dengan masyarakat sekitar. Semangat itu mereka sebut sebagai neighborhood spirit.

Sebagian besar tim RPS berasal dari lingkungan sekitar Telaga Bodas. Mereka tidak hanya bekerja sebagai staf restoran, tetapi juga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi yang diinisiasi restoran tersebut.

Salah satunya melalui program Godong Gedang Project, agenda bulanan berbagi makanan yang dibungkus daun pisang untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat sekitar dan orang-orang yang membutuhkan di area sekitar restoran.

Selain itu, RPS juga rutin menggelar Cooking Club & Waste Management Class yang terbuka untuk umum. Dalam kelas ini, peserta diajak belajar membuat mocktail, kombucha, eco enzyme, hingga coffee scrub dari bahan sisa dapur. Tidak hanya memasak, pengunjung juga dikenalkan pada cara sederhana mengelola limbah rumah tangga.

3. Sustainability itu tidak harus rumit atau mahal

RPS, cafe semarang, ramah lingkungan 5.JPG
Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)

“Kami ingin orang sadar bahwa sustainability itu tidak harus rumit atau mahal. Semua bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari,” kata lelaki yang akrab disapa Ino itu.

Upaya membangun komunitas juga diwujudkan lewat Telaga Bodas Weekend Market, sebuah event kolaboratif yang mengundang tenant lokal, komunitas seni, hingga komunitas olahraga untuk berkumpul dan berbagi karya. Program ini menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas kreatif di Semarang dalam suasana yang santai dan hangat.

Di sisi kuliner, RPS tetap menawarkan pengalaman makan yang kuat lewat menu-menu Asian dining bercita rasa bold namun familiar. Beberapa menu andalannya antara lain 24H Thai Boat Noodles, Toba Arsik Baramundi, dan Smoked Chicken Pesto.

Meski menerapkan konsep ramah lingkungan yang membutuhkan biaya tambahan dalam operasional, RPS mengaku tetap menjaga harga agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

4. Menarik perhatian kalanga muda hingga komunitas

RPS, cafe semarang, ramah lingkungan 3.JPG
Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)

“Memang ada biaya lebih untuk proses daur ulang dan pelatihan tim, tapi kami tidak ingin sustainability menjadi alasan harga makanan jadi tidak accessible,” jelasnya.

Restoran yang buka setiap hari pukul 08.00 hingga 22.30 WIB ini kini mulai menarik perhatian kalangan muda, pekerja kantoran, keluarga, hingga komunitas olahraga yang mencari tempat makan dengan suasana tenang sekaligus memiliki nilai lebih.

Bagi RPS, bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner bukan hanya soal mengikuti tren, melainkan membangun identitas yang relevan dalam jangka panjang.

“Yang membedakan kami bukan cuma rasa makanan, tapi nilai dan pengalaman yang kami tawarkan. Kami ingin jadi ruang yang hidup, tempat makan enak, pelayanan hangat, dan tanggung jawab lingkungan bisa berjalan bersama,” tutup Ino.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest Food Jawa Tengah

See More